PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) bersama Perum Jasa Tirta I (PJT I) menggelar program konservasi terpadu di tujuh kabupaten/kota kawasan Danau Toba sepanjang 2025.
MEDAN, kaldera.id – Kerusakan daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba terus menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan sumber air, hutan, dan kehidupan masyarakat sekitar.
Menyikapi kondisi tersebut, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) bersama Perum Jasa Tirta I (PJT I) menggelar program konservasi terpadu di tujuh kabupaten/kota kawasan Danau Toba sepanjang 2025.
Program ini difokuskan pada penguatan resapan air, rehabilitasi hutan, serta pemberdayaan masyarakat sebagai upaya menekan degradasi lingkungan di kawasan hulu Danau Toba yang selama ini memicu erosi, sedimentasi, dan krisis air musiman.
Sepanjang 2025, INALUM dan PJT I merealisasikan pembangunan 10.000 lubang biopori, 500 sumur resapan, serta 15 sumur injeksi yang tersebar di Kabupaten Toba, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Simalungun, Samosir, Dairi, dan Karo.
Infrastruktur konservasi air ini ditujukan untuk meningkatkan daya serap tanah dan menjaga ketersediaan air tanah di wilayah hulu.
Kepala Divisi Konservasi dan Penghijauan INALUM, Sunarno A. Rakino, menegaskan bahwa kerusakan ekosistem Danau Toba tidak bisa ditangani dengan pendekatan seremonial. Menurutnya, intervensi harus bersifat terukur, berbasis data, dan melibatkan masyarakat.
“Tekanan terhadap Danau Toba nyata. Jika daerah tangkapan air rusak, maka danau akan menerima dampaknya. Karena itu, konservasi tidak cukup dengan penanaman simbolis, tetapi harus dibarengi penguatan resapan air dan kapasitas masyarakat,” ujar Sunarno.
Selain infrastruktur air, INALUM juga memperkuat rehabilitasi hutan dan lahan kritis dengan menanam 420.000 pohon di area seluas 1.050 hektare. Penanaman difokuskan pada wilayah rawan erosi untuk menekan laju sedimentasi dan menjaga kualitas air Danau Toba.
Di sektor hulu, INALUM membangun tiga Kebun Bibit Rakyat (KBR) berkapasitas total 150.000 bibit per tahun serta Pembibitan Modern Paritohan dengan kapasitas 500.000 bibit per tahun. Fasilitas ini disiapkan untuk menopang penghijauan jangka panjang di kawasan Danau Toba.
Upaya konservasi juga menyasar aspek sosial. INALUM menjalankan Program Sekolah Peduli Lingkungan di 15 sekolah di sekitar Danau Toba untuk membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
Di sisi mitigasi bencana, perusahaan membentuk dan melatih 18 kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) guna mencegah kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di musim kemarau.
Program konservasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang INALUM dalam menjaga Danau Toba sebagai sumber air, ruang hidup masyarakat, dan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).
Dengan pendekatan kolaboratif bersama PJT I dan masyarakat, INALUM menargetkan konservasi tidak berhenti pada proyek tahunan, tetapi memberikan dampak nyata terhadap keberlanjutan ekosistem Danau Toba. (Reza)