Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Rabu, 04 Mar 2026
Zakiyuddin Harahap Salurkan Bantuan Tahap II Korban Siklon Senyar di Medan
THR Wajib Cair H-7 Lebaran, Perusahaan Membandel Bakal Disanksi Tegas
Bupati Langkat Salurkan Bantuan Stimulan Tahap II, PastikanTidak Ada Pemotongan untuk Korban Banjir Langkat
Gubernur Bobby Berangkatkan Qori Asal Paluta Umroh
Polda Sumut Sita 14 Ekskavator di Tambang Emas Ilegal Madina, 7 Orang Turut Diamankan
PAD Hanya Rp400 Juta, Komisi 3 Desak PUD Pasar Hentikan Kerjasama Pihak Ketiga
Pemko Medan Percepat Syarat Pembangunan Rusun Seruwai 2026
Dishub Medan Tegaskan Penurunan Tarif Parkir Sesuai Perda No.1/2024
Bobby Nasution Tegaskan Pemprov Segera Perbaiki 3 Ruas Jalan Provinsi di Paluta
DPRD Medan Tolak PHK 100 Honorer PUD Pasar, Minta Dirut Evaluasi Internal
Zakiyuddin Harahap Salurkan Bantuan Tahap II Korban Siklon Senyar di Medan
THR Wajib Cair H-7 Lebaran, Perusahaan Membandel Bakal Disanksi Tegas
Bupati Langkat Salurkan Bantuan Stimulan Tahap II, PastikanTidak Ada Pemotongan untuk Korban Banjir Langkat
Gubernur Bobby Berangkatkan Qori Asal Paluta Umroh
Polda Sumut Sita 14 Ekskavator di Tambang Emas Ilegal Madina, 7 Orang Turut Diamankan
PAD Hanya Rp400 Juta, Komisi 3 Desak PUD Pasar Hentikan Kerjasama Pihak Ketiga
Pemko Medan Percepat Syarat Pembangunan Rusun Seruwai 2026
Dishub Medan Tegaskan Penurunan Tarif Parkir Sesuai Perda No.1/2024
Bobby Nasution Tegaskan Pemprov Segera Perbaiki 3 Ruas Jalan Provinsi di Paluta
DPRD Medan Tolak PHK 100 Honorer PUD Pasar, Minta Dirut Evaluasi Internal
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 493
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Ketua Korbid Kepartaian, Rolel Harahap.
Baca Juga
Pro Kontra RUU HIP, Ini Kata Golkar Sumut
16 Jun 2020

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Gus Irawan Pasaribu
Baca Juga
Gus Irawan Minta Pemerintah Hitung Ulang Anggaran IKN
14 Jun 2022

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
Menyoal Tuduhan Self-Plagiarism
Relawan Terus Bertambah, Kemenangan Prabowo-Gibran Satu Putaran Semakin Nyata
Konflik PKS dan Balon Pilkada Sibolga Berujung Saling Memaafkan
BPK Serahkan LHP Semester II 2025, Bobby Nasution Harapkan Sinkronisasi Program dan Kebutuhan Masyarakat
Komisi 2 Minta Tunjangan Fungsional Guru Segera Direalisasikan
Soekirman Mantan Bupati Sergai, jadi Tamu Kehormatan Pemerintah Filipina di KTT GAOD

Pos Terkait

Walikota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution melantik 77 pejabat eselon III dan IV (lurah) di lingkungan Pemko Medan di Halaman Tengah Kantor Walikota Medan, Rabu (19/5/2021).
4 tahun  lalu
Ody Dody Jadi Kabid, Topan Ginting Jadi Kabag
Iswar Lubis
1 tahun  lalu
Pengelolaan Diambil Alih Pemko Medan, Naik Bus Trans Metro Deli Kembali Gratis
Nazura
3 tahun  lalu
Fokus, Kunci Kemenangan Nazura di Partai Semifinal Kejurkot PBSI Medan
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi
4 tahun  lalu
Sopir Angkot Tabrak Kereta Api Positif Konsumsi Narkoba
MFF Tahun lalu
1 tahun  lalu
MFF 2024 Segera Digelar, Expanding Creativity
5 tahun  lalu
Empat Pegawai RS Djasamen Saragih Tersangka Mandikan Jenazah Perempuan

Trending

01.
4 hari  lalu
Usung Misi Patahkan Rekor Lawan, PSMS Medan Siap Bangkit di Markas Bekasi City
02.
3 hari  lalu
PSMS Medan Kalah 1-2 dari FC Bekasi City, Eko Purdjianto Soroti Kepemimpinan Wasit
03.
6 hari  lalu
1.427 Huntara Dikebut, 40 Korban Bencana Sumut Masih Hilang
04.
5 hari  lalu
Safari Ramadan di Sei Lepan, Bupati Langkat Kucurkan Rp60 Juta untuk Masjid dan Buka Ramadan Fair
05.
6 hari  lalu
Syah Afandin Lepas Tim Safari Ramadhan 1447 H, Tegaskan Pemkab Langkat Harus Hadir untuk Rakyat

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Polda Sumut Sita 14 Ekskavator di Tambang Emas Ilegal Madina, 7 Orang Turut Diamankan
Bupati Langkat Salurkan Bantuan Stimulan Tahap II, PastikanTidak Ada Pemotongan untuk Korban Banjir Langkat
Gubernur Bobby Berangkatkan Qori Asal Paluta Umroh
THR Wajib Cair H-7 Lebaran, Perusahaan Membandel Bakal Disanksi Tegas
Zakiyuddin Harahap Salurkan Bantuan Tahap II Korban Siklon Senyar di Medan
Home Trending Cari Bagikan Lainnya