Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Rabu, 08 Apr 2026
Sebanyak 8 Unit Rumah Tanpa PBG di Medan Tembung Berdiri Bebas
Longsor Sembahe, Polda Sumut Kerahkan Brimob, 3 Korban Tewas
Pemko Medan Diminta Segera Reformasi Puskesmas
Tekan Kebocoran dan Maksimalkan PAD, Dewan Minta Sistem Digitalisasi Pajak Daerah Diterapkan
Komisi 2 Minta Anggaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ditambah
Terkait BLT, Komisi 1 Minta Kepling 1 Kelurahan Harjosari II Dipecat
Pelayanan Kesehatan Disorot, Masyarakat Masih Banyak Berobat ke Luar Negeri
Medan Targetkan 25 Ruas Jalan Bebas Kabel Semrawut Tahun Ini
Pemprov Sumut Genjot Sertifikasi dan Tertibkan Aset
Bobby Dorong Bank Sumut Naik ke KBMI 2
Sebanyak 8 Unit Rumah Tanpa PBG di Medan Tembung Berdiri Bebas
Longsor Sembahe, Polda Sumut Kerahkan Brimob, 3 Korban Tewas
Pemko Medan Diminta Segera Reformasi Puskesmas
Tekan Kebocoran dan Maksimalkan PAD, Dewan Minta Sistem Digitalisasi Pajak Daerah Diterapkan
Komisi 2 Minta Anggaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ditambah
Terkait BLT, Komisi 1 Minta Kepling 1 Kelurahan Harjosari II Dipecat
Pelayanan Kesehatan Disorot, Masyarakat Masih Banyak Berobat ke Luar Negeri
Medan Targetkan 25 Ruas Jalan Bebas Kabel Semrawut Tahun Ini
Pemprov Sumut Genjot Sertifikasi dan Tertibkan Aset
Bobby Dorong Bank Sumut Naik ke KBMI 2
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 548
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Andres Willy Simanjuntak
Baca Juga
Ini Mekanisme Kerjasama Media di Sekretariat DPRD Medan
18 Apr 2025

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Wakil Rektor I Universitas Sumatera Utara (USU) Dr Edy Ikhsan, mewakili Rektor USU secara resmi membuka Musyawarah Gugus (Mugus) Depan Kota Medan 08.137 dan 08.138 Pangkalan USU yang diselenggarakan pada Jumat (22/10/2021) di ex-Aula LPPM USU, Jalan Dr Mansyur.
Baca Juga
Mugus Pramuka USU, WR I: Bertransformasi untuk Jadi Gugus Depan Unggul di Indonesia
23 Okt 2021

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
Pemisahan Bayi Kembar Siam di RSUP Adam Malik Masih Berlangsung
Ini Suara Hati Muyasaroh, Peserta MTQ Sumut yang Diminta Buka Cadar
Gunung Sinabung Erupsi Pagi Tadi, Tinggi Kolom Abu 1,5 Km
Istiqlal Tiadakan Shalat Jumat Sampai 19 April
Gus Irawan Motivasi Atlet Paralayang Asal Tapsel yang Bertanding PON 2024
Sedih, Chelsea Tumbang di Kandang Sendiri Berkat Gol Mahrez

Pos Terkait

Pemain PSMS Medan As Syifa Marhaen berusaha melewati hadangan pemain Persiraja Banda Aceh saat kedua tim bertemu dalam lanjutan Liga 2 di Stadion Utama Sumatera Utara, Sabtu (25/10/2025) malam. Dalam laga tersebut PSMS Medan menang 1-0 lewat gol Rifal Lastori. Foto: Tim Media PSMS Medan
5 bulan  lalu
Gol Lastori Menangkan PSMS di Kandang
Panitia Pemungutan Suara (PPS) untuk Pilkada Kota Medan 2020 dilantik oleh Ketua KPU Kota Medan, Agussyah R Damanik.
5 tahun  lalu
Pemko Apresiasi KPU Medan Terapkan Protokol Kesehatan pada Pelantikan PPS
Penjabat (Pj) Bupati Langkat, M. Faisal Hasrimy, yang turut hadir dalam acara ini, memberikan apresiasi tinggi kepada Bitra Indonesia atas kontribusinya dalam mendorong pertanian sehat.
1 tahun  lalu
Pj Bupati Langkat Apresiasi Bitra Indonesia, Dorong Pertanian Sehat dan Berkelanjutan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
6 tahun  lalu
Rp72 M Disiapkan untuk Influencer Hambat Virus Corona
Usai meninjau kondisi jalan rusak, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas melanjutkan kunjungan kerjanya dengan meninjau Rumah Perlindungan Sosial (RPS) milik Dinas Sosial Kota Medan yang terletak di Jalan Bunga Turi II, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Medan Tuntungan, Kamis (12/6/2025).
9 bulan  lalu
Wali Kota Medan Tinjau RPS, Tegaskan Harus Layak Huni
Prof. Dr. Abdurrahman, M.Pd (kiri) saat pengukuhan Guru Besar UINSU oleh Ketua Senat Universitas disaksikan Rektor UINSU Prof. Dr. Nurhayati (paling kanan) di Kampus 1 UINSU, Jalan Sutomo, Medan, Rabu (31/5/2023).(kaldera/HO humas uinsu)
2 tahun  lalu
Prof Abdurrahman: Kurikulum Cyber Counseling di PTKI Jawab Kebutuhan Masyarakat

Trending

01.
3 hari  lalu
Laga Hidup Mati PSMS, Wajib Menang Atas Persikad
02.
6 hari  lalu
Ini Rahasia Gus Irawan Akses Bantuan Pusat Yang Buat Presiden Sampai Menteri Bergantian Datang Ke Tapsel
03.
6 hari  lalu
Komisi II DPR RI Kunjungi Bank Sumut, Rico Waas Dorong Kinerja dan Kontribusi Daerah
04.
6 hari  lalu
Drop-off 2 Menit Tetap Bayar Rp5 Ribu di Plaza Medan Fair, Bapenda Disorot
05.
6 hari  lalu
Pemprov Sumut Buka Seleksi Komisioner Informasi 2026–2030, Pendaftaran Mulai 6 April

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Terkait BLT, Komisi 1 Minta Kepling 1 Kelurahan Harjosari II Dipecat
Pelayanan Kesehatan Disorot, Masyarakat Masih Banyak Berobat ke Luar Negeri
Medan Targetkan 25 Ruas Jalan Bebas Kabel Semrawut Tahun Ini
Tekan Kebocoran dan Maksimalkan PAD, Dewan Minta Sistem Digitalisasi Pajak Daerah Diterapkan
Pemko Medan Diminta Segera Reformasi Puskesmas
Home Trending Cari Bagikan Lainnya