Kemenag Menyusun Buku Saku Moderasi Beragama Bagi Gen-Z, Berikut Ulasannya

0
41
Kementerian Agama (Kemenag) saat ini tengah menyusun Buku Saku Moderasi Beragama bagi Generasi Z (Gen-Z).
Kementerian Agama (Kemenag) saat ini tengah menyusun Buku Saku Moderasi Beragama bagi Generasi Z (Gen-Z).

 

MEDAN, kaldera.id – Kementerian Agama (Kemenag) saat ini tengah menyusun Buku Saku Moderasi Beragama bagi Generasi Z (Gen-Z). Penyusunan buku saku ini digawangi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat Kemenag bekerja sama dengan Akademika Semesta Nusantara (AKSEN).

Kepala Balitbang Diklat Kemenag Suyitno menjelaskan, penyusunan Buku Saku Moderasi Beragama bagi Generasi Z ini harus memperhatikan keterwakilan berbagai kalangan, agar dapat diterima dengan mudah. Hal ini disampaikan Kepala Balitbang Diklat saat memberikan arahan pada kegiatan Review Penyusunan Buku Saku Moderasi Beragama bagi Generasi Z, di Jakarta.

“Sesungguhnya buku saku ini ditujukan untuk Gen Z, maka diperlukan keterwakilan dari berbagai kalangan generasi mereka,” kata Kepala Balitbang Diklat Suyitno, Kamis (25/5/2023).

Ia menambahkan, penyusunan ini juga perlu melihat dari dua perspektif, yaitu sudut pandang dari penulis dan kalangan Gen-Z. “Ini untuk menentukan sudut pandang yang sesuai dengan kebutuhan generasi dan zamannya,” ungkap Suyitno.

Suyitno juga berharap untuk dilakukan uji publik sebelum buku ini diluncurkan. “Uji publik terbatas diperlukan dalam Review Penyusunan Buku Saku Moderasi Beragama bagi Generasi Z. Oleh karena itu, harus menghadirkan representasi dari keberagaman kampus, keberagaman agama, dan keberagaman suku,” pesannya.

Selain beberapa hal di atas, Suyitno juga memberikan sejumlah catatan terkait penyusunan buku saku ini. Pertama, buku saku perlu dibuat dalam bentuk digital tidak hanya dalam bentuk cetakan konvensional. Hal ini perlu dilakukan mengingat, Gen-Z saat ini dikenal dengan generasi internet.

“Buku saku ini jangan dimaknai buku konvensional, tapi berbentuk buku digital yang bisa diinsersi ke media sosial agar dapat diakses lebih mudah oleh Gen Z,” kata Guru Besar UIN Raden Fatah ini.

Dengan buku digital, Suyitno berharap Moderasi Beragama akan mudah tersosialisasikan kepada generasi yang sehari-hari hidup di dunia digital sehingga lebih mudah diterima oleh mereka. “Media sosial adalah ‘kehidupan’ generasi Z,” tuturnya.

Kedua, perlu menyaring duta Moderasi Beragama dari kalangan Gen-Z. Mereka dapat menjadi sasaran uji publik buku yang saat ini tengah disiapkan. “Tugas kita tidak berakhir hanya sampai produksi buku, melainkan perlu ada tindak lanjut hingga diseminasi melalui duta Moderasi Beragama bagi Gen Z,” tegasnya.

Ketiga, penguatan sumber referensi dan literasi dalam buku yang disusun. “Kita perlu menambahkan referensi berupa kutipan ayat dari berbagai kitab suci. Moderasi Beragama perlu ditampilkan dari berbagai macam perspektif agama. Jangan hanya eksklusif pada satu agama saja,” kata Suyitno.

Keempat, bahasa dan ilustrasi yang digunakan menyesuaikan dengan kebiasaan Gen-Z. Sub judul dan ilustrasi foto pun harus mencerminkan pergaulan anak muda saat ini. “Berikan gambaran bahwa Moderasi Beragama bisa dilakukan di mana saja, bukan hanya di rumah ibadah. Jadi berikan image tersebut di buku saku ini, yakni Generasi Z yang beragama dengan caranya,” ujarnya.

Kelima, memberikan gambaran cara beragama yang ramah dan inklusif. Ia mencontohkan beberapa pesan yang harus ditonjolkan dalam buku saku tersebut. “Kita boleh berbeda, tapi tetap berkawan. Kita boleh berbeda, tapi tetap bersaudara. Kita boleh berbeda pilihan politik, tapi kita tetap bersatu,” pesan pria asal Tulungagung ini.

“Yang sedang kita lakukan hari ini untuk kepentingan generasi muda masa depan. Sebab generasi mendatang diciptakan oleh generasi saat ini. Maka kami sedang menciptakaan generasi kalian untuk memimpin kami nanti,” kata Kaban.

“Kami ingin mengidolakan pemimpin yang inklusif, yang mengerti tentang keberagaman Indonesia. Bukan pemimpin yang ekslusif dan hanya paham kepentingan golongannya saja,” pungkasnya. Pemimpin yang eklusif tidak layak memimpin Indonesia karena negari ini plural dengan beragam suku, agama, bahasa, budaya. Negara yang menjembati dan merangkul berbagai kepentingan.

Review penyusunan buku saku ini dihadiri Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Arskal Salim GP, narasumber Tenaga Ahli Menteri Agama RI Hasanuddin Ali, Tim Pokja Moderasi Beragama Kemenag RI Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, tim Akademika Semesta Nusantara (AKSEN), mahasiswa serta dosen dari UIN, UNJ, dan UI.(kemenag)