Bobby Bidik Pasar Jepang, Lobster Nias dan Tenaga Kerja Sumut Jadi Andalan

redaksi
10 Okt 2026 10:22
Medan News 0 43
3 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – Potensi lobster dari Kepulauan Nias hingga tenaga kerja terampil menjadi modal yang ditawarkan Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution untuk memperluas kerja sama dengan Jepang.

Bobby membuka peluang pengembangan investasi dan kolaborasi di sektor kelautan dan perikanan, sumber daya manusia (SDM), serta pariwisata saat menerima Konsul Jenderal Jepang untuk Sumatera Bagian Utara, Furugori Toru, di ruang kerja Gubernur Sumut, Jumat (9/10/2026).

Bobby menilai hasil laut Kepulauan Nias memiliki peluang untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun luar negeri. Lobster menjadi salah satu komoditas yang disorot karena memiliki peminat besar.

“Karena itu, jika memungkinkan, kita bisa berdiskusi langsung di lapangan untuk melihat bagaimana potensi yang ada di sana. Karena program prioritas kami di Sumatera Utara salah satunya adalah hasil laut dan perikanan. Bagaimana ini bisa menjadi besar,” kata Bobby.

Ia berharap peluang tersebut tidak berhenti pada pembicaraan, tetapi berlanjut pada penjajakan langsung terhadap potensi yang tersedia di lapangan.

Selain sektor perikanan, Bobby juga mendorong penguatan kerja sama pengembangan SDM untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Sumut terus berupaya meningkatkan keterampilan pekerja agar memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja negara tersebut.

“Kami berharap kerja sama untuk pengembangan SDM bisa terus meningkat seiring dengan kebutuhan dari Negara Jepang, di mana Sumatera Utara terus mengembangkan potensi atau meningkatkan kemampuan pekerja kita. Dan bagaimana langkah ini juga menjadi prioritas bagi Jepang,” ujarnya.

Di sisi lain, Furugori menyebut pengembangan SDM, lingkungan, sumber daya energi, dan teknologi pertanian sebagai sejumlah bidang yang berpotensi dikembangkan bersama Sumut.

Menurutnya, pengalaman warga Indonesia yang bekerja di Jepang dapat menjadi bekal untuk meningkatkan keterampilan dan menerapkan pengetahuan saat kembali ke Tanah Air. Jepang juga memiliki teknologi pengolahan limbah industri dan pertanian yang berpeluang mendukung peningkatan produktivitas.

“Untuk pengembangan SDM, warga Indonesia yang bekerja di Jepang bisa membawa pengalamannya bekerja untuk bisa diterapkan di Indonesia. Juga ada teknologi pengolahan limbah industri. Termasuk teknologi pertanian sehingga bisa meningkatkan produksi,” ujar Furugori.

Namun, peluang kerja sama tersebut masih berada pada tahap penjajakan. Belum ada kesepakatan investasi atau nilai investasi yang diumumkan dalam pertemuan tersebut.

Furugori yang akan segera mengakhiri masa tugasnya di Sumut menyatakan akan meneruskan pembahasan itu kepada pejabat penggantinya. Potensi kerja sama tersebut juga akan menjadi bahan pembicaraan dalam pertemuan di Kedutaan Jepang di Jakarta.

“Saya akan sampaikan ini kepada penerus nantinya yang akan menggantikan saya. Agar kerja sama yang telah terjalin selama ini, bisa ditingkatkan lagi,” katanya.

Furugori sekaligus berpamitan kepada Bobby menjelang kepulangannya ke Jepang. Pada akhir pertemuan, Bobby menyerahkan cendera mata sebagai tanda terima kasih atas hubungan kerja sama yang telah terjalin. (Reza)