Interaksi Antrapribadi Kita Pasca Covid-19, Perspektif Komunikasi Lintas Budaya

Fakhrur Rozi.
Fakhrur Rozi.

Oleh: Fakhrur Rozi

A. Pendahuluan

Ketika saya menuliskan artikel ini, kita semua berada dalam cengkeraman isu virus corona (covid-19). Fisik dan non-fisik kita terkuras memikirkan Covid-19. Tanpa disadari, covid-19 juga mengubah kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari. Dalam kaitan komunikasi lintas/antar budaya, situasi tersebut sangat menarik untuk kita amati.

Kita semua mengetahui bahwa kebudayaan berkaitan dengan persepsi dan kemudian memengaruhi interaksi/komunikasi interpersonal (antarpribadi) kita dengan sesama. Kita menyadari, bahwa aksioma komunikasi menyatakan, bahwa manusia tidak dapat tidak berkomunikasi. Kondisi itu juga yang menyebabkan, meski kita diminta untuk tetap di rumah, menjauhi keramaian, secara psikologi kita tetap terdorong untuk menepis itu semua. Tentu saja dengan kadar yang berbeda-beda. Paling tidak, kita ‘memaksa’ untuk tetap terkoneksi dengan media sosial.

Komunikasi Interpersonal merupakan komunikasi yang dilakukan antara dua orang atau lebih dan saling mempengaruhi, mendengarkan, memberikan pernyataan, saling terbuka, kepekaan yang adalah cara paling efektif dalam merubah sikap, opini dan tingkah laku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung. Joseph A. DeVito (2013), komunikasi interpersonal adalah interaksi verbal dan nonverbal antara dua (atau kadang-kadang lebih dari dua) orang yang saling tergantung satu sama lain. Itu kita lakukan untuk mengenal dunia luar, menjaga relasi, membentuk citra diri, mengubah sikap, hingga bermain dan kesenangan.

B. Covid-19 sebagai Budaya Baru?

Eksistensi Covid-19, tak diragukan lagi. Dunia mengakui kedigdayaan virus corona jenis baru itu. Pemerintahan di seluruh dunia, ramai meminta warganya untuk mengisolasi diri secara mandiri, menjauhi keramaian dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. World Health Organization (WHO) pun mengampanyekan social distancing (lalu menjadi physical distancing). Dunia pun membuat skema baru tentang sistem kesehatan. Yuval Noah Harari (2020), memprediksi ini juga bisa saja mendorong perubahan besar dalam sistem ekonomi, politik dan kebudayaan umat manusia.

Dalam konteks ini, saya merasa budaya manusia mengalami pergeseran atau perubahan sementara waktu. Awalnya, mungkin hanya kebiasaan yang berubah tapi jika Covid-19 terus saja jadi pembicaraan warga dunia, bukan tidak mungkin akan mengubah kebudayaan atau terjadi pengembangan kebudayaan. Kita bisa menganalisis lewat tujuh unsur kebudayaan universal. Pertama, sistem religi; umat manusia sudah diminta untuk menghindari ibadah di rumah ibadah. Sistem mata pencaharian; pedagang mungkin hanya dapat berjualan secara online, biasa jualan tisu beralih jualan masker dsb.

Bahasa; sejumlah kata memiliki makna baru di masyarakat, seperti isolasi misalnya. Sistem pengetahuan; pun terkena dampak Covid-19, misalnya kita jadi tahu ternyata Bayclin (pemutih pakaian) juga bisa disemprotkan di permukaan lain, sebagai disinfektan. Sistem peralatan hidup dan teknologi pun juga berubah. Anda pasti sadar, setelah ada Covid-19, di rumah atau di kantong Anda, ada hand sanitizer dll. Itu semua gambaran terjadi perubahan atau pergeseran kebiasaan di masyarakat. Dapat dikatakan sementera, Covid-19 telah membentuk suatu cara hidup baru yang berkembang di masyarakat.

BACA JUGA :  KONI Medan Siap Masuki New Normal

C. Interaksi Interpersonal Kita Sekarang

“Dari mana, cuci tangan dulu. Atau pakai hand sanitizer ini,” kata seseorang saat bertemu dengan temannya yang lain di sebuah tempat. Tak lama, dia berkata lagi, “Kok tak pakai masker kau? Bahaya kali kau ah,” ucapnya. Percakapan semacam pasti sering Anda dengar, di berbagai tempat bahkan. Di sisi non verbal, saat ini jika Anda batuk atau bersin atau pilek, di tempat umum, Anda dapat dipastikan menjadi pusat perhatian. Saat ini, jika Anda ke rumah ibadah (masjid), saat masuk Anda cuci tangan, keluar pun Anda cuci tangan. Mencuci tangan juga aktivitas komunikasi non-verbal. Kebiasaan kita, sementara berubah. Jadi Anda tak perlu gelisah.

Dalam pandangan Komunikasi Lintas Budaya, bahwa komunikasi terjadi di antara orang yang berbeda budaya, dan kemudian komunikasi dilakukan untuk memahami dan saling pengertian antara khalayak yang berbeda kebudayaan itu. Dialog di atas misalnya, dapat dikatakan sebagai upaya mencari kesamaan antara orang yang terlibat dalam komunikasi, dan mendorong pembentukan kebudayaan yang sama, Anti Covid-19. Harus pula dipahami, bahwa komponen kebudayaan kita berbeda-beda. Karena itu, ada beberapa pertimbangan yang harus dimiliki untuk mengurangi potensi salah komunikasi.

1. Kewaspadaan

Dalam setiap interaksi lintas budaya, penting bagi kita untuk waspada. Mau menerima informasi baru dan menyadari bahwa orang lain mungkin tidak setuju perspektif kita. Menjadi waspada juga melibatkan kewaspadaan dalam menggunakan bahasa kedua, baik secara fisik maupun kognitif dibandingkan berbicara dalam bahasa asli seseorang. Soal mencuci tangan misalnya.

2. Kosakata dan Kecepatan Berbicara

Menentukan tingkat kosakata pembicara bahasa kedua juga penting. Sampai kita yakin bahwa orang lain telah memiliki kemampuan bahasa kedua yang cukup, kita harus menghindari kosakata tertentu, kata-kata teknik, dan singkatan. Seperti Covid-19, Lockdown, dsb. Kemudian cara mengucapkannya pun jangan pula terlalu cepat. Samovar (2010) juga mengingatkan, lelucon tidak melintasi budaya. Jadi apa yang kita anggap lucu, mungkin saja dianggap kasar di budaya lain.

3. Umpan Balik Non-verbal dan Pemeriksaan

Ketika berinteraksi dengan seseorang yang menggunakan berbeda budaya, kita perlu hati-hati terhadap respon non verbalnya. Dalam situasi antarbudaya, kita harus waspada terhadap perbedaan budaya dalam isyarat non-verbal. Misalnya, jika Anda berkomunikasi dengan seorang yang tidak paham kesehatan (awam), lalu dia menertawakan Anda saat berbicara tentang hand sanitizer, sementara Anda merasa itu tidak lucu. Mungkin itu dikarenakan dia tidak mengerti apa yang Anda bicarakan.

Selanjutnya, pemeriksaan ini berarti kita harus melihat ukuran yang dapat membantu meyakinkan, apakah rekan bicara kita mengerti ukuran pesan kita. Dengan cara ini kita bertanggungjawab pada pembicaraan tersebut dan hindari setiap hal yang membuat orang lain malu. Janganlah sudah hidup di tengah wabah, kita pula jadi bergaduh.(*)

Penulis adalah staf pengajar pada Prodi Ilmu Komunikasi FIS UIN Sumatera Utara