Prof. Anang Anas Azhar (tiga dari kanan) menerima kepemimpinan ASPIKOM Korwil Sumut usai terpilih dalam Muswil di Aula Fisip USU, Rabu (11/2/2026).MEDAN, kaldera.id – Guru Besar Komunikasi Politik dari UIN Sumatera Utara Medan, Prof. Dr. Anang Anas Azhar, MA, terpilih sebagai Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Koordinator Wilayah Sumatera Utara Periode 2026-2029, dalam Musyawarah Wilayah di Aula Fisip USU, Rabu (11/2/2026).
Prof. Anang terpilih menggantikan Prof. Mazdalifah, Ph.D yang memimpin ASPIKOM Korwil Sumut periode sebelumnya. Musyawarah ini dihadiri oleh Dewan Pakar PP ASPIKOM Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si dan Prof. Dewi Kurniawaty, Ph.D. Turut hadir 13 pengelola program studi Ilmu Komunikasi serta Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) selaku anggota ASPIKOM dan pemilik suara dalam musyawarah.
Proses sidang musyawarah dipimpin oleh Prof Iskandar dan Sekretaris siding, Dr. Maulana Andinata Dalimunthe. Sebelumnya, laporan pertanggungjawaban yang disampaikan kepengurusan sebelumnya diterima oleh peserta musyawarah. Dalam sidang pemilihan, tiga orang menyatakan siap memimpin ASPIKOM Korwil Sumut yakni Dr. Haris Wijaya, M.Comm (USU), Prof. Dr. Anang Anas Azhar, MA dan Dr. Nina Siti S Siregar, M.Si (UMA).
Dalam sesi pemilihan, kemudian dilakukan secara voting. Hasil penghitungan suara menempatkan Prof. Anang memperoleh 5 suara, Dr. Nina 5 suara dan Dr. Haris mendapatkan 3 suara. Pada akhirnya setelah dilakukan diskusi, Prof Anang dan Dr Nina sepakat untuk menyerahkan pada Prof. Anang untuk memimpin ASPIKOM Korwil Sumut tiga tahun ke depan.
Dalam sambutannya, Prof. Anang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pengurus ASPIKOM, pimpinan program studi, serta sivitas akademika yang selama ini telah berkontribusi membesarkan ASPIKOM sebagai ruang pengembangan keilmuan komunikasi. Ia menegaskan komitmennya untuk menjalankan amanah organisasi secara maksimal, terbuka, dan kolaboratif.
“ASPIKOM bukan sekadar organisasi pengelola prodi, tetapi rumah besar keilmuan komunikasi. Kami sangat membuka ruang kritik, masukan, dan gagasan dari seluruh pengelola prodi dan anggota. Kita hanya bisa maju dengan bergerak bersama,” ujar Anang.
Lebih lanjut, Anang menekankan pentingnya menghapus sekat antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta. Menurutnya, tidak boleh ada jarak atau hierarki dalam membangun kualitas pendidikan Ilmu Komunikasi. “PTN dan PTS adalah mitra strategis. Tidak boleh ada gap. Kualitas keilmuan dibangun oleh kolaborasi,” tegasnya.
Di bawah kepemimpinannya, ASPIKOM Sumut diarahkan untuk memberi warna dan nuansa akademik yang kuat, sekaligus menjadi lokomotif pendampingan program studi, khususnya dalam upaya peningkatan mutu dan akreditasi melalui LAMSPAK. ASPIKOM hadir aktif dalam penguatan tata kelola, kurikulum, dan budaya riset di setiap prodi Ilmu Komunikasi di Sumatera Utara.
Anang juga mencecah visi besar pada internasionalisasi tradisi keilmuan. Ia berharap ASPIKOM Sumut dapat menginisiasi konferensi internasional Ilmu Komunikasi, sebagai ruang temu ilmuwan, peneliti, dan praktisi lintas negara. “Kita harus membangun tradisi akademik yang menembus pasar global. Sumatera Utara menjadi ruang strategis pertumbuhan intelektual, menguatkan jejaring nasional–internasional, yang adaptif, unggul, dan berdaya saing global. Tujuannya adalah untuk lulusan-lulusan Ilmu Komunikasi dan KPI yang siap kancah persaingan dunia,” tukasnya.
Sebelumnya, Muswil ASPIKOM Sumut juga dirangkai dengan seminar nasional akademik mengenai Social Network Analysis (SNA) berbasis Big Data Media Sosial. Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UMSU, Puji Santoso, dalam paparannya menjelaskan bahwa media sosial menyediakan data aktor dan relasi yang sangat besar, bahkan mencapai ribuan hingga jutaan akun. Kondisi ini menjadikan media sosial sebagai ladang riset strategis, tetapi sekaligus menuntut metode analisis yang tepat.

Dr. Puji Santoso, memaparkan Riset Big Data.
Dalam konteks ini, big data tidak semata dipahami sebagai kumpulan data berjumlah besar, tetapi sebagai platform pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan berdampak bagi masyarakat. Big data media sosial dinilai bermanfaat untuk berbagai bidang, mulai dari komunikasi politik, hubungan masyarakat (public relations), pemasaran, kebijakan publik, hingga pemetaan opini publik.
“Big data memang bisa berdiri sendiri untuk memetakan pola dan jaringan, tetapi untuk pemahaman yang lebih mendalam tetap diperlukan validasi dan triangulasi melalui wawancara, FGD, atau metode kualitatif lainnya,” jelas Puji Santoso.
Diskusi juga memperkenalkan berbagai perangkat lunak pendukung riset SNA, seperti NodeXL Pro, Gephi, hingga DroneEmprit, yang dapat membantu peneliti dalam proses pengumpulan data, analisis jaringan, analisis konten, visualisasi, dan pelaporan hasil riset.(reza/red)