Site icon Kaldera.id

Vaksin Booster Berikan Efek Samping Lebih Berat

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengungkapkan pemberian vaksin virus corona (Covid-19) dosis lanjutan booster dengan takaran satu dosis penuh dapat menyebabkan efek samping yang lebih berat dibandingkan pemberian setengah dosis saja.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengungkapkan pemberian vaksin virus corona (Covid-19) dosis lanjutan booster dengan takaran satu dosis penuh dapat menyebabkan efek samping yang lebih berat dibandingkan pemberian setengah dosis saja.

Jakarta, kaldera.id – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengungkapkan pemberian vaksin virus corona (Covid-19) dosis lanjutan booster dengan takaran satu dosis penuh dapat menyebabkan efek samping yang lebih berat dibandingkan pemberian setengah dosis saja.

Merujuk pada hasil uji klinik tersebut, Penny menyebut Indonesia sepakat menggunakan setengah dosis vaksin Covid-19 untuk program vaksinasi booster yang resmi dilakukan di Indonesia sejak 12 Januari lalu.

“Tentunya belajar dari Moderna kemarin, mereka sudah melakukan lebih dulu uji klinik, dan kami mendapatkan datanya terlebih dahulu. Bahwa dengan satu booster satu dose kan efeknya sangat berat sekali,” kata Penny dikutip dari kanal YouTube Komisi IX DPR RI Channel, Rabu (19/1).

Penny melanjutkan, hasil penelitian pemberian setengah dosis vaksin Moderna mampu meningkatkan titer antibodi yang tidak jauh berbeda dengan pemberian booster dengan satu dosis utuh vaksin Moderna.

Pada vaksin Pfizer setengah dosis sebagai booster heterolog untuk vaksin primer Sinovac atau AstraZeneca juga menunjukan hasil imunogenisitas berupa peningkatan antibodi yang tinggi pada 6-9 bulan setelah pemberian dosis primer lengkap.

Di sisi lain, peningkatan antibodi setelah 6 bulan vaksinasi primer lengkap vaksin Sinovac menghasilkan peningkatan antibodi IgG terhadap S-RBD yang tinggi atau mencapai 105,7 kali dibandingkan sebelum diberikan dosis booster.

“Jadi didapatkan hasil data yang meningkatkan imunogenisitas yang tidak terlalu berbeda antara one dan half dose. Sehingga dengan berbagai pertimbangan aspek keamanan dan aspek operasional, jadi dipilih lah yang half dose,” ujar Penny.

Program booster menggunakan skema empat regimen

Sebagaimana diketahui, program booster di lapangan sejauh ini baru menggunakan skema empat regimen pemberian vaksin untuk warga yang menerima vaksin primer atau dosis 1 dan 2 Sinovac dan AstraZeneca.

Rinciannya, untuk dosis primer Astrazeneca maka diberikan vaksin Moderna setengah dosis, atau vaksin Pfizer setengah dosis. Sementara aturan pemberian booster untuk penerima vaksin primer atau dosis 1 dan 2 Sinovac, yang pertama akan diberikan booster vaksin Pfizer setengah dosis.

Dan alternatif kedua, bagi warga yang mendapatkan vaksin primer Sinovac, maka dapat juga diberikan booster vaksin AstraZeneca setengah dosis. Namun sebelumnya, BPOM juga telah meresmikan enam jenis booster homolog atau heterolog pada vaksin Covid-19.

Di antaranya yakni vaksin Sinovac dosis penuh sebagai booster homolog, vaksin Pfizer dosis penuh sebagai booster homolog, baksin AstraZeneca dosis penuh sebagai booster homolog.

Kemudian setengah dosis vaksin Moderna sebagai booster homolog, setengah dosis vaksin Moderna heterolog sebagai booster untuk vaksin AstraZeneca, Pfizer, atau Johnson & Johnson.

Selanjutnya, vaksin Zifivax dosis penuh sebagai booster heterolog untuk vaksin primer Sinovac dan Sinopharm. Namun demikian, secara bertahap, BPOM terus melakukan proses evaluasi penggunaan booster vaksin sesuai dengan pengajuan dan ketersediaan data uji klinik yang mendukung pengajuan booster tersebut. (cnn)

Exit mobile version