Dirjen PRL Kunjungi Desa Pengudang, Wujudkan Penguatan Konservasi Pesisir dan Ekonomi Masyarakat

redaksi
27 Nov 2025 16:34
News Sumut 0 3
3 menit membaca

 

BINTAN, kaldera.id – Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan menjadi pusat kegiatan konservasi pesisir berskala nasional saat rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia bersama pemerintah daerah, lembaga mitra, dan organisasi lingkungan melaksanakan agenda kunjungan kerja dan peluncuran program lingkungan.

Kegiatan ini dipimpin Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kartika Listriana, ST., LPPM, didampingi Direktur Pembinaan Penataan Ruang Laut Amer Hakim, S.Pi., M.Si., serta Kepala BPSPL Padang Dr. Rahmat Irfansyah, M.Si.

Sejumlah pejabat daerah, perwakilan dunia usaha, dan organisasi lingkungan juga turut hadir, termasuk Sumitomo Indonesia, Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (Yakopi), Value Network Ventures (VNV), dan Yayasan Gajah Sumatera (Yagasu).

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, dan tari persembahan oleh pelajar Desa Pengudang. Camat Teluk Sebong membuka kegiatan dengan menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap desa kecil yang memiliki potensi ekologi besar.

Dalam sambutannya Direktur Yakopi Eling Tuhono, S.Pd., M.Si., menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat konservasi mangrove dan restorasi ekosistem pesisir, serta mendorong pemanfaatan potensi desa secara berkelanjutan.

Ketua Kelompok Mangrove dan Pokdarwis Desa Pengudang Iwan Winarto menyampaikan perjalanan ekowisata Pengudang dari tahap awal hingga berkembang saat ini, serta pentingnya merawat ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang sebagai warisan bagi generasi mendatang. Dia menekankan bahwa kemajuan desa tercapai karena kerja bersama yang konsisten.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri Dr. Said Sudrajad mengapresiasi dukungan KKP terhadap program karbon biru di wilayah Kepri dan menegaskan pengembangan ekosistem pesisir memiliki nilai strategis tidak hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Dirjen PRL Kartika Listriana menyampaikan sambutan lebih mendalam mengenai pentingnya Desa Pengudang sebagai model implementasi karbon biru berbasis masyarakat. Dia menegaskan bahwa program ke depan tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem, tetapi juga penguatan tata kelola pendanaan karbon biru.

Dia menambahkan keterlibatan pihak swasta seperti Sumitomo Indonesia menjadi contoh komitmen positif yang diharapkan dapat menarik lebih banyak pelaku usaha wisata untuk terlibat dalam pengembangan karbon biru di Indonesia. Pernyataan ini disambut baik para peserta dan pemangku kebijakan daerah.

Salah satu agenda utama kunjungan ini adalah launching bank sampah Desa Pengudang, ditandai pemotongan pita, penyetoran sampah simbolis, dan aktivasi buku tabungan sampah.

Program ini diharapkan menjadi solusi ekonomi sirkular serta mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan di desa pesisir. Rombongan juga meninjau lokasi restorasi mangrove seluas 5 hektare dengan 12.500 bibit Rhizophora sp. yang ditanam sejak April 2024 dan melakukan replanting simbolis sebagai komitmen keberlanjutan.

Kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan rencana pengembangan blue carbon berbasis lamun bersama DKP Provinsi Kepri dan BPSPL Padang, serta kunjungan edukatif ke Kampung Teripang. Peserta juga menikmati tracking mangrove menggunakan boat, eksplorasi ekowisata pesisir, serta mencicipi produk UMKM dan kopi dari coffee shop Yakopi.

Desa Pengudang dinilai sebagai lokasi representatif untuk program konservasi pesisir berbasis masyarakat karena memiliki ekosistem lengkap—mangrove, lamun, terumbu karang, dan potensi wisata alam.

Lokasi ini juga menjadi bagian dari inisiatif carbon offset dan program blue carbon “Ibu Bakau” di Kabupaten Bintan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan mendapatkan respons positif, bahkan di tengah cuaca terik.

Para pemangku kebijakan menilai bahwa inisiatif di Desa Pengudang layak diperkuat dan direplikasi sebagai model desa pesisir berbasis konservasi dan ekonomi hijau yang mendukung ketahanan ekologi serta target blue carbon Indonesia.