Program 1.000 Kolam, Tapsel Mulai ‘Ekspor’ Hasil Panen Ke Mandailing

redaksi
11 Feb 2026 00:17
News Sumut 0 9
3 menit membaca

 

TAPANULI SELATAN, kaladera.id- Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan memanen sebagian hasil budidaya ikan nila dari kolam demplot Program Seribu Kolam di Desa Sitampa Simatoras, Kecamatan Batang Angkola, Rabu, (11/2/2026). Program ini merupakan bagian dari bantuan kolam air tenang Tahun Anggaran 2025 yang digulirkan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. Dari petani kolam pula terungkap bahwa hasil ikan di Tapsel sudah mulai ‘diekspor’ (dijual) ke Mandailing Natal.

Sebanyak 10 ribu benih nila ditebar pada Oktober 2025. Separuhnya diberi perlakuan tambahan probiotik M4, sementara 5 ribu ekor lainnya dibudidayakan tanpa perlakuan sebagai pembanding. Hasil sementara menunjukkan perbedaan pertumbuhan yang mencolok.

“Dari segi bobot dan ukuran, memang lebih besar yang menggunakan perlakuan. Pertumbuhannya lebih cepat,” kata Kepala Dinas Perikanan Tapanuli Selatan, Syaipul AP Nasution, di sela panen.

Dari panen awal, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Berkah Payapuri menghasilkan 400 kilogram ikan. Sebanyak 350 kilogram disalurkan untuk kebutuhan MBG dan 50 kilogram dijual ke masyarakat dengan harga Rp35 ribu per kilogram dalam kondisi siap konsumsi. Pada panen lanjutan, produksi ditargetkan sekitar 300 kilogram, dengan potensi satu kolam diperkirakan menembus lebih dari 2 ton.

Ketua Pokdakan Berkah Payapuri, Perdiyan Saleh Dalimunthe, mengatakan bantuan 10 ribu benih dan sekitar 1,5 ton pakan dari pemerintah daerah menjadi pendorong peningkatan produksi. Sepanjang 2025, kelompoknya mengembangkan 48 kolam baru dari total 52 kolam yang direncanakan.

“Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus meningkatkan produksi dan pemasaran,” ujarnya.

Ketua Pembina Pokdakan Berkah Paya Puri, Syahrul M. Pasaribu, menyebut kawasan tersebut kini memiliki 51 kolam yang dikelola 23 anggota. Sebagian kolam menerapkan pola budidaya dengan tambahan vitamin dan pengelolaan intensif. Hasilnya, untuk kolam perlakuan khusus rata-rata tiga ekor per kilogram, sedangkan metode konvensional empat hingga lima ekor per kilogram.

Meski demikian, ia mengingatkan agar kelompok tidak bergantung pada subsidi pemerintah. “Kalau sudah ada hasil, harus ditabung. Ke depan harus mandiri,” katanya.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menegaskan Program Seribu Kolam bukan sekadar mengejar penghargaan, melainkan memperkuat ketahanan pangan dan asupan protein masyarakat. Program ini sebelumnya meraih SDGs Award dan masuk lima besar tingkat nasional, satu-satunya wakil dari Sumatera.

“Penghargaan itu bonus. Yang utama adalah manfaatnya bagi masyarakat,” ujar Gus Irawan. Ia mengakui cuaca ekstrem dan banjir yang melanda 13 kecamatan sempat menghambat pertumbuhan ikan akibat terganggunya sumber air. Sekitar 2.000 hektare sawah dilaporkan gagal panen. Pemerintah daerah telah melaporkan dampak bencana tersebut ke kementerian terkait dan memasukkannya dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.

Untuk menutup potensi kehilangan produksi pangan, Pemkab juga mendorong peningkatan produktivitas padi melalui penggunaan varietas Gamagora yang dalam uji coba menghasilkan rata-rata 9,75 ton per hektare, di atas rata-rata daerah 5,5 ton per hektare.

Panen demplot di Batang Angkola menjadi model budidaya berbasis teknologi sederhana yang diharapkan dapat direplikasi di desa lain. Pemerintah daerah menargetkan program ini berkembang sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekaligus penopang ketahanan pangan lokal di tengah ancaman inflasi pangan.