Kisah Ben Affleck Minta Restu Michael Jordan Untuk Menggarap Film Air

0
49
Sutradara dan produser film Ben Affleck membagikan kisahnya saat meminta restu dari legenda bola basket dunia, Michael Jordan, dalam menggarap film Air
Sutradara dan produser film Ben Affleck membagikan kisahnya saat meminta restu dari legenda bola basket dunia, Michael Jordan, dalam menggarap film Air

MEDAN, kaldera.id – Sutradara dan produser film Ben Affleck membagikan kisahnya saat meminta restu dari legenda bola basket dunia, Michael Jordan, dalam menggarap film Air. Film biopik yang menggambarkan kisah di balik layar kesuksesan sepatu Air Jordan itu bisa dinikmati di bioskop Indonesia mulai Rabu (5/4/2023).

“Saya tidak akan membuat film ini tanpa meminta restu Michael terlebih dahulu, memastikan bahwa dia tidak keberatan dengan apa yang kami akan buat. Dia cukup murah hati untuk duduk bersama saya,” kata Affleck dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Selasa (4/4/2023).

Affleck yang juga turut berperan dalam film sebagai Phil Knight, CEO Nike mengatakan Michael Jordanlah yang menyarankan agar sosok sang ibu, Deloris Jordan diperankan oleh aktris kawakan peraih empat nominasi Academy Award, Viola Davis.

“Dia bersikeras bahwa Viola berperan sebagai ibunya. Saya kira itu sangat sesuai dengan Michael Jordan, untuk menetapkan standar setinggi mungkin dan kemudian berharap untuk mencapainya,” kata Ben Affleck.

“Sudah lama menjadi ambisi saya untuk mengarahkan Viola dalam film. Dan dengan cara yang khas, ternyata Michael juga seorang casting director yang jenius,” tambahnya sambil tertawa.

Selain memastikan Viola Davis berperan sebagai sosok ibunya, Michael Jordan juga meminta sosok Howard White dan George Raveling disertakan dalam film. Tokoh Howard White akhirnya diperankan oleh komedian Chris Tucker, sementara George Raveling diperankan Marlon Wayans.

“Michael ingin menghormati kontribusi yang diberikan orang-orang dalam karier dan kehidupannya. Saya menyaksikan dia bermain saat masih kecil, merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk membuat film yang merepresentasikan sosok orang yang berjasa dalam kariernya,” kata mantan pemeran Batman itu.

Air mengambil latar waktu tahun 1984

Sekadar informasi, Air mengambil latar waktu tahun 1984, saat Michael Jordan baru akan memulai kariernya di NBA. Kala itu Nike bukanlah pemimpin pasar sepatu, masih terpaut jauh dari Converse yang memimpin pangsa pasar lebih dari 50 persen, ataupun Adidas produk Jerman yang memiliki pangsa pasar sekitar 20 persen.

“Saya memiliki foto adik laki-laki saya yang mengenakan Air Jordans, saat itu musim dingin tahun 1985 atau awal 1986. Saya ingat sekali ketika Nike muncul dan menggantikan apa yang populer saat itu, yang sebagian besar adalah Adidas,” kata Ben Affleck.

“Dan saya ingat bagaimana, sepertinya dalam semalam Nike menjadi apa yang harus Anda miliki ingin terlihat keren. Tapi saya tidak tahu apa-apa tentang latar belakang asal-usul Air Jordan. Secara alami, kita tahu bahwa sepatu bukanlah yang membuat Michael hebat, justru kehebatannya yang membuat sepatu itu menjadi fenomena,” tambahnya.

Film ini sendiri tidak menampilkan sosok Michael Jordan dengan jelas. Hanya saja, beberapa cuplikan karier dan kehidupan Michael memang ditampilkan. Terkait hal ini, Affleck memiliki alasannya sendiri.

“Michael Jordan sangat terkenal sehingga saya merasa jika kita melihat seorang aktor memainkan karakternya, akan sulit membuat penonton percaya. Tidak ada yang meyakinkan siapa pun bahwa seseorang yang bukan Michael Jordan adalah Michael!” ucapnya.

Ben Affleck yang sebelumnya meraih dua Academy Award melalui Good Will Hunting (1998, Penulis Skenario Asli Terbaik) dan Argo (2013, Film Terbaik) merasa cara yang lebih menarik untuk menceritakan kisah Michael Jordan adalah dengan membuatnya seolah dibicarakan oleh semua orang, tetapi tidak terlihat dalam film.

“Kebanyakan orang tidak pernah bertemu bintang olahraga atau selebritas favorit mereka secara langsung. Jadi kami hanya menyajikan Michael dalam klip dan kilasan. Untuk menampilkannya secara langsung (melalui aktor) berarti meletakkan kakinya di tanah, dan kami tidak ingin film yang seperti itu,” ucapnya. (beritasatu)