Electrifying Agriculture, Peta Jalan Petani Kita Menyongsong Kedaulatan Pangan

Kebun hidroponik (green house) Dekan FE Unimed Prof. Dr. Indra Maipita (kiri) di Komplek Perumahan Dosen Griya Unimed Medan. Konsep modernisasi pertanian dengan electrifying agriculture ini diharapkan mendorong produkvitas usaha tani.
Kebun hidroponik (green house) Dekan FE Unimed Prof. Dr. Indra Maipita (kiri) di Komplek Perumahan Dosen Griya Unimed Medan. Konsep modernisasi pertanian dengan electrifying agriculture ini diharapkan mendorong produkvitas usaha tani.

 

Medan, kaldera.id – BAYANG-BAYANG gagal panen akibat hama yang menyerang petani jeruk di Desa Silimakuta, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara perlahan sirna. Tatapan pesimis, khawatir dan ragu kini perlahan hilang. Padahal dulunya di lahan jeruk madu dengan produksi 44 ribu ton itu potensi gagal panen bisa mencapai 30 persen akibat serangan lalat buah.

Hama menjadi predator utama. Jika serangan lalat buah tak bisa dikendalikan, para petani di daerah itu akan merana. Begitu gagal panen, semua kerja keras yang mereka lakukan hilang begitu saja. Apalagi selama ini petani jeruk mengusir hama hanya dengan pola tradisional.

Mengisi botol air mineral dengan berharap lalat buah terperangkap atau malah menjauh. Bahkan jika malam tidak ada penerangan di dalam kebun. Melihat hal itulah kemudian PLN mendorong modernisasi tata kelola kebun jeruk tersebut. Dengan menerapkan konsep electrifying agriculture, akhirnya di kebun jeruk tersebut dipasang lampu penerangan yang positif mengusir lalat. Bahkan saat malam, para petani tak perlu kuatir lagi.

Lampu-lampu yang dipasang di lahan perkebunan juga mengurangi penggunaan pestisida secara signifikan, sehingga meningkatkan kualitas jeruk. Keuntungan lain, sentra perkebunan jeruk itu bisa menjadi kawasan agrowisata. Lampu light trap yang terang nantinya menarik masyarakat untuk datang melihat malam yang eksotis dan indah.

David Purba, petani jeruk di Desa Silimakuta, Simalungun, mengungkapkan pemasangan lampu di perkebunan jeruk milik petani telah menghilangkan potensi gagal panen akibat lalat buah. “Bagaimana pun ini terobosan. Karena energi listrik ternyata menjawab kekhatiran petani. Tentu kami berterimakasih kepada PLN atas inisiatif dan solusi yang diberikan,” kata David Purba kepada media baru-baru ini.

Modernisasi pertanian

Apa yang didapatkan petani jeruk di Silimakuta memang bagian dari electriying agriculture yang digagas PLN secara nasional. Program ini secara umum menjadi upaya modernisasi para petani memanfaatkan energi listrik.

Electrifying agriculture bahkan sudah mendapat dukungan penuh dari Menteri BUMN Erick Thohir sehingga dikembangkan dari Aceh hingga Papua. Di Sumatera Utara pun, para petani secara bertahap mulai mengadopsi perkembangan tersebut. Di berbagai lahan perkebunan dan konsep pertanian modern seperti kebun hidroponik sudah menggunakan tenaga listrik.

Termasuk di kawasan Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Pollung, Humbang Hasundutan. Di lokasi ini PLN komit mengalirkan listrik yang andal dan terjaga selama 24 jam untuk membantu petani.

Program ini pun secara serentak berjalan di seluruh daerah. Menurut keterangan PLN, electrifying agriculture mulai Aceh hingga Papua beragam bentuk. Misalnya petani beralih dari penggunaan pompa dan mesin penggilingan berbahan bakar diesel ke listrik.

Selain itu ada petani bawang merah yang mengadopsi teknologi penangkap hama berbasis lampu yang didukung listrik PLN. Salah satunya petani bawang merah di Brebes lewat program Si Kumbang (solusi kWh meter untuk petani bawang).

Ada pula cerita sukses petani bunga krisan di Tomohon menggunakan rekayasa teknologi lampu hingga peternak ayam yang menggunakan sistem kandang tertutup (closed house) meningkatkan produktivitas mereka.

PLN berpartisipasi aktif di program ini untuk mengurangi biaya operasional dan meningkatkan produktivitas petani. Sisi lainnya memudahkan petani go digital untuk menjual produknya di marketplace. Bahkan di wilayah Indonesia Timur ada juga Anjungan Listrik Mandiri (ALMA) pertama. ALMA di Maluku dan Maluku Utara diarahkan mendukung pelaku usaha sektor perikanan dan kelautan melalui program electrifying marine.

Inovasi sektor pertanian memang diharapkan mempercepat peralihan energi berbahan fosil ke energi listrik ramah lingkungan dan efisien. Selain itu, tentu lewat program ini diharapkan sektor agrikultur di dalam negeri semakin cepat mengalami modernisasi dan memperkuat ekonomi digital Indonesia.

Soal hitung-hitungan efisiensi tentu sudah terbukti jauh lebih baik dibanding pola tradisional atau dengan memanfaatkan sumber energi selain listrik. Pelanggan electrifying agriculture pun telah mencapai 148.290 pelanggan di Indonesia dengan daya terpasang 2.553 MVA hingga akhir September 2021.

Operasional hemat, untung berlipat

Tingginya antusiasme menjadi bukti electrifying agriculture berhasil meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha petani, peternak, serta usaha perikanan. PLN mencatat rata-rata penghematan biaya operasional usaha agrikultur dapat mencapai 60 persen.

Banyak yang sudah menceritakan pengalamannya terkait efisiensi. Mayoritas petani telah beralih menggunakan pompa dan mesin penggilingan padi listrik, petani bawang merah mengadopsi teknologi perangkap hama berbasis lampu, petani kebun buah naga menggunakan rekayasa teknologi lampu (light trap) hingga peternak ayam yang menggunakan sistem kandang tertutup (closed house), kemudian pengembangan tanaman hidroponik juga fokus menggunakan listrik.

Bahkan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo yang waktu itu masih menjabat wakil direktur saat melaunching buku petani cerdas 4.0: go modern, go electrifying sempat bercerita. Dia mengungkapkan sudah merasakan sendiri manfaat dari electrifying agriculture. Darmawan berkisah pengalaman ibunya di Yogyakarta yang beralih menggunakan mesin penggilingan padi berbasis energi listrik.

Sebelumnya, mesin penggilingan padi diesel diandalkan sang ibu. Sejak menggunakan mesin penggilingan padi listrik, produktivitasnya naik menjadi 5 ton per jam dari sebelumnya 7 ton per hari. “Penghasilan ibu saya pun naik menjadi Rp14 juta per bulan dari Rp4,5 juta per bulan. Ini betul-betul membantu petani,” ujarnya.

Lain lagi cerita Prof. Indra Maipita. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Medan (Unimed) ini membudidayakan hidroponik di lantai dua pekarangan rumahnya dengan jumlah lobang tanam lebih dari 1.000. Memang kelihatan aneh, profesor jago matematik malah hobi bercocok tanam.

Konsep hidroponiknya mengandalkan tenaga listrik. “Ini semua sayur terutama kangkung yang siap panen dalam kurun waktu tiga minggu menggunakan listrik untuk menjaga pasok air ke akar tanaman,” katanya, Sabtu (18/12/2021), di rumahnya. Dia merintis dan merancang semua alur air, lobang tanam serta pasok listrik. Memang lahan atas rumahnya sudah menjadi green house.

“Baru dimulai beberapa bulan. Tapi saya yakin ke depan punya nilai ekonomi sangat tinggi. Pola tanamnya bersih dan penggunaan listrik juga hemat. Seharusnya cara tanam seperti ini bisa jadi main income keluarga atau juga income generate. Saya baru mencoba tapi pasti nanti menghasilkan,” jelasnya.

Menurut guru besar FE Unimed ini, sektor pertanian memang harus terus dijadikan prioritas dalam pembangunan. “Pada akhirnya sektor inilah yang menyokong perekonomian. Sejak orde lama, orde baru, periode krisis 1998 bahkan ketika pandemi,” tuturnya.

Prof. Indra Maipita mengatakan saat sektor lain mengalami kontraksi saat pandemi, pertanian malah tumbuh positif. “Semua sektor dan lapangan usaha negatif selama pandemi. Tapi pertanian tumbuh sendirian, jelasnya.

Pandemi, pertanian tetap tumbuh

Apa yang disampaikan Prof. Indra Maipita sejalan dengan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS). BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh positif 3,51 persen secara year on year (y-on-y). Pertanian tercatat sebagai salah satu sektor pertanian yang konsisten berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama kala pandemi.

“Pada triwulan III/2021 ini, sektor pertanian tumbuh 1,35 persen. Secara ekonominya, 66,42 persen produk domestik bruto berasal dari industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambahan,” sebut Kepala BPS Margo Yuwono, saat konferensi pers secara daring, Jumat (5/11/2021).

Berdasarkan catatan BPS tahun lalu, sektor pertanian disebut tetap mengalami pertumbuhan positif sebesar 16,24 persen secara quarter to quarter (q-to-q) dan 2,19 persen secara y-on-y di triwulan II/2020 saat awal pandemi berlangsung.

Untuk pertumbuhan sektor pertanian, Margo mengutarakan kinerja positif subsektor perkebunan menjadi penopang utamanya. Wakil Ketua DPRD Sumut Harun Mustafa Nasution mengapresiasi program electrifying agriculture PLN. “Apalagi di Sumut sebenarnya basis utama perekonomian disangga sektor pertanian,” katanya, Senin (20/12/2021).

“Kita boleh memikirkan industrialisasi. Atau transformasi struktur ekonomi berbasis pertanian ke industri. Tapi tentu saja industrialisasi harus terfokus pada pertanian. Ingat dulu masa jayanya pertanian kita, sekira tahun 1984 sampai ada seorang petani yang diundang ke istana negara untuk mendapatkan penghargaan karena Indonesia swasembada beras,” katanya.
Electrifying agriculture, menurut dia, wujud modernisasi sektor pertanian. “Jadi pertanian kita mengadopsi konsep industri 4.0. Dengan begitu para petani bisa menyamai capaian negara-negara tetangga yang sudah lebih dulu maju di sektor pertanian seperti Thailand dan Vietnam,” tuturnya.

Menampung lebih banyak tenaga kerja

Dalam struktur ekonomi Indonesia pun sebenarnya sejak orde lama sampai sekarang pertanian selalu menjadi kontributor utama PDB (produk domestik bruto) dan menampung lebih banyak tenaga kerja dibanding sektor lainnya. Begitu juga di masa pandemi, kontribusi sektor pertanian termasuk penyerapan tenaga kerja selalu tumbuh positif sejak kuartal pertama 2020 sampai akhir 2021.

Pentingnya peran sektor pertanian karena memasok kebutuhan perut seluruh masyarakat dan 29,8 persen tenaga kerja ditampung sektor ini. Maka wajar seperti yang dikatakan Prof. Indra Maipita sektor pertanian harus menjadi prioritas. “Sektor pertanian menghasilkan produk pangan, jika terjadi gangguan akan menimbulkan instabilitas politik dan jika kita pilih impor, kia kehilangan kedaulatan pangan di negara sendiri.”

Pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara Dr. Wahyu Ario Pratomo mengungkapkan kehandalan sektor pertanian dapat dibanggakan selama pandemi. Apalagi ternyata mampu menyerap 5 juta tenaga kerja. “Ini yang kita sebut sebagai katup pengaman ekonomi selama pandemi karena masih tumbuh. Sektor pertanian hijau, sektor lain malah merah. Bahkan saya yakin sepanjang pandemi, tenaga kerja yang di PHK banyak beralih ke pertanian,” kata dia.

Begitupun, kata Wahyu, untuk daya tampung sektor pertanian terhadap lapangan kerja harus dicermati secara hati-hati karena kecenderungannya menimbulkan pengangguran tidak kentara. Daya tampungnya banyak tapi tidak mendorong produktivitas pertanian, namun harus diakui tetap memberi kontribusi positif, tuturnya.

Kedaulatan pangan

Ke depan pun, kata Wahyu Ario Pratomo, sektor pertanian yang masih dianggap tradisional akan memberi sumbangan lebih besar jika dipadukan tengan teknologi. Termasuk mendorong electrifying agriculture karena menciptakan nilai tambah, efisiensi serta menambah keuntungan pelaku sektor pertanian, tuturnya.

Dia berpendapat sektor pertanian pangan terutama produksi beras sangat strategis karena sampai kapanpun tidak bisa diabaikan. “Sektor pertanian pangan yang memproduksi beras paling strategis, dan sampai kapanpun akan menjadi prioritas,” ujar dia.

“Jika ada dorongan kepada petani, biaya produksinya murah, hemat, kemudian keuntungannya menjanjikan mereka tak akan mengkonversi lahan pertaniannya ke sektor lain,” ucapnya.

Tinggal memberdayakan petani dan para pelaku usaha sektor ini melalui electrifying agriculture untuk mencapai taraf pertanian modern, dengan begitu kemandirian dan kedaulatan pangan akan tercapai, kata dia.(armin rahmansyah nasution)