Site icon Kaldera.id

Menristek Ungkap Penyebab Minimnya Riset

Menteri Riset & Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro.(Lp6)

Menteri Riset & Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro.(Lp6)

JAKARTA, kaldera.id- Menteri Riset & Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro membeberkan penyebab minimnya riset dan inovasi teknologi di Tanah Air yang berimbas pada melambatnya roda perekonomian.

Bambang mengatakan kendala pertama yang adalah minimnya kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) baik dari sisi kualitas maupun kuantitas dibandingkan dengan negara maju.

“Baik dari jumlah kualitas, memang belum standar dibandingkan perkembangan negara maju. Kita bicara peneliti berkualifikasi S3, rasio SDM, peneliti terhadap jumlah penduduk dan produktivitas peneliti,” kata Bambang kepada awak media di Kantor Badan Pengkajian dan Penelitian (BPPT), Jakarta, Senin (24/2/2020).

Bambang juga mengatakan anggaran riset Indonesia saat ini mencapai 0,25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut jauh dibandingkan negara Korea Selatan dengan angka 4 persen dari PDB.

Bambang mengatakan minimnya anggaran dari PDB tersebut diperparah dengan fakta bahwa 80 persen anggaran riset berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Perusahaan swasta hanya menyumbang 20 persen anggaran. Padahal, bagi Bambang, perusahaan berperan penting untuk membuat riset yang mampu menjawab kebutuhan pasar. Sebab, perusahaan dianggap mengetahui situasi dan kondisi pasar.

“Dengan minimnya anggaran itu 80 persen dari APBN. Hanya 20 persen dari swasta. Yang terkait dan sibuk riset di sini adalah pemerintah,” ujar Bambang.

Bambang mengatakan perusahaan mampu membuat sebuah riset yang tepat sasaran memberikan dampak ekonomi dan mampu menjawab kebutuhan pasar.

Berbeda dari Indonesia, anggaran riset negara Korea Selatan, Jepang dan Thailand justru didominasi oleh swasta.

“Beda dengan Jepang, Korea, Thailand yang dominasi swasta, 70 sampai 80 persen. Itu ideal karena perusahaan tau kebutuhan di pasar yang butuh riset dan inovasi,” kata Bambang. (cnn/finta rahyuni)

Exit mobile version