Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Kamis, 09 Apr 2026
Komisi 4 Soroti Kebocoran PAD PBG, OPD Dinilai Abaikan Perintah Wali Kota
Syah Afandin Antar Langkat Raih Penghargaan Nasional Pembangunan Keluarga Berkualitas 2026
Sebanyak 8 Unit Rumah Tanpa PBG di Medan Tembung Berdiri Bebas
Longsor Sembahe, Polda Sumut Kerahkan Brimob, 3 Korban Tewas
Pemko Medan Diminta Segera Reformasi Puskesmas
Tekan Kebocoran dan Maksimalkan PAD, Dewan Minta Sistem Digitalisasi Pajak Daerah Diterapkan
Komisi 2 Minta Anggaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ditambah
Terkait BLT, Komisi 1 Minta Kepling 1 Kelurahan Harjosari II Dipecat
Pelayanan Kesehatan Disorot, Masyarakat Masih Banyak Berobat ke Luar Negeri
Medan Targetkan 25 Ruas Jalan Bebas Kabel Semrawut Tahun Ini
Komisi 4 Soroti Kebocoran PAD PBG, OPD Dinilai Abaikan Perintah Wali Kota
Syah Afandin Antar Langkat Raih Penghargaan Nasional Pembangunan Keluarga Berkualitas 2026
Sebanyak 8 Unit Rumah Tanpa PBG di Medan Tembung Berdiri Bebas
Longsor Sembahe, Polda Sumut Kerahkan Brimob, 3 Korban Tewas
Pemko Medan Diminta Segera Reformasi Puskesmas
Tekan Kebocoran dan Maksimalkan PAD, Dewan Minta Sistem Digitalisasi Pajak Daerah Diterapkan
Komisi 2 Minta Anggaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ditambah
Terkait BLT, Komisi 1 Minta Kepling 1 Kelurahan Harjosari II Dipecat
Pelayanan Kesehatan Disorot, Masyarakat Masih Banyak Berobat ke Luar Negeri
Medan Targetkan 25 Ruas Jalan Bebas Kabel Semrawut Tahun Ini
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 549
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Rico Waas saat menerima audiensi manajemen PSMS di Balai Kota Medan, Kamis (26/6/2025).
Baca Juga
Rico Waas Tawarkan Lapangan Kebun Bunga & Taman Cadika Sebagai Tempat Latihan PSMS
27 Jun 2025

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Plt Walikota Medan, Akhyar Nasution
Baca Juga
Kerja Tak Pakai Ilmu, Jalan di Medan Mudah Rusak
27 Feb 2020

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
Pemkab Langkat Ikut FGD PI 10% SKK Migas
Bobby Nasution Larang ASN Sumut Mudik Pakai Mobil Dinas
Gubsu Heran Medan-Sibolga Masuk Level 4 Penyebaran Covid-19
Pemprovsu Batalkan PPPK, Puluhan Guru Mengadu ke DPRD Sumut
Dosen IKO FISIP UMSU jadi Pembicara Konferensi Internasional Komunikasi
UINSU Tuan Rumah Konferensi Internasional Sosiologi Agama, Bahas Agama dalam Pusaran Politik

Pos Terkait

Kementerian Agama menyatakan perlunya penguatan opini keagamaan melalui fatwa ulama untuk pelindungan jemaah lansia dan risti dalam skema Haji Ramah Lansia Aman dan Nyaman 1445 H/2024 M.
1 tahun  lalu
Kemenag Nyatakan Perlu Penguatan Opini Keagamaan Untuk Perlindungan Haji Ramah Lansia 2024
Kunjungan Medan Equestrian Club (MEC) salah satu komunitas penunggang kuda di Taman Edukasi Buah Cakra.
5 tahun  lalu
Dikomandoi ME Ginting, MEC Jajal Taman Edukasi Buah Cakra
4 bulan  lalu
Gubernur Bobby Tetapkan Status Tanggap Darurat Atas Bencana Banjir, Tanah Longsor, dan Gempa Bumi
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
3 tahun  lalu
Menjadi Tersangka, KPK Minta Hakim Agung Dimyati Bersikap Kooperatif Menyerahkan Diri
Suasana Jalanan yang di datangi monyet - monyet dan berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk india.
6 tahun  lalu
India Lockdown, Ratusan Monyet dan Gajah Kuasai Jalanan
Kasus Kematian Pertama Akibat Corona Di Singapura, Satu WNI
6 tahun  lalu
Kasus Kematian Pertama Akibat Corona Di Singapura, Satu WNI

Trending

01.
4 hari  lalu
Laga Hidup Mati PSMS, Wajib Menang Atas Persikad
02.
6 hari  lalu
Ini Rahasia Gus Irawan Akses Bantuan Pusat Yang Buat Presiden Sampai Menteri Bergantian Datang Ke Tapsel
03.
6 hari  lalu
Pemprov Sumut Buka Seleksi Komisioner Informasi 2026–2030, Pendaftaran Mulai 6 April
04.
6 hari  lalu
Drop-off 2 Menit Tetap Bayar Rp5 Ribu di Plaza Medan Fair, Bapenda Disorot
05.
4 hari  lalu
Kanal Titi Kuning Darurat Sampah, Camat Medan Johor Tegas Minta Solusi Cepat

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Longsor Sembahe, Polda Sumut Kerahkan Brimob, 3 Korban Tewas
Sebanyak 8 Unit Rumah Tanpa PBG di Medan Tembung Berdiri Bebas
Komisi 4 Soroti Kebocoran PAD PBG, OPD Dinilai Abaikan Perintah Wali Kota
Syah Afandin Antar Langkat Raih Penghargaan Nasional Pembangunan Keluarga Berkualitas 2026
Home Trending Cari Bagikan Lainnya