Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Selasa, 07 Apr 2026
Bobby Dorong Bank Sumut Naik ke KBMI 2
Pemkab Langkat – TNI Bersinergi, Jembatan Gantung Kuala Dibangun
Bupati Langkat Buka Dialog MUI, Tekankan Persatuan
DPRD Medan Desak Perwal Kesehatan Segera Terbit
Dituduh Mencuri, Pria Tikam Saudara Kandung hingga Tewas
Bobby Nasution Terima Kadet Dunia di Medan, Dorong Diplomasi Maritim dan Persahabatan Global
Pemko Medan Genjot Inovasi Pelestarian Budaya Melayu
Bansos Medan Disorot, Fraksi PDI Perjuangan Desak Wali Kota Segera Benahi Warga Miskin Terabaikan
Fraksi PKS Desak Pemko Benahi Akses dan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan
Hari Nelayan Nasional 2026, Dewan Minta Segera Atasi Solar Langka di Belawan
Bobby Dorong Bank Sumut Naik ke KBMI 2
Pemkab Langkat – TNI Bersinergi, Jembatan Gantung Kuala Dibangun
Bupati Langkat Buka Dialog MUI, Tekankan Persatuan
DPRD Medan Desak Perwal Kesehatan Segera Terbit
Dituduh Mencuri, Pria Tikam Saudara Kandung hingga Tewas
Bobby Nasution Terima Kadet Dunia di Medan, Dorong Diplomasi Maritim dan Persahabatan Global
Pemko Medan Genjot Inovasi Pelestarian Budaya Melayu
Bansos Medan Disorot, Fraksi PDI Perjuangan Desak Wali Kota Segera Benahi Warga Miskin Terabaikan
Fraksi PKS Desak Pemko Benahi Akses dan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan
Hari Nelayan Nasional 2026, Dewan Minta Segera Atasi Solar Langka di Belawan
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 546
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Kabar duka datang dari Wakil Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah. Ayahnya, Haji Anif menghembuskan nafas terakhir, Rabu (25/8/2021).
Baca Juga
Haji Anif, Ayah Wagubsu Ijeck Tutup Usia
25 Agu 2021

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Wallarahman
Baca Juga
Merasa Tidak Adil, FGBSU Minta Pemko Cabut Perwal No1/2023
26 Agu 2025

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
Lari Lintas Alam Trail of The Kings Danau Toba Berakhir, Tuan Rumah Domaninasi Tiga Besar
Tatap Muka Dengan Wartawan, Akhyar Sampaikan Persoalan Kota Belum Terselesaikan
Video Siswa SMP Merokok Viral, Bupati Deli Serdang Perintahkan Sanksi Tegas
Jadi Ketum Versi KLB, Moeldoko Punya KTA Khusus
Aulia: Apapun Ceritanya, Medan Kota Melayu, Kita Semua Hidup Akur dan Damai
GP Ansor Sumut: Gubsu Nasihati Kami, Video bukan untuk Publik

Pos Terkait

Rapat Paripurna DPRD Kota Medan dengan agenda penyampaian nota jawaban atas pandangan umum fraksi-fraksi terkait Ranperda Perubahan APBD 2025 digelar di ruang sidang DPRD Kota Medan, Senin (8/9/2025).
7 bulan  lalu
Jawaban Walikota Atas Pandangan Fraksi DPRD, Tegaskan Komitmen Pembangunan dan Pelayanan Publik
6 tahun  lalu
Masjid Kantor Walikota Medan Tiadakan Salat Jumat
Rico Waas- Zakiyudin
1 tahun  lalu
Didukung Koalisi Besar, Pasangan Rico – Zaki Daftar ke KPU Medan
Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution melantik 60 pejabat administrator dan pengawas di lingkungan Pemerintahan Provinsi Sumut.
9 bulan  lalu
Lantik 60 Pejabat Administrator dan Pengawas, Bobby Nasution Minta Empat Hal Ini
Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus TPI Medan.
6 tahun  lalu
Kantor Imigrasi Medan Tunggu Surat Cabut Bebas Visa Ke China
Gus Irawan Pasaribu
1 tahun  lalu
Gus Irawan Didaulat Maju Jadi Cagubsu 2024

Trending

01.
6 hari  lalu
Banjir Besitang, 1.381 Keluarga Terdata, Pemkab Langkat Siapkan Verifikasi Ulang
02.
6 hari  lalu
DPRD Medan Desak Dishub Serius Benahi Parkir Liar, Tim Cakrawala Jangan Setengah Hati
03.
6 hari  lalu
Pemprov Sumut Bangun Dua Ruas Jalan Strategis Toba–Labura, Anggaran Rp91,8 Miliar
04.
6 hari  lalu
Pujian Mendagri dan Menteri PKP Terkait Kecepatan Penangan Bencana, Bukti Pemkab Tapsel Rigit Dalam Data Dan Transparansi
05.
5 hari  lalu
Bobby Nasution Desak Proyek Stadion Teladan 3 Shift, Target Rampung Mei 2026

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Pemkab Langkat – TNI Bersinergi, Jembatan Gantung Kuala Dibangun
Bupati Langkat Buka Dialog MUI, Tekankan Persatuan
Bobby Nasution Terima Kadet Dunia di Medan, Dorong Diplomasi Maritim dan Persahabatan Global
Dituduh Mencuri, Pria Tikam Saudara Kandung hingga Tewas
Pemko Medan Genjot Inovasi Pelestarian Budaya Melayu
Home Trending Cari Bagikan Lainnya