Analisis Scientia Sacra, Doktor Salahuddin Gagas Filsafat Berbasis Kearifan Lokal

Salahuddin Harahap, Sekretaris Prodi Magister Pemikiran Politik Islam Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumut resmi menyadang gelar Doktor dalam sidang promosi, Senin (21/2/2022).
Salahuddin Harahap, Sekretaris Prodi Magister Pemikiran Politik Islam Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumut resmi menyadang gelar Doktor dalam sidang promosi, Senin (21/2/2022).

MEDAN – Salahuddin Harahap, Sekretaris Prodi Magister Pemikiran Politik Islam Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumut resmi menyadang gelar Doktor dalam sidang promosi, Senin (21/2/2022).

Dia memperoleh Doktor Akidah Filsafat Islam usai mempertahankan disertasi berjudul “Reformulasi Ilmu Pengetahuan: Pemikiran Seyyed Hossain Nasr tentang Scientia Sacra”.

Majelis Sidang Penguji Diketuai Rektor UIN Sumut Prof Dr Syahrin Harahap, Prof Dr Hasan Bakti Nasution, Prof Dr Amroeni, Prof Dr Katimin, Prof Dr Hasyimsyah Nasution, Dr Hasnah Nasution, MA, dan penguji luar Prof Dr Syamsul Rizal, Guru Besar UIN Ar Raniry.

Salahuddin dalam paparannya, mengatakan, scientia Sacra ini boleh disebut sebagai langkah lebih maju dari Islamisasi ilmu pengetahuan. Rencana kita dengan integrasi keilmuan menjadi universal, justru terjebak dalam eksklusivitas baru.

Karena itu, Seyyed Hossein Nasr menggunakan istilah latin Scientia sacra (knowledge by sacred), istilah ini tidak terikat oleh agama apapun, universal. Diharapkan bisa diterima semua agama. Semua agama resah kalau berbenturan agama dengan sains. Semangat integrasi ini dimiliki semua agama.

“Scientia sacra itu titik temu semangat integrasi sains,” kata Salahuddin.

Dalam penelitian Doktoral ini, Salahuddin memilih Scientia Sacra buah pemikiran Syed Nasr asal Iran untuk dianalisis. Menurutnya Iran, memiliki kesamaan dengan Indonesia.

“Kultur budaya dan agama Iran dan Indonesia sama-sama kuat. Kalau ada gagasan agama baru, pasti ada sinkritisasi (penyerasian). Ada kemiripan antara Indonesia dan Iran dalam hal ini,” ujarnya.

Pemikiran Syed Nasr ini menurut Salahuddin patut diajukan dalam integrasi keilmuan secara universal, termasuk di Indonesia. Saintia sacra akan menghilangkan ekslusivisme sains. “Harapannya, integrasi sains akan terwujud dalam peradaban dunia,” bebernya.

BACA JUGA :  Ketua KPU RI Imbau Mahasiswa Isi KPPS, UINSU Diajak jadi Mitra

Pengembangan Wahdatul Ulum

Saintia sacra juga dapat memberi inspirasi dalam agenda Wahdatul Ulum yang sedang dikembangkan UIN Sumut. Saat ini UIN Sumut sedang berupaya menurunkan dari paradigma sains kepada aktualisasi sains. “Scientia sacra memberi inspirasi itu,” ucapnya.

Scientia sacra mencoba melihat kembali pola-pola nabi yang menerima wahyu menjadi sains terapan, misalnya bagaimana Rasulullah SAW membangun politik dan ekonomi umat bersama para sahabat . Tapi scientia sacra tidak terpaku pada sejarah Rasulullah.

“Seyyed Nasr juga mengetengahkan bagaimana kita berguru pada Nabi Sulaiman AS yang menurunkan dari wahyu lalu diterapkan menjadi sistem teknologi persenjataan. Begitu juga dari Nabi Nuh AS, dari wahyu menjadi teknologi perkapalan,” tukasnya.

Salahuddin menegaskan, semoga apa yang dia upayakan ini bagian dari perjuangan melestarikan tradisi filsafat yang mungkin akan bernuansa budaya lokal.

“Jadi inspirasi scientia sacra ini menjadi inspirasi bagi kita, bahwa pada saatnya di Sumut membangun model filsafat berbasis kearifan lokal, karena negara lain juga mampu maka kita juga bisa,” kata Salahuddin.

Rektor UIN Sumut Prof Dr Syahrin Harahap menanggapi promosi doktor baru ini. Kata dia, promovendus harus menjadikan disertasi ini sebagai pendukung tumbuh kembang wahdatul ulum di UIN Sumut dan bermanfaat bagi dunia.

“Jadikan semangat scientia sacra menjadi ruh setiap orang dalam menuntut ilmu.
Harua ditegaskan pula makna sakral dalam ilmu pengetahuan baik secara ontologis, epistemologis dan aksiologis,” ujarnya.

Rektor menegaskan, modernitas dan digitalisasi harus dipahami dan diboboti dengan sacra sebagaimana paradigma scientia sacra. “Scientia sacra mendukung wahdatul ulum yang tidak tersekat oleh isme tertentu namun tetap mampu menjunjung tinggi tradisi atau kearifan lokal,” pungkasnya.(efri/red)