Bobby Nasution saat menerima kunjungan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato’ Muzafar Shah Mustafa, di Aula Tengku Rizal Nurdin, Medan, Sabtu (10/10/2026).
MEDAN, kaldera.id – Pelaku UMKM Sumatera Utara berpeluang memperluas pasar ke Malaysia tanpa harus menunggu barang terkumpul dalam jumlah besar.
Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution mengusulkan pengiriman laut dengan muatan lebih kecil tetapi berfrekuensi tinggi, disertai subsidi logistik untuk menekan biaya ekspor.
Usulan itu disampaikan Bobby saat menerima kunjungan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato’ Muzafar Shah Mustafa, di Aula Tengku Rizal Nurdin, Medan, Sabtu (10/10/2026).
Bobby menilai, besarnya potensi UMKM Sumut belum sepenuhnya diikuti kemudahan pengiriman ke pasar luar negeri. Persyaratan kuantitas besar dalam satu kali pengiriman menjadi salah satu kendala yang dapat membebani pelaku usaha kecil.
Karena itu, ia mendorong skema pengiriman yang lebih fleksibel, dengan jadwal rutin agar produk bisa dikirim tanpa harus menunggu stok menumpuk.
“Kita usulkan pengiriman dalam volume yang tidak terlalu besar tetapi lebih sering, misalnya lima hari sekali atau seminggu sekali. Dengan begitu, pelaku UMKM tidak perlu menumpuk stok terlalu lama dan perputaran modal mereka bisa lebih cepat dan dinamis,” ujar Bobby.
Pemprov Sumut, lanjutnya, menyatakan kesiapan memberikan subsidi pada sektor transportasi laut lintas negara untuk membantu menekan biaya logistik produk UMKM. Skema ini diharapkan membuat akses pasar Malaysia lebih terbuka bagi pelaku usaha lokal.
Bobby juga menilai kedekatan geografis Sumut dengan Malaysia sebagai keunggulan yang perlu diterjemahkan menjadi peluang perdagangan konkret. Selain perdagangan, kerja sama kedua pihak juga berpotensi diperluas ke pengembangan sumber daya manusia dan kawasan industri.
“Jarak kita sangat dekat, bahkan beberapa daerah di Sumut lebih cepat dijangkau dari Kuala Lumpur dibanding Jakarta. Keunggulan geografis ini harus kita konversikan menjadi peluang ekonomi nyata bagi masyarakat di kedua wilayah,” katanya.
Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato’ Muzafar Shah Mustafa, menyambut baik usulan jalur laut dan subsidi logistik tersebut. Ia menyatakan pihaknya akan mendiskusikan mekanisme teknis bersama pihak terkait, termasuk dari sisi regulasi dan kemungkinan kerja sama dengan sektor swasta di Malaysia.
Muzafar menyebut Sumut sebagai salah satu pintu masuk strategis bagi Malaysia di Indonesia. Menurutnya, hubungan kedua pihak tidak hanya mencakup perdagangan, tetapi juga perkapalan, pariwisata medis, dan pendidikan.
“Sumatera Utara memiliki kepentingan yang sangat besar bagi Malaysia, baik dari aspek perdagangan, perkapalan, hingga pariwisata medis dan pendidikan. Kami menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin sangat baik selama ini,” ujarnya.
Ia menyebut nilai perdagangan Indonesia–Malaysia hampir mencapai US$26 miliar, sementara kontribusi perdagangan Sumut disebut berada pada kisaran US$1 miliar hingga US$2 miliar.
Meski mendapat sambutan positif, usulan jalur laut dan subsidi logistik tersebut masih memerlukan pembahasan teknis. Rincian rute, besaran subsidi, jadwal pengiriman, dan mekanisme pelaksanaannya belum diumumkan dalam pertemuan tersebut.
Selain perdagangan, pertemuan itu turut membahas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak asap lintas negara.
Bobby mengatakan kondisi cuaca dan penanganan karhutla di Sumut tahun ini relatif baik. Ia menyebut tidak ada karhutla di Sumut yang mengirimkan asap ke Malaysia.
“Alhamdulillah, tahun ini tidak ada kebakaran hutan dan lahan di Sumut yang mengirimkan asap ke Malaysia. Meskipun ada kiriman asap tipis dari daerah lain, curah hujan di Sumut saat ini masih lumayan baik,” kata Bobby.
Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen untuk melanjutkan koordinasi dan memperkuat hubungan Malaysia–Sumut, termasuk dalam isu lingkungan regional. (Reza)