Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Selasa, 05 Mei 2026
Rico Waas–Imigrasi Sumut Perkuat Pengawasan Orang Asing dan Pengungsi
Wakil Ketua DPRD Medan Minta Wali Kota Copot Dirut PUD Pasar
Dirut Ungkap Kondisi PUD Pembangunan Tidak Normal, DPRD Minta Pembenahan
Pansus PAD DPRD Medan Soroti Pajak Mie Gacoan dan Parkir
DPRD Medan Soroti Pelaksanaan MTQ ke-59, Vendor Lama Dipertanyakan
Bupati Deli Serdang Tinjau MPP, Tekankan Sinkronisasi Layanan
DPRD Medan Minta PUD Pembangunan Gercep Tingkatkan Kinerja
Hampir 30 Tahun, Aset Pemko Medan Dikuasai Pihak Lain
RDP DPRD Medan, Warga Keluhkan Sewa Lahan Rp22 Ribu Sejak 1975
Bobby Tekankan Peran LPS Perkuat Kepercayaan Perbankan di Sumut
Rico Waas–Imigrasi Sumut Perkuat Pengawasan Orang Asing dan Pengungsi
Wakil Ketua DPRD Medan Minta Wali Kota Copot Dirut PUD Pasar
Dirut Ungkap Kondisi PUD Pembangunan Tidak Normal, DPRD Minta Pembenahan
Pansus PAD DPRD Medan Soroti Pajak Mie Gacoan dan Parkir
DPRD Medan Soroti Pelaksanaan MTQ ke-59, Vendor Lama Dipertanyakan
Bupati Deli Serdang Tinjau MPP, Tekankan Sinkronisasi Layanan
DPRD Medan Minta PUD Pembangunan Gercep Tingkatkan Kinerja
Hampir 30 Tahun, Aset Pemko Medan Dikuasai Pihak Lain
RDP DPRD Medan, Warga Keluhkan Sewa Lahan Rp22 Ribu Sejak 1975
Bobby Tekankan Peran LPS Perkuat Kepercayaan Perbankan di Sumut
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 594
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Zulkarnaen
Baca Juga
Rumah Perlindungan Sosial Pemko Tak Sekadar Menampung , Tapi Pusat Pengentasan Masalah
06 Jan 2025

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Pangdam I/BB Mayjen TNI MS Fadhilah
Baca Juga
Mayjen TNI MS Fadhilah Dimutasi, Mayjen TNI Irwansyah Pangdam I/BB
20 Jun 2020

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
Revitalisasi Gedung Warenhuis Tak Hilangkan Nilai Sejarah
Gus Irawan Sarankan Pemerintah Cari Celah Fiskal Selain Pajak Dan Konsumsi
Danau Toba Masuk Urutan 24 New York Times dalam 52 Places To Go 2024
Menang Mudah Atas Al Ahly, Madrid Ditantang Al Hilal di Final Piala Dunia Antar Klub
Senin, Ombudsman Panggil Dirut PDAM Tirtanadi Soal Lonjakan Tagihan Air
Dana Bagi Hasil Pajak Belum Ditransfer, Pemprovsu Utang Ke Pemko Medan Rp433 Miliar Lebih

Pos Terkait

Walikota Medan Bobby Nasution meresmikan rumah perlindungan sosial yang berada di Jalan Turi II, Kecamatan Medan Tuntungan, Kamis (2/1/2025).
1 tahun  lalu
Rumah Perlindungan Sosial , Bukti Komitmen Pemko Ikut Pemberantasan Narkoba
Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) yang di
5 tahun  lalu
Tanpa Bantuan Pemprovsu, KPOTI Kirim Kontingen di Pekan Kebudayaan Nasional
Sumatera Utara kembali dipercaya menjadi tuan rumah perhelatan kejuaraan bukutangkis tingkat internasional. Kegiatan yang bertajuk Xpora Indonesia Internasional Challenge 2023 itu merupakan kali kedua perhelatan bulutangkis di gelar di Sumut. Pertama kali merupakan Indonesia Open 1997 lalu.
2 tahun  lalu
Sumut Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Internasional Badminton 2023
Hina Islam, Anak Tasbih Medan Viral
6 tahun  lalu
Hina Islam, Anak Tasbih Medan Viral
5 tahun  lalu
Bupati Terbit Rencana Kukuhkan Sekda Langkat dan Puluhan Pejabat
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumatera Utara memfasilitasi bantuan pembiayaan modal melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tani Bank BNI, bagi 21 petani di Kecamatan Rawang Panca Arga Kabupaten Asahan.
4 tahun  lalu
Gus Irawan Fasilitasi Bantuan Modal KUR BNI Ke Petani Asahan

Trending

01.
5 hari  lalu
Deklinasi Bulutangkis Nasional
02.
4 hari  lalu
Bupati Deli Serdang Bangun UMKM Central, Targetkan Pelaku Usaha Naik Kelas
03.
5 hari  lalu
Gubernur Bobby Tetapkan Juknis SPMB 2026/2027, Penerimaan Siswa Wajib Transparan dan Berkeadilan
04.
2 hari  lalu
Hardiknas 2026, Bupati Deli Serdang Paparkan Kondisi dan Perbaikan Pendidikan
05.
2 hari  lalu
Persiraja vs PSMS Imbang 1-1, Gol Menit Akhir Buyarkan Kemenangan Tamu

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Hampir 30 Tahun, Aset Pemko Medan Dikuasai Pihak Lain
DPRD Medan Minta PUD Pembangunan Gercep Tingkatkan Kinerja
DPRD Medan Soroti Pelaksanaan MTQ ke-59, Vendor Lama Dipertanyakan
Pansus PAD DPRD Medan Soroti Pajak Mie Gacoan dan Parkir
Dirut Ungkap Kondisi PUD Pembangunan Tidak Normal, DPRD Minta Pembenahan
Home Trending Cari Bagikan Lainnya