Site icon Kaldera.id

Menantang Penyebaran Virus Demi Rp300 Ribu

MEDAN, kaldera.id – Penyaluran Bantuan Sosial Tunai (BST) sebesar Rp300. 000 di Jambur Bukit Permai, Kecamatan Medan Tuntungan, Minggu (30/8/2020) tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Masyarakat berdesakan untuk mengambil bantuan pemerintah tersebut.

Selain tidak memperhatikan jarak, sebagian besar warga yang datang tanpa menggunakan masker. Parahnya lagi Medan Tuntungan masuk zona merah. “Sudah tidak lagi ni bang. Desak-desakan. Kena corona pula awak,” ungkap Dwi, salah satu warga Medan Tuntungan yang ikut mengantri pengambilan BST ini kepada kaldera.id.

Akibat situasi ini, dirinya bersama sebagian warga lainnya harus pulang. Sebab, situasi sudah tidak memungkinkan untuk mengantri. Camat Medan Tuntungan, Topan Ginting yang dikonfirmasi mengungkapkan, pihaknya sudah berulang kali mengingatkan, bahkan menyurati PT Pos selaku penyalur BST untuk memperhatikan protokol kesehatan dalam penyaluran BST.
“Sudah kami ingatkan berulang kali. Bahkan, sudah kami surati. Tapi kondisinya tetap begitu juga,” jelasnya singkat melalui pesan Whatsapp.

Wakil Kepala PT Pos Indonesia Kota Medan, Erwan saat dikonfirmasi melalui sambungan telephone seluler mengungkapkan, proses penyaluran dilakukan bergelombang. Sesuai kelurahan/desa. Tujuannya agar tidak terjadi tumpukan massa. Selain itu, dipasang tali untuk menjaga jarak satu sama lain dan disediakan hand sanitizer.

“Paginya masih tertib. Begitu siang. Mulai tidak terkontrol lagi. Warga berdesakan untuk diproses lebih cepat. Akibatnya tumpukan massa tidak terhindar. Sekarang saya hentikan. Saya akui, ada beberapa daerah yang susah kami atur,” jelasnya.

Dia menjelaskan, penyaluran BST ini juga harus tuntas sampai 4 September 2020 mendatang. Untuk Kota Medan dan Deliserdang sebanyak 85 ribu orang yang mendapatkan. Pencairan langsung diberikan pihak PT Pos Indonesia. Tidak melalui bank. Melalui bank orang -orang yang berbeda.

“Intruksi dari pusat, 4 September harus tuntas. Makanya, kami kejar. Dalam satu hari bisa sampai beberapa gelombang. Kami sudah berusaha tetap mengedepankan protokol kesehatan. Namun, namanya warga. Mau gimana lagi,”tambahnya.(reza sahab)

Exit mobile version