Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Sabtu, 29 Nov 2025
Gubernur Bobby Tinjau Pengungsi di Tapteng, Pastikan Kebutuhan Anak dan Perempuan Jadi Prioritas
APBD Sumut 2026 Sebesar Rp11,67 Triliun, Bobby Nasution: Fokuskan untuk Penguatan Ekonomi Daerah
Hujan Mereda, Wali Kota Medan Percepat Evakuasi Warga Terdampak Banjir
Warga Medan Petisah Resah, Material Bangunan Sekolah Jatuh Menimpa Rumah
Komisi 3 DPRD Medan Sidak Tempat Hiburan Malam, Pastikan Kepatuhan Pajak
Kelangkaan Gas LPG 3 Kg di Medan Utara, Wakil Ketua DPRD Medan: Aparat Harus Tindak Tegas Oknum Penimbun
DPRD Medan Ingatkan Lurah Patuhi Perwal dalam Pengangkatan Kepling
Dugaan Kecurangan Seleksi Kepling di Medan Baru, DPRD Medan Gelar RDP
Dewan Desak Kepala UPT SDABMBK Medan Polonia Mundur Jika Tak Mampu Berikan Kinerja Optimal
Radang Paru, Barbie Hsu Pemeran Sancai Meteor Garden Meninggal
Gubernur Bobby Tinjau Pengungsi di Tapteng, Pastikan Kebutuhan Anak dan Perempuan Jadi Prioritas
APBD Sumut 2026 Sebesar Rp11,67 Triliun, Bobby Nasution: Fokuskan untuk Penguatan Ekonomi Daerah
Hujan Mereda, Wali Kota Medan Percepat Evakuasi Warga Terdampak Banjir
Warga Medan Petisah Resah, Material Bangunan Sekolah Jatuh Menimpa Rumah
Komisi 3 DPRD Medan Sidak Tempat Hiburan Malam, Pastikan Kepatuhan Pajak
Kelangkaan Gas LPG 3 Kg di Medan Utara, Wakil Ketua DPRD Medan: Aparat Harus Tindak Tegas Oknum Penimbun
DPRD Medan Ingatkan Lurah Patuhi Perwal dalam Pengangkatan Kepling
Dugaan Kecurangan Seleksi Kepling di Medan Baru, DPRD Medan Gelar RDP
Dewan Desak Kepala UPT SDABMBK Medan Polonia Mundur Jika Tak Mampu Berikan Kinerja Optimal
Radang Paru, Barbie Hsu Pemeran Sancai Meteor Garden Meninggal
Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 221
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Kaban Kesbangpol dan Linmas Kota Medan, Sulaiman Harahap dan Ketua KPU Kota Medan, Agussyah R Damanik
Baca Juga
Sabtu Ini KPU Simulasikan Proses Pencoblosan di TPS
14 Okt 2020

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Arya Sinulingga
Baca Juga
Direktur PT Waskita Karya Jadi Tersangka Korupsi, Kementrian BUMN Buka Suara
06 Des 2022

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
Tak Tunggu AMJ, Gubsu Segera Lantik Walikota Pematangsiantar Terpilih
Sakhyan Asmara: Mahasiswa Harus Kritis dan Kreatif
Pelatda PON Anggar di Atas Trotoar
Seleksi PUMD Medan dan Dinamika Pendukung Bobby-Aulia
UEFA Nation League: Tumpas Belgia, Italia Juara Tiga
Soal KLB di Sibolangit, Demokrat Sumut: Mereka Barisan Sakit Hati

Pos Terkait

Walikota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution bersama Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Riko Sunarko dan Dandim 0201/BS, Kol Inf Agus Setiandar meninjau pos penyekatan di Jalan Djamin Ginting Medan, Selasa (11/5/2021).
4 tahun  lalu
Tinjau Pos Penyekatan, Bobby Temukan Satu Pengendara Positif Covid-19
Wali Kota Medan Bobby Nasution mengajak masyarakat memaknai hari besar Islam ini dengan saling memaafkan, bersillaturahim dan berbagi.
1 tahun  lalu
Bobby Nasution Ajak Masyarakat Maknai Idul Fitri Dengan Saling Memaafkan
4 tahun  lalu
Dua Mantan Kades Terseret Kasus Mafia Tanah Sport Centre
Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi
4 tahun  lalu
Tugas Pertama dari Gubsu Edy untuk 6 Kdh yang Dilantik
Firsal Ferial Mutyara
1 tahun  lalu
Kurangi Pengangguran, Pergub Keanggotaaan Kadin Sumut Diperlukan
Arsenal semakin membuka persaingan dalam perebutan satu tiket tersisa Liga Champions musim depan setelah menang 3-1 atas tamunya Manchester United, Sabtu (23/4/2022).
3 tahun  lalu
Menang Dari MU, Arsenal Buka Peluang Tampil di Liga Champions Musim Depan

Trending

01.
9 menit  lalu
Hujan Mereda, Wali Kota Medan Percepat Evakuasi Warga Terdampak Banjir
02.
5 menit  lalu
APBD Sumut 2026 Sebesar Rp11,67 Triliun, Bobby Nasution: Fokuskan untuk Penguatan Ekonomi Daerah

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Hujan Mereda, Wali Kota Medan Percepat Evakuasi Warga Terdampak Banjir
APBD Sumut 2026 Sebesar Rp11,67 Triliun, Bobby Nasution: Fokuskan untuk Penguatan Ekonomi Daerah
Home Trending Cari Bagikan Lainnya