Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SPORT
  • EDUKASI
  • JALAN-JALAN
  • OPINI
  • KABAR DAERAH
  • Advertorial
Kamis, 07 Mei 2026
Pemprov Sumut Tegaskan Formasi 9.759 CPNS Belum Final
Bobby Dukung Karya Bakti TNI AD, Percepat Infrastruktur Nias
Pemko Medan Percepat Pembebasan Lahan Sei Kera Hilir, Kejar Proyek Banjir NUFREP
Medan Jadi Pilot Project BRT, Rico Waas Siap Percepat Implementasi
Rico Waas Dorong BPS Jadi Warning System Pengendali Inflasi di Medan
Bobby Nasution Ingatkan BPJS Kesehatan Utamakan Kualitas Layanan
Pemprov Sumut Kucurkan Rp443 Miliar, Bobby Nasution Tekankan Keseimbangan Belanja Daerah
Bupati Dorong Modernisasi Pertanian Tingkatkan Produktivitas
DPRD Medan Minta Disdik Larang Pungutan Uang Perpisahan
Ketua TP PKK Langkat Sumbang Sepeda, Meriahkan Peresmian Kampung Binaan Polres
Pemprov Sumut Tegaskan Formasi 9.759 CPNS Belum Final
Bobby Dukung Karya Bakti TNI AD, Percepat Infrastruktur Nias
Pemko Medan Percepat Pembebasan Lahan Sei Kera Hilir, Kejar Proyek Banjir NUFREP
Medan Jadi Pilot Project BRT, Rico Waas Siap Percepat Implementasi
Rico Waas Dorong BPS Jadi Warning System Pengendali Inflasi di Medan
Bobby Nasution Ingatkan BPJS Kesehatan Utamakan Kualitas Layanan
Pemprov Sumut Kucurkan Rp443 Miliar, Bobby Nasution Tekankan Keseimbangan Belanja Daerah
Bupati Dorong Modernisasi Pertanian Tingkatkan Produktivitas
DPRD Medan Minta Disdik Larang Pungutan Uang Perpisahan
Ketua TP PKK Langkat Sumbang Sepeda, Meriahkan Peresmian Kampung Binaan Polres
Ads_Tapsel
Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 597
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Elfenda Ananda.
Baca Juga
Proyek Dibayar Lunas karena Kontraktor orang Dekat Pejabat
13 Jan 2020

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Relawan GIS, Ehsan
Baca Juga
GIS, Relawan Penyalur Sedekah Karena Allah SWT
30 Mar 2023

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
Abaikan Prokes, Pedagang Angkringan Kembali Dibubarkan
Dewan Dukung Kebijakan Bobby Gunakan Produk UMKM Lokal
Milad ke-108 Muhammadiyah, PWPM Sumut Launching Warung Al- Maun
Bupati Langkat Intruksikan BPBD Temukan Korban Tenggelam di Batangan Serangan
Di Hubei, Jumlah Kasus Baru Corona Turun Drastis
4 Pejabat Tinggi Pratama Pemko Medan Dilantik, Kerabat Dzulmi Eldin Jadi Kadispora

Pos Terkait

Dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi izin bangunan, Komisi 4 DPRD Medan memperkuat fungsi pengawasan. Salah satunya dengan meninjau dua unit bangunan dua lantai tanpa izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) di Jalan Perjuangan, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Selasa (3/6/2025).
11 bulan  lalu
DPRD Medan Desak Penyegelan Bangunan Tanpa Izin di Sunggal
Suami Ratu Elizabeth II, Pangeran Philip, meninggal dunia pada usia 99 tahun,Jumat (9/4/2021).
5 tahun  lalu
Pangeran Philip Meninggal, PM Inggris: Bangsa Berduka
Unggahan status di laman facebook atas nama Zainuddin Purba menjadi perbincangan di kalangan wartawan. Pasalnya, unggahan anggota DPRD Sumut dari Fraksi Partai Golkar ini melecehkan profesi wartawan.
3 tahun  lalu
Hina Profesi Wartawan di Media Sosial, PWI Kecam Anggota DPRD Sumut
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas
4 tahun  lalu
Jemaah Haji Terdaftar 2020 Akan Diberangkatkan Tahun Ini
Menambah motivasi dan semangat bagi para atlet NPC Kota Medan yang akan mengikuti Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII di Solo tahun 2024, Plt Walikota Medan, Aulia Rachman menjanjikan pekerjaan di Pemko Medan kepada atlet yang nantinya mampu meraih prestasi membanggakan di ajang tersebut.
1 tahun  lalu
Plt Walikota Janjikan Atlet NPC Raih Emas Bekerja di Pemko Medan
Anggota Komisi XI DPR RI Gus Irawan Pasaribu
5 tahun  lalu
Gus Irawan: Penurunan Bunga Kredit Terlalu Lambat

Trending

01.
6 hari  lalu
Deklinasi Bulutangkis Nasional
02.
6 hari  lalu
Bupati Deli Serdang Bangun UMKM Central, Targetkan Pelaku Usaha Naik Kelas
03.
4 hari  lalu
Hardiknas 2026, Bupati Deli Serdang Paparkan Kondisi dan Perbaikan Pendidikan
04.
6 hari  lalu
Gubernur Bobby Tetapkan Juknis SPMB 2026/2027, Penerimaan Siswa Wajib Transparan dan Berkeadilan
05.
4 hari  lalu
Persiraja vs PSMS Imbang 1-1, Gol Menit Akhir Buyarkan Kemenangan Tamu

Ads

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
DPRD Medan Minta Disdik Larang Pungutan Uang Perpisahan
Pemprov Sumut Kucurkan Rp443 Miliar, Bobby Nasution Tekankan Keseimbangan Belanja Daerah
Rico Waas Dorong BPS Jadi Warning System Pengendali Inflasi di Medan
Bobby Nasution Ingatkan BPJS Kesehatan Utamakan Kualitas Layanan
Bupati Dorong Modernisasi Pertanian Tingkatkan Produktivitas
Home Trending Cari Bagikan Lainnya