Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Rabu, 06 Mei 2026
Medan Jadi Pilot Project BRT, Rico Waas Siap Percepat Implementasi
Rico Waas Dorong BPS Jadi Warning System Pengendali Inflasi di Medan
Bobby Nasution Ingatkan BPJS Kesehatan Utamakan Kualitas Layanan
Pemprov Sumut Kucurkan Rp443 Miliar, Bobby Nasution Tekankan Keseimbangan Belanja Daerah
Bupati Dorong Modernisasi Pertanian Tingkatkan Produktivitas
DPRD Medan Minta Disdik Larang Pungutan Uang Perpisahan
Ketua TP PKK Langkat Sumbang Sepeda, Meriahkan Peresmian Kampung Binaan Polres
Syah Afandin Pimpin Hardiknas 2026, Tegaskan Komitmen Majukan Pendidikan Langkat
Wabup Tekankan Integritas Majelis Hakim di MTQ ke-59
Rico Waas Tekankan Optimalisasi Aset BUMD, Dorong Transparansi dan Sinergi Investasi
Medan Jadi Pilot Project BRT, Rico Waas Siap Percepat Implementasi
Rico Waas Dorong BPS Jadi Warning System Pengendali Inflasi di Medan
Bobby Nasution Ingatkan BPJS Kesehatan Utamakan Kualitas Layanan
Pemprov Sumut Kucurkan Rp443 Miliar, Bobby Nasution Tekankan Keseimbangan Belanja Daerah
Bupati Dorong Modernisasi Pertanian Tingkatkan Produktivitas
DPRD Medan Minta Disdik Larang Pungutan Uang Perpisahan
Ketua TP PKK Langkat Sumbang Sepeda, Meriahkan Peresmian Kampung Binaan Polres
Syah Afandin Pimpin Hardiknas 2026, Tegaskan Komitmen Majukan Pendidikan Langkat
Wabup Tekankan Integritas Majelis Hakim di MTQ ke-59
Rico Waas Tekankan Optimalisasi Aset BUMD, Dorong Transparansi dan Sinergi Investasi
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 596
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Syaiful Ramadhan
Baca Juga
Syaiful Ramadhan Hadirkan Kampoeng Ramadhan ke-4 di Kampung Aur, UMKM Semakin Bergairah!
11 Mar 2025

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Koordinator L2Dikti Wilayah 1, Prof. Dian Armanto.
Baca Juga
Rilis 4ICU 2020, UMSU Peringkat 1 PTS di Sumatera Utara
03 Jun 2020

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
China Batalkan Perayaan Imlek, Disneyland Tutup
Komisi 1 DPRD Medan Dorong Penambahan Mesin ADM untuk Pelayanan yang Lebih Cepat
FJPI Sumut dan SMSI Siap Berkolaborasi Tingkatkan Kapasitas Jurnalis
Akhyar Himbau Laksanakan Shalat Jumat di Masjid
OJK Sumut Terima Ratusan Aduan Pinjol dan Investasi Bodong Sepanjang Tahun 2025
Wali Kota Medan Apresiasi PN Medan sebagai Pengadilan Terlengkap di Indonesia

Pos Terkait

5 tahun  lalu
Empat Hari Hilang Jatuh ke Sungai, Isharyani Ditemukan Meninggal
Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap oknum anggota DPRK Bireuen, Aceh berinisial US.
5 tahun  lalu
Selundupkan Sabu 25 kg, Oknum Anggota DPRK Bireuen Ditangkap BNN
Gubernur Sumut Surya bersama Wakil Gubernur Jambi
4 bulan  lalu
Wagub Sumut Terima Bantuan Rp550 Juta dari Pemprov Jambi untuk Korban Bencana
Kader PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo dan Bobby Nasution saat kunjungi spot di Kota Medan.
5 tahun  lalu
Ganjar Terkesan Program Creative Hub Bobby Nasution
DPD Partai Gerindra Sumut memperingati Nuzulul Quran 1444 H, sekaligus buka puasa bersama anak yatim piatu. Kegiatan berlangsung di Kantor DPD Partai Gerindra Sumut, Jalan Sudirman, Sabtu (8/4/2023).
3 tahun  lalu
Gerindra Sumut Buka Puasa Bersama Dan Peringati Nuzulul Quran
Walikota Medan, Bobby Nasution saat di M Blok Atrium
3 tahun  lalu
Naikkan Kelas Pelaku UMKM, Kuliner Medan Dipamerkan di Jaksel

Trending

01.
6 hari  lalu
Deklinasi Bulutangkis Nasional
02.
5 hari  lalu
Bupati Deli Serdang Bangun UMKM Central, Targetkan Pelaku Usaha Naik Kelas
03.
3 hari  lalu
Hardiknas 2026, Bupati Deli Serdang Paparkan Kondisi dan Perbaikan Pendidikan
04.
6 hari  lalu
Gubernur Bobby Tetapkan Juknis SPMB 2026/2027, Penerimaan Siswa Wajib Transparan dan Berkeadilan
05.
3 hari  lalu
Persiraja vs PSMS Imbang 1-1, Gol Menit Akhir Buyarkan Kemenangan Tamu

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Bobby Nasution Doakan Sumut Bebas Bencana dan Narkoba
Bupati Syah Afandin Dorong Sinergi Jaga Desa dan Ketahanan Pangan
Solidaritas Sumatera Menguat, Bobby Nasution Apresiasi Bantuan Pemprov Lampung untuk Korban Bencana
Wabup Tekankan Integritas Majelis Hakim di MTQ ke-59
Rico Waas Tekankan Optimalisasi Aset BUMD, Dorong Transparansi dan Sinergi Investasi
Home Trending Cari Bagikan Lainnya