PSMS Tumbang di Pekanbaru, Pelatih Bongkar Biang Kerok Kekalahan

redaksi
11 Okt 2026 22:01
3 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – PSMS Medan pulang dari markas PSPS Pekanbaru dengan tangan hampa. Bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-31 akibat kartu merah Ridzar Nurviat, Ayam Kinantan akhirnya takluk 1-2 dalam lanjutan Pegadaian Championship 2026/2027 di Stadion Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, Minggu (11/10/2026).

Gol Hamzah Deva pada menit ke-82 memupus harapan PSMS membawa pulang poin. Kekalahan ini sekaligus membuat PSMS kehilangan puncak klasemen sementara Grup A, yang kini dikuasai PSPS dengan 11 poin. PSMS berada di posisi kedua dengan 10 poin.

Pelatih PSMS, Eko Purdjianto, mengakui kartu merah yang diterima Ridzar mengubah rencana permainan timnya. Kehilangan satu pemain sejak babak pertama membuat PSMS harus bekerja lebih keras untuk meredam tekanan tuan rumah.

“Pertama, apresiasi buat PSPS Pekanbaru yang menang dengan skor 2-1. Kami kesulitan di babak pertama karena sekitar menit ke-30 sudah bermain dengan 10 pemain. Kami berusaha mempertahankan hasil seri, tetapi yang terjadi justru kalah 2-1,” kata Eko seusai pertandingan.

PSPS sebenarnya tidak langsung mampu memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Hingga babak pertama berakhir, skor masih imbang tanpa gol meski tuan rumah memiliki kesempatan menekan pertahanan PSMS.

Kebuntuan baru pecah tiga menit setelah babak kedua dimulai. Dimas Wicaksono membawa PSPS unggul 1-0 pada menit ke-48.

PSMS tak tinggal diam. Javier Siverio menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-59 lewat sundulan yang memanfaatkan sepak pojok Phillerson Oliveira. Gol tersebut menghidupkan kembali harapan tim tamu untuk mencuri poin di Pekanbaru.

Namun, perjuangan PSMS akhirnya kandas. Pada menit ke-82, Hamzah Deva mencetak gol yang mengubah skor menjadi 2-1 untuk PSPS. Upaya PSMS mengejar gol penyeimbang hingga peluit panjang tak membuahkan hasil.

Eko menilai timnya sempat mampu mengantisipasi permainan lawan sebelum kehilangan Ridzar. Namun, kartu merah memaksanya mengubah pendekatan permainan di tengah pertandingan.

“Kami sebenarnya sudah bisa mengantisipasi permainan di babak pertama sebelum kartu merah terjadi. Namun, apa boleh buat, kami mendapatkan situasi yang tidak diinginkan dan harus bermain dengan 10 pemain,” ujarnya.

Eko juga menyoroti gol penentu PSPS yang tercipta ketika timnya berusaha menjaga hasil pertandingan. Ia bertekad membenahi kekurangan PSMS sebelum menghadapi Semen Padang pada Sabtu (17/10/2026).

Bukan hanya Eko, Siverio juga mengakui kehilangan satu pemain terlalu dini membuat perjuangan PSMS semakin berat. Meski mampu menyamakan kedudukan, PSMS gagal mempertahankan keseimbangan permainan hingga akhir laga.

“Kami tidak memainkan pertandingan yang buruk, tetapi memang sangat sulit ketika harus bermain dengan 10 pemain terlalu awal. Kami bermain bagus di babak kedua, mencetak gol penyeimbang, lalu ketika berupaya mencetak gol kedua, kami mendapatkan serangan balik dan kecolongan,” ujar Siverio.

Striker asal Spanyol itu turut menyoroti persoalan kartu merah yang berulang dalam laga tandang PSMS. Menurutnya, masalah tersebut harus segera dibenahi agar tim tidak terus kehilangan peluang meraih poin.

“Kami sudah memainkan tiga pertandingan tandang dan mendapatkan tiga kartu merah. Situasi ini sangat sulit untuk mencapai hasil yang kami harapkan. Kami harus memperbaiki kesalahan ini, dan saya rasa ke depannya akan menjadi lebih baik,” ucapnya.

Kekalahan di Pekanbaru menjadi peringatan bagi PSMS. Selain kehilangan puncak klasemen, Ayam Kinantan harus segera membenahi disiplin pemain agar insiden kartu merah tidak kembali merusak rencana permainan pada laga berikutnya. (Reza)