Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Sabtu, 14 Mar 2026
Rico Waas Ultimatum Perang Narkoba di Belawan: Tutup Sarang, Kejar Bandar hingga ke Akar
Rico Waas Lantik 4 Pejabat Tinggi Pratama, Ini Nama – namanya
Wagub Surya Lantik 264 Pejabat Fungsional Pemprov Sumut
Rico Waas Minta Revitalisasi Stadion Teladan Dikebut
Rico Waas Minta Revitalisasi Puskesmas Dipercepat
Akhir Ramadan, Bupati Langkat Syah Afandin Santuni 65 Santri Ulumul Quran di Rumah Dinas
Syah Afandin Serukan KONI Langkat Bersatu Dongkrak Prestasi Atlet, Soroti Pemulihan Pasca Banjir
Tempatkan Sosok Tepat di BAPPERIDA, Gubsu Bobby Nasution Tuai Apresiasi Akademisi
Rico Waas Tegaskan Keterbukaan Terima Masukan saat Buka Puasa KAHMI Sumut
BAZNAS Sumut Salurkan ZIS Rp2,93 Miliar kepada 2.648 Mustahik
Rico Waas Ultimatum Perang Narkoba di Belawan: Tutup Sarang, Kejar Bandar hingga ke Akar
Rico Waas Lantik 4 Pejabat Tinggi Pratama, Ini Nama – namanya
Wagub Surya Lantik 264 Pejabat Fungsional Pemprov Sumut
Rico Waas Minta Revitalisasi Stadion Teladan Dikebut
Rico Waas Minta Revitalisasi Puskesmas Dipercepat
Akhir Ramadan, Bupati Langkat Syah Afandin Santuni 65 Santri Ulumul Quran di Rumah Dinas
Syah Afandin Serukan KONI Langkat Bersatu Dongkrak Prestasi Atlet, Soroti Pemulihan Pasca Banjir
Tempatkan Sosok Tepat di BAPPERIDA, Gubsu Bobby Nasution Tuai Apresiasi Akademisi
Rico Waas Tegaskan Keterbukaan Terima Masukan saat Buka Puasa KAHMI Sumut
BAZNAS Sumut Salurkan ZIS Rp2,93 Miliar kepada 2.648 Mustahik
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Inflasi, Kemiskinan Dan Pertumbuhan Tinggi

redaksi
28 Agu 2023 07:40
Medan Opini 0 580
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SEPANJANG bulan ini saya mengikuti focus grup discussion (FGD) yang topiknya sama. Sudah dilakukan lima kali dengan tema mengendalikan inflasi melalui islamic social finance. Ini topik menarik tentu saja. Kenapa? Seperti yang kita fahami bersama seluruh aktivitas dijalankan secara konvensional sehingga inflasi menjadi salah satu ancaman terbesar dalam perekonomian.

Ade Jona Prasetyo
Baca Juga
Hormati Peran Pers, Prabowo Sosok yang Menjujung Tinggi Kebebasan Berpendapat
09 Feb 2024

Inflasi diterjermahkan sebagai kenaikan harga barang secara terus menerus pada kurun waktu tertentu. Inflasi itu akan terjadi dengan dorongan dua faktor. Pertama cost push inflation (inflasi karena dorongan biaya produksi) dan demand full inflation (inflasi karena permintaan terhadap suatu barang).

Sehingga teori permintaan dan penawaran yang muncul dalam konteks ekonomi mikro pun adalah teori konvensional. Ketika harga barang naik maka jumlah barang yang dibeli akan berkurang dan dari sisi penawaran ketika harga barang naik, produsen akan menambah jumlah barangnya di pasar. Keduanya disebut berslope negatif dan positif.

Arah teori pun mengatakan jika inflasi terus tinggi maka akan menambah jumlah orang miskin. Nah ukuran kemiskinan dan inflasi ini, sangat baik dipaparkan oleh Ustad Hidayatullah, anggota Komisi XI DPR RI dari fraksi PKS yang menjadi keynote speech dalam setiap FGD. Saya tertarik mengikuti alur fikir ustad ini karena dia bisa mengaitkan hubungan ekonomi konvensional dan bahaya yang muncul dari praktik itu lewat sisi religi.

Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dukung program pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Baca Juga
Kejatisu Dukung Ketahanan Pangan, Kawal Pembangunan Sektor Pertanian
14 Feb 2025

Apa katanya? Dia sampaikan sebenarnya ekonomi yang kita jalankan saat ini penuh ketimpangan. Pertumbuhan ekonomi terus naik namun harga barang pun tak terbendung. Dulu di tahun 1970 an harga beras misanya masih di kisaran Rp50 per kg. Sekarang sudah menjadi RP12.500. Begitu juga dengan harga emas. Tahun 70-an tiap satu dolar AS itu masih Rp250 sekarang sudah jadi Rp15 ribu. Belum lagi harga bahan bakar serta komoditas lainnya.

Yang paling merasakan inflasi pasti orang miskin. Coba kita lihat, ketika inflasi tinggi maka 26 juta rakyat miskin akan terimbas. Ingat juga bahwa ukuran kemiskinan kita adalah yang berpenghasilan Rp520 ribu sebulan. Artinya yang punya penghasilan di atas Rp17 ribu sehari dianggap tak miskin lagi. Padahal beli sarapan pagi saja sudah habis Rp10 ribu.

Angka kemiskinan kita bisa di angka 26 juta karena batas kriteria penduduk miskin hanya Rp17 ribu per hari. Coba kalau dinaikkan dengan standar bank dunia yang menyatakan penduduk miskin adalah yang penghasilannya di bawah dua dolar AS per hari, maka setengah dari jumlah penduduk kita adalah miskin. Ini menyiratkan semakin rendah angka penghasilan penduduk miskin semakin rendah pula jumlah penduduk miskin. Jadi tinggal utak-atik kriteria penghasilan saja apakah penduduk miskin kita mau dinaikkan atau diturunkan.

Siapa yang paling terimbas dengan inflasi? Yang pasti rakyat menengah ke bawah dan penduduk miskin. Sebab 70 persen ekonomi Indonesia ini dikuasai 2 persen penduduk. Artinya yang punya simpanan miliaran di bank atau skala ekonominya di atas, tak perduli dengan inflasi.

Mereka yang paling terimbas adalah petani, nelayan, serta warga yang selalu menghadapi kesulitan hidup. Menurut Hidayatullah, harus diakui ekonomi negara ini memang terus tumbuh. Tapi yang menjadi catatan penting pertumbuhan yang luar biasa justru meninggalkan kantong-kantong kemiskinan dan ketimpangan pendapatan.

Bisa dilihat misalnya di Sumut dengan PDRB yang mencapai Rp995 triliun kalau dibagi dengan jumlah penduduk maka PDRB per kapita itu sekira Rp63 juta per tahun. Sedangkan di Medan, dengan PDRB Rp280 triliun maka setiap penduduk harusnya punya pendapatan per kapita Rp112 juta. Tapi di sini ada ketimpangan. Sumut misalnya masih ada 1,2 juta orang miskin.

Yang cacat logika dari angka-angka itu adalah pertumbuhan PDRB yang tinggi ternyata menyisakan orang miskin yang penghasilannya dihitung Rp520 ribu tadi. Secara nalar, saya sebenarnya bisa mencerna semua paparan yang disampaikan Ustad Hidayatullah yang menggambarkan fenomena inflasi, kemiskinan dan pertumbuhan tinggi sebagai sesuatu yang absurd.

Dia bisa memaparkan fakta tersebut dengan sangat umum dan mudah difahami. Artinya perlu ada terobosan untuk mengatasi inflasi di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Bernarkah inflasi mengkhawatirkan kita? Tahun lalu inflasi Sumut itu di angka 6,12 persen atau di atas angka nasional. Maka wajar dalam berbagai forum Gubernur Sumut meminta semua pihak mengambil peran untuk mengatasinya. Lalu dari fokus grup diskusi itu apa solusi yang bisa dilakukan?

Mengakumulasi potensi Islamic social finance (ISF) adalah bagian penting untuk menguatkan ekonomi umat. Walau seluruh aktivitas ekonomi dijalankan secara konvensional tapi ada celah di potensi dana keumatan yang bisa diharapkan menjadi stimulus agar dampak inflasi terhadap penduduk miskin bisa dikendalikan. Dan itu akan saya ulas dilanjutan tulisan berikutnya.

Armin nasutionfocus grup discussion (FGD)Inflasiislamic social finance
Pos Terkait
Tim Evaluasi Kemendagri Puji Kinerja Penjabat Bupati Langkat
Sekda Tanjungbalai Diperiksa Polisi: Pening Kepala Ku
Arifuddin Muda Ketua ISNU Sumut: Sarjana NU Lebih Kreatif, Jaga Ukhuwah, Dukung Pemilu Damai
Bupati Syah Afandin dan Gubernur Jatim Khofifah Tinjau Pengungsi Banjir di Langkat
Bobby Ultimatum Eks Kantor Harian Portibi Diubah ke Bentuk Semula Dalam 2 Minggu
MUI Sumut Izinkan Salat Tarawih dan Idul Fitri Berjamaah di Masjid

Pos Terkait

Bobby Nasution bersama Fajar Swada
2 tahun  lalu
Keinginan Fajar Miliki Handphone Ikuti Ujian Online Diwujudkan Bobby Nasution
Ratusan petani dan pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS/ASN) di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) meminta anggota DPR RI Gus Irawan Pasaribu SE, AK, MM, CA, rela 'turun gunung' untuk maju di Pilkada serentak 2024.
1 tahun  lalu
Kondisi Tapsel Kian Memprihatinkan, Ratusan Petani Desak Gus Irawan Turun Gunung
Direktur Utama (Dirut) Pertamina, Nicke Widyawati.
6 tahun  lalu
Pertamina Ajukan Insentif Turunkan Harga Gas
Gus Irawan Pasaribu
1 tahun  lalu
Utang LN Melonjak, Gus Irawan Minta Pemerintah Selektif Bangun Proyek
Nana Miranti
2 tahun  lalu
DPS Pemilu 2024 Ditetapkan Sebanyak 1.874.899 Pemilih
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Medan, Sumatera Utara, melatih keterampilan penyandang disabilitas dan wanita kepala rumah tangga dalam pembuatan gorden.
1 tahun  lalu
Demi Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Bappeda Kota Medan Adakan Pelatihan Bagi Penyandang Disabilitas

Trending

01.
6 hari  lalu
Pemkab Langkat Kucurkan Rp8 Miliar Perbaiki Jalan Secanggang, Syah Afandin Target Rampung 2026
02.
5 hari  lalu
HMJ Pendidikan Geografi Lakukan Restorasi Mangrove Dan Sosialisasi Pengolahan Produk Lokal Di Desa Salahaji
03.
6 hari  lalu
HMJ Pendidikan Geografi Lanjutkan Sosialisasi Kebencanaan dan Edukasi di Desa Salahaji
04.
5 hari  lalu
Rico Waas Puji Sikap Objektif Al-Washliyah di Musda XXII, Dinilai Konsisten Kawal Pembangunan Medan
05.
5 hari  lalu
Dr. Abdul Hafiz Kembali Pimpin Al Washliyah Medan Sampai 2031

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Syah Afandin Serukan KONI Langkat Bersatu Dongkrak Prestasi Atlet, Soroti Pemulihan Pasca Banjir
Rico Waas Minta Revitalisasi Stadion Teladan Dikebut
Wagub Surya Lantik 264 Pejabat Fungsional Pemprov Sumut
Tempatkan Sosok Tepat di BAPPERIDA, Gubsu Bobby Nasution Tuai Apresiasi Akademisi
BAZNAS Sumut Salurkan ZIS Rp2,93 Miliar kepada 2.648 Mustahik
Home Trending Cari Bagikan Lainnya