Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Kamis, 30 Apr 2026
Digitalisasi Keuangan Sumut Berbuah Penghargaan Nasional, Raih Creative Financing
Prananda Makan Bareng Bobby: Bagian dari Konsolidasi Elite Politik Nasional di 2026
Bupati Deli Serdang Letakkan Batu Pertama RTLH dan Buka Turnamen Futsal
Rico Waas Terima Rekomendasi LKPJ 2025, Siap Jadikan Evaluasi Kinerja Pemko Medan
Bank Sumut Ekspansi ke Batam, Teken Kerja Sama dengan Pemko
Ketua Pansus LKPJ Kritik Kinerja Wali Kota Medan, Soroti Penanganan Banjir
INALUM Salurkan Bantuan TJSL di Samosir, Fokus Pendidikan hingga Lingkungan
Prananda Paloh Temui Bobby Nasution, NasDem Nyatakan Dukungan Politik
Mendagri Apresiasi Sumut Salurkan Hibah Rp260 Miliar untuk Aceh
Wabup Tiorita Pimpin Upacara Hari Otonomi Daerah ke-30 di Langkat
Digitalisasi Keuangan Sumut Berbuah Penghargaan Nasional, Raih Creative Financing
Prananda Makan Bareng Bobby: Bagian dari Konsolidasi Elite Politik Nasional di 2026
Bupati Deli Serdang Letakkan Batu Pertama RTLH dan Buka Turnamen Futsal
Rico Waas Terima Rekomendasi LKPJ 2025, Siap Jadikan Evaluasi Kinerja Pemko Medan
Bank Sumut Ekspansi ke Batam, Teken Kerja Sama dengan Pemko
Ketua Pansus LKPJ Kritik Kinerja Wali Kota Medan, Soroti Penanganan Banjir
INALUM Salurkan Bantuan TJSL di Samosir, Fokus Pendidikan hingga Lingkungan
Prananda Paloh Temui Bobby Nasution, NasDem Nyatakan Dukungan Politik
Mendagri Apresiasi Sumut Salurkan Hibah Rp260 Miliar untuk Aceh
Wabup Tiorita Pimpin Upacara Hari Otonomi Daerah ke-30 di Langkat
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Lebih Dalam Melihat Fenomena Inflasi

redaksi
4 Sep 2023 08:54
Medan Opini 0 675
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

 

Oleh Armin Nasution

Wakil Ketua DPRD Medan, Ihwan Ritonga ketika meninjau korban kebakaran di Pulo Brayan, kemarin
Baca Juga
Wakil Ketua DPRD Medan Serahkan Bantuan Kepada Korban Kebakaran Di Pulo Brayan
28 Apr 2023

TULISAN ini masih merupakan lanjutan topik lalu namun belum akan menyinggung islamic social finance sebagai solusi inflasi. Bahwa benar, dalam ekonomi konvensional ternyata pertumbuhan tinggi akan digerogoti inflasi.

Ekonomi kita terus tumbuh tapi di sisi lain harga barang kebutuhan juga bergerak naik.

​Uang yang kita dapatkan betapa pun banyaknya ternyata tak mampu mengimbangi kenaikan harga. Itu pula yang menunjukkan daya beli uang yang kita miliki semakin lama kian lemah.

Salah satu pemain Chelsea berusaha melewati hadangan para pemain Real Madrid
Baca Juga
Hattrick Benzema Bungkam Publik Stamford Bridge
07 Apr 2022

Dulu, tahun 1970-an uang Rp100 ribu itu sudah bisa beli banyak kebutuhan. Sekarang Rp1 juta pun daya belinya masih sangat minim.

​Itu sebabnya inflasi adalah bahaya laten dalam pertumbuhan ekonomi. Tapi bukan berarti inflasi tidak diperlukan. Dalam berbagai kajian ekonomi, inflasi yang terkendali juga penting.

Artinya inflasi merupakan cerminan kenaikan daya beli. Yang jadi problem, jika inflasi tak bisa dikendalikan.

​Bagaimana kita melihat potret inflasi ini lebih detil di Sumut, misalnya?Menurut data Bank Indonesia hingga Juli 2023 tingkat inflasi mencapai 0,3 persen, sedangkan angka year on year ada diangka 2,54 persen dan jika dilihat dari bulan Januari-Juli inflasi ada diangka 0,98 persen.

​Sejauh ini angka itu masih terkendali. Kenapa? Karena secara nasional pun target inflasi adalah 3 persen plus minus 1 persen. Artinya angka inflasi harus ada diangka 2-4 persen.

Dengan target inflasi sebesar itu masih make sense jika pertumbuhan ekonomi di atasnya.

Angka inflasi harus berada dibawah angka pertumbuhan ekonomi karena tidak ada artinya jika pertumbuhan ekonomi tinggi lalu inflasi melebihi pertumbuhan itu sendiri.

Tahun ini Bank Indonesia optimis inflasi akan berada diangka 2 persen. Di Sumut, kita masih menghitung inflasi dengan mengukur di lima kota indeks harga konsumen.

Yaitu Medan, Pematang Siantar, Sibolga, Padangsidimpuan dan Gunungsitoli. Sedangkan kabupaten lain menjadi Indeks Pemantau Harga (IPH).

Sumber utama inflasi di Sumut ternyata dipengaruhi oleh komoditas. Kenaikan harga beras sedikit saja itu akan mendorong inflasi tinggi.

Sedangkan komoditas lain yang sangat berpengaruh adalah bawang. Ini merupakan salah satu pendorong inflasi yang sangat volatile.

Lalu hal lain yang sering menyebabkan inflasi tinggi adalah jalur distribusi yang sangat panjang.

Karena seringkali pasok kebutuhan yang harusnya sampai di pasar dengan harga normal tak pernah tercapai.Inipun salah satu problem utama.

Bahkan petani sebagai sumber utama penghasil pangan tak menikmati hasilnya saat harga di pasar tinggi.

Misal, cabai di pasar sudah mencapai Rp100 ribu, tapi karena panjangnya jalur distribusi ternyata di tingkat petani harga cabai bisa ditebus Rp30 ribu sampai Rp45 ribu.

Intinya penyumbang utama inflasi termasuk Sumut dan Indonesia datang dari komoditas pangan. Setiap kali terjadi inflasi tinggi jika ditelusuri lebih jauh akan mengarah kepada kebutuhan pangan.

Selain itu yang harus diwaspadai adalah import inflation. Atau mengimpor inflasi dari luar.

Kita ini masih punya ketergantungan bahan pokok dengan negara lain. Jadi ketika di sana terjadi kenaikan harga otomatis akan langsung berpengaruh ke negara pengimpor.

Hingga tahun ini berbagai lembaga keuangan dunia masih khawatir dengan ancaman inflasi terutama efek dari perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan dan belum tahu kapan selesai.

Jika kemudian negara-negara terkait melakukan pengetatan kebijakan pangan, kemudian stok di pasar berkurang, otomatis negara-negara yang masih ketergantungan dengan impor pangan akan menghadapi kenaikan harga. Imported inflation tetap jadi ancaman.

Upaya untuk mengendalikan inflasi sudah dilakukan dengan berbagai cara. Strategi paling utama saat ini adalah dorongan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah agar melek inflasi.

Dulu gejala inflasi tinggi hanya dikhawatirkan oleh pemerintah pusat dan otoritas moneter. Sekarang berbeda. Semua kepala daerah harus faham inflasi.

Pemerintah mengefektifkan secara maksimal tim pengendalian harga di daerah untuk memantau inflasi yang terjadi.

Itu kemudian yang disebut dengan geranakan nasional pengendalian inflasi pangan. Selain dengan mendorong kerjasama antar daerah untuk memintas jalur distribusi.

Inflasi ini layaknya tekanan darah, jika terlalu tinggi berbahaya dan jika terlalu rendah juga berbahaya.

Sehingga harus benar-benar dijaga agar harga tidak memberatkan konsumen dan masih memberikan keuntungan ke produsen.

Sering pihak yang paling diuntungkan dari inflasi yang bagian tengah (distributor/price maker) bukan petani karena panjangnya jalur distribusi.

Armin nasutionekonomi konvensionalInflasiislamic social finance
Pos Terkait
Menuju Unggul, FITK UINSU Siap Kerjasama dengan Tiga Universitas Besar di Australia
Digitalisasi Diklaim Maksimalkan Pengelolaan Keuangan Pemprov Sumut
Sambil Bawa Keranda, Warga Minta Walikota Copot Camat Medan Denai
Supir Angkot Wajib Pakai Masker
KPK Panggil 6 Mantan Wakil Rakyat
Perda RTRW Diharapkan Jadi Dokumen Spesial Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Pos Terkait

Sebanyak 2.315 guru honorer di Pemkab Langkat didaftarkan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini untuk memastikan dukungan Pemkab Langkat dalam terlaksananya Sistem Jaminan Sosial Nasional di Kabupaten Langkat sesuai diamanahkan dalam Undang-Undang nomor 40 tahun 2004.
4 tahun  lalu
Sebanyak 2.315 Guru Honorer Didaftarkan Peserta BPJS Ketenagakerjaan
Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tenis Meja Indonesia (PP PTMSI), Komjen Pol (Pur) Oegroseno
4 tahun  lalu
PP PTMSI Minta Bantuan Presiden Jokowi Hentikan Diskriminasi pada Atlet Tenis Meja
Gus Irawan Pasaribu
3 tahun  lalu
Gus Irawan Minta Pemerintah Perbaiki Regulasi Kemudahan Berbisnis
Dirjend Perhubungan Darat Kemenhub RI bersama Kadis Perhubungan Kota Medan, Iswar Lubis
1 tahun  lalu
Pengerjaan Halte BRT BS 13 Dimulai, Dari Titik 0 Kota Medan Menuju Transportasi Baru
Program Studi (Prodi S-1) Akuntansi Fakultas Ekonomi Unimed berhasil meraih peringkat akreditasi Unggul, pada Senin (27/6/2022).
3 tahun  lalu
Akuntansi Unimed Raih Akreditasi Unggul
Striker sekaligus kapten tim muda Liverpool, Curtis Jones melepaskan assist rabona saat berjumpa Shrewsbury Town di Piala FA. Liverpool menang 1-0. (thisisanfield)
6 tahun  lalu
Kalahkan Shrewsbury, Tim Termuda Liverpool Buat Rekor

Trending

01.
6 hari  lalu
Pemko Medan–Bank Sumut Sepakat Genjot PAD, Pajak Hotel dan Restoran Jadi Target Utama
02.
3 hari  lalu
Rumput Stadion Utama Sumut Dirawat Total, Dispora Target Siap Jelang Piala AFF U-19 2026
03.
6 hari  lalu
Wagub Sumut Terima Kunker Komisi VIII DPR RI, Tekankan Penguatan Layanan Sosial hingga Mitigasi Bencana
04.
4 hari  lalu
Kekerasan Seksual dan LGBT di Kampus: Ujian Kepemimpinan dan Masa Depan Ruang Aman Bagi Semua
05.
6 hari  lalu
Kirim 1.050 Ton Cabai ke Palangkaraya, Bobby Klaim Harga Petani Karo Naik

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Prananda Makan Bareng Bobby: Bagian dari Konsolidasi Elite Politik Nasional di 2026
Digitalisasi Keuangan Sumut Berbuah Penghargaan Nasional, Raih Creative Financing
Home Trending Cari Bagikan Lainnya