Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Jumat, 20 Mar 2026
Gubernur Bobby Salurkan 10 Ekor Sapi untuk Korban Bencana di Tapsel dan Tapteng Jelang Lebaran
Terharu! GIS Medan Santuni Guru Ngaji Jelang Lebaran
Hilal Belum Terlihat, Ramadan Digenapkan 30 Hari
INALUM Berangkatkan 140 Pemudik Gratis, Suasana Haru Warnai Pelepasan
Harukan Hati, GIS Medan Ajak 50 Anak Yatim Belanja Baju Lebaran di Mal
400 Anak Yatim Belanja Baju Lebaran, Rico Waas: Semua Harus Bahagia
Bobby Nasution Ingatkan Pers, Bebas Boleh, Tapi Harus Sesuai Fakta
Saipul Bahri Dukung Fokus Pembangunan Medan Utara, Soroti Ketimpangan
Bobby Nasution Bagi THR, Pekerja Informal di Medan Tersenyum
Transisi Energi Berkelanjutan dalam Perspektif Islam: Prinsip Adil dan Sedekah Energi
Gubernur Bobby Salurkan 10 Ekor Sapi untuk Korban Bencana di Tapsel dan Tapteng Jelang Lebaran
Terharu! GIS Medan Santuni Guru Ngaji Jelang Lebaran
Hilal Belum Terlihat, Ramadan Digenapkan 30 Hari
INALUM Berangkatkan 140 Pemudik Gratis, Suasana Haru Warnai Pelepasan
Harukan Hati, GIS Medan Ajak 50 Anak Yatim Belanja Baju Lebaran di Mal
400 Anak Yatim Belanja Baju Lebaran, Rico Waas: Semua Harus Bahagia
Bobby Nasution Ingatkan Pers, Bebas Boleh, Tapi Harus Sesuai Fakta
Saipul Bahri Dukung Fokus Pembangunan Medan Utara, Soroti Ketimpangan
Bobby Nasution Bagi THR, Pekerja Informal di Medan Tersenyum
Transisi Energi Berkelanjutan dalam Perspektif Islam: Prinsip Adil dan Sedekah Energi
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 519
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Walikota Medan, Bobby Nasution menyulangi nasi tumpeng kepada Ketua DPC Partai Gerindra Kota Medan, Ikhwan Ritonga
Baca Juga
Bobby Ajak Gerindra Sukseskan Program Pemko Medan
12 Feb 2022

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Akhyar Nasution saat membuka Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) KONI Kota Medan di Garuda Plaza Hotel Medan, Sabtu (1/2/2020).
Baca Juga
Stadion Teladan dan Stadion Kebun Bunga Bakal Dimaksimalkan
01 Feb 2020

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
Gus Irawan: Harga CPO dan Minyak Mentah Dunia Naik, Beban Subsidi Biosolar Makin Berat
Musda Golkar Sumut Ditunda
Syah Afandin Serahkan Penghargaan Kecamatan dan Kelurahan Terbaik 2025
Baskami Tunggu Langkah Aparat Putus Mata Rantai Penyebaran Narkoba
Kepala Bapenda Akui Kenaikan Tarif PBB Berdasarkan Kajian Akurat
Kalah 0-1 di Kandang Sendiri, Posisi Napoli Kembali Disalip Milan

Pos Terkait

Teridentifikasi sudah 7 korban jiwa terbakarnya kapal tanker Jag Leela, yang langsung diserahkan Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin di RS Bhayangkara, Jalan KH Wahid Hasyim Medan
5 tahun  lalu
Teridentifikasi, Ini Nama 7 Korban Jiwa Kapal Jag Leela
Ilustrasi. (ist)
6 tahun  lalu
Senin Depan, Jamaah Umrah asal Indonesia Pulang Semua
Ketua DPRD Kota Medan, Hasyim mendukung penuh kehadiran Federasi Serikat Buruh Pekerja Karya (FSBPK) di Kota Medan.
3 tahun  lalu
Ketua DPRD Medan Dukung Penuh Kehadiran FSBPK
Jubir Tim Gugus Tugas Covid-19 Asahan, Rahmad Hidayat Siregar
5 tahun  lalu
Pemkab Asahan Mulai Salurkan BST JPS Kepada 56.418 KPM
Piala Kemerdekaan 2025 resmi berakhir dengan Timnas Mali U-17 meraih juara setelah dalam laga penutup mengalahkan Timnas Indonesia U-17 dengan skor 2-1 di Stadion Utama Sumatera Utara, Senin (18/7/2025).
7 bulan  lalu
Piala Kemerdekaan Berakhir Sukses, Bobby Siap Gelar Event Internasional Berikutnya
Lailatul Badri
1 tahun  lalu
Personel Satpol PP Kota Medan Diminta Lebih Berani Tertibkan Bangunan Tanpa Izin

Trending

01.
6 hari  lalu
Wagub Surya Lantik 264 Pejabat Fungsional Pemprov Sumut
02.
6 hari  lalu
Rico Waas Lantik 4 Pejabat Tinggi Pratama, Ini Nama – namanya
03.
6 hari  lalu
Rico Waas Minta Revitalisasi Stadion Teladan Dikebut
04.
5 hari  lalu
Survei LIPDem: 85 Persen Warga Puas Kinerja Bobby Nasution–Surya Pimpin Sumut
05.
6 hari  lalu
Syah Afandin Serukan KONI Langkat Bersatu Dongkrak Prestasi Atlet, Soroti Pemulihan Pasca Banjir

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Hilal Belum Terlihat, Ramadan Digenapkan 30 Hari
Terharu! GIS Medan Santuni Guru Ngaji Jelang Lebaran
Gubernur Bobby Salurkan 10 Ekor Sapi untuk Korban Bencana di Tapsel dan Tapteng Jelang Lebaran
Home Trending Cari Bagikan Lainnya