Tita Shavira, Dulu Duta Wisata Kini Jadi Sarjana

Tita Shavira Harahap diapit kedua orangtuanya Muhammad Taufik Harahap dan Sukenti.
Tita Shavira Harahap diapit kedua orangtuanya Muhammad Taufik Harahap dan Sukenti.

SATU dari 1.580 orang lulusan Universitas Negeri Medan (Unimed) yang paling berbahagia hari ini karena menjadi wisudawati adalah Tita Shavira Harahap. Gadis kelahiran Tanjung Morawa, Deliserdang, 22 tahun lalu resmi menyandang gelar Sarjana Manajemen setelah diwisuda Rektor Unimed Dr. Syamsul Gultom secara online (dalam jaringan), Rabu (17/2/2021).

Mengambil konsentrasi di bidang SDM (sumber daya manusia), Tita, begitu sapaan akrabnya, menyelesaikan studi S1 dengan judul skripsi pengaruh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap kinerja karyawan pada Garuda Plaza Hotel Medan.

Kebahagiaanya tentu terasa lengkap karena menyelesaikan studi dalam kurun waktu 4 tahun. Namun tentu tak banyak yang tahu kiprah dan aktivitas mahasiswa Fakultas Ekonomi Unimed stambuk 2016 ini di luar kampus.

Sebenarnya ketepatan waktu menyelesaikan sarjana patut diapresiasi. Bagaimana tidak karena selama ini Tita banyak mengikuti dunia modelling bahkan sejak SD.

Maka potensi diri yang dimilikinya sejak kecil banyak disalurkan saat kuliah. Sehingga dia harus pintar membagi waktu antara kuliah dan mengikuti berbagai perlombaan model, serta fashion show.

Putri satu-satunya dari pasangan Muhammad Taufik Harahap dan Sukenti menyatakan rasa syukurnya setelah di wisuda. Dia ingat bagaimana dulu harus menempuh perjalanan Tanjung Morawa-Unimed dengan sepedamotor atau angkutan umum. Seringkali juga sehabis kuliah harus rela berbagi waktu dengan mengejar berbagai lomba model dan fashion.

Untung saja Sukenti, ibu Tita, selalu mendampingi kemanapun dia pergi. “Ya sejujurnya saya punya mama dan papa yang luar biasa. Mereka yang membesarkan, mendampingi dan melindungi saya di setiap langkah dan perjalanan. Semua yang saya lakukan juga tak ingin membuat mereka kecewa sedikitpun,” katanya, kepada media, di Medan, Rabu (17/2/2021).

Selalu didampingi ibu

Diakuinya jika bukan tanpa pendampingan ibu yang harus rela menemaninya kemanapun, dunia modelling yang digelutinya tak akan bisa membuatnya berkiprah maksimal. Totalitas dan pendampingan ibu pula yang membuatnya mendapatkan prestasi cukup membanggakan pada beberapa event.

Di 2017, Tita Shavira terpilih sebagai juara 2 Duta Wisata Deliserdang. Karena itu dia diutus ikut ajang Putri Pariwisata Sumut 2018. Di event ini dia menyabet juara ketiga setelah bersaing dengan utusan dari kabupaten kota se-sumut. Menurutnya, ini salah satu prestasi membanggakan.

BACA JUGA :  Proyeksikan Masa Depan, FE Unimed Kembangkan Kurikulum Berbasis OBE

“Karena sejak kecil memang aku menyukai dunia model,” tuturnya. Di atas lemarinya berjejer puluhan piala dan penghargaan bukti prestasi berbagai ajang. Hampir semua event yang diikuti cukup menantang dan selalu mendapat kesempatan sejak bergabung dengan manajemen Barbie Cia Production pada 2016.

Momen berkesan

Ditanya momen-momen penting saat jadi model, Tita mengaku memang ada beberapa kejadian. Kalau yang paling susah itu jalan di atas catwalk dengan sepatu high heels 17 cm. “Ini sulit sebenarnya, tapi kita harus mampu saat tampil di depan publik dan audiens,” katanya.

Jika itu yang tersulit, maka momen lain yang membahagiakannya adalah ketika bisa membawakan baju apa saja yang diberikan disainer. Tita juga sempat merasakan kesan terindah ketika ikut dalam fashion show bertema Volume Indonesia dengan membawakan pakaian disainer Junot Hutabarat bertema Marsonang-sonang Collection.

Ada banyak hal positif yang dialaminya dengan menggeluti dunia model. “Paling tidak menambah pengalaman dan melatih kemampuan. Memperbanyak teman dan relasi. Bahkan juga belajar tampil di depan publik dengan harus percaya diri,” kata Tita Shavira.

Dari pengalaman dan prestasi itu juga yang menurut dia membuatnya bisa diterima bekerja di Kantor Bupati Deliserdang bagian protokoler. “Ini juga menjadi bagian rasa syukur terdalam karena sudah bisa bekerja sebelum meja hijau,” tutur pelatih tari di salah satu sanggar ini sebelum jadi model.

Jaga diri, jaga sikap

Dia mengaku semua baru awal, perjalanan hidup juga masih panjang. Tapi dengan menyelesaikan sarjana di tengah kegiatannya mengikuti aktivitas model membuatnya makin yakin pentingnya manajemen waktu dan menata diri. Orang mungkin punya pandangan berbeda soal dunia model. “Tapi semua akan kembali ke diri dan sikap kita. Orang akan melihat dan menilai bagaimana kita bersikap dan bagaimana kita melangkah. Hidup hanya sekali jadi harus berarti,” katanya tegas.

“Jangan sampai karena sibuk di fashion dan model lalu persepsi orang berkembang kemana-mana. Itu yang harus kita jaga. Dan alhamdulillah selalu didampingi mama yang akan ikut saya kemanapun melangkah,” tuturnya haru.

Cita-citanya masih panjang dan dia berharap terus mendapat banyak bimbingan, pengelaman dan kemudahan dalam hidup. Pertanyaan terakhir: “Sudah punya pasangan…?”
(armin nasution)