Hari Mangrove Se-Dunia, Yakopi Dan Tim Media Susuri Hutan Mangrove Dan Nipah Sepanjang Perairan Langkat

redaksi
28 Jul 2025 04:19
Medan News 0 68
6 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – SEJAUH-JAUH mata memandang yang ada hanya pohon mangrove dan nipah. Pemandangan itu persis tersaji di hadapan seluruh personil Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (Yakopi) bersama tim media yang berangkat dari Medan ke Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Langkat.

Mengambil start dari kantor Yakopi di Jl. STM, Jumat (25/7/2025) pagi, seluruh tim berangkat melewati tol Amplas kemudian keluar di Tanjung Pura. Dari pintu tol tersebut, semua tim diarahkan menuju Desa Pasar Rawa.

Tentu layaknya desa, untuk menuju akses wilayah tersebut harus melewati jalanan sebagai infastruktur penghubung yang masih bercampur antara jalan aspal dengan jalan bebatuan. Padahal ketika sampai di Desa Pasar Rawa, daerah ini memiliki potensi ekonomi tinggi dari mangrove dan nipah sehingga selayaknya akses jalan ke desa tersebut jadi perhatian pemerintah daerah.

Tim Yakopi dan tim media kemudian sampai di saung Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama Dusun X Paluh Baru Desa Pasar Rawa. Dari saung itulah kemudian seluruh tim menaiki satu boat mesin tempel untuk menyusuri sungai menuju lahan mangrove yang direstorasi. Boat dengan kursi 9 kursi penumpang berwarna biru itu bisa dinaiki lebih banyak orang karena masih menyisakan space lebih luas.

Boat bergerak perlahan menuju lokasi mangrove yang berada di wilayah intertidal yang merupakan pertemuan antara perairan laut, payau, sungai, dan daratan. Dari atas boat tim Yakopi kemudian bergantian memberi penjelasan detil tentang semua yang berhubungan dengan mangrove dan pohon nipah. Kedua jenis tanaman tersebut harus diselamatkan dan direstorasi, kata Muhammad Habib, Program Manager Yakopi wilayah Aceh-Sumatera di atas boat yang terus mengapung.

“Caranya dengan restorasi dan menumbuhsadarkan masyarakat tentang pentingnya memelihara habitat mangrove dan nipah dengan restorasi atau penanaman kembali. Karena secara ekologi, jika dua jenis pohon ini bisa dipertahankan akan membawa dampak ekonomi luar biasa bagi warga, katanya.

Yakopi bersama warga Pasar Rawa Langkat, kata dia, melakukan restorasi dengan menanam pohon bakau pada area seluas 23 hektare di beberapa lokasi terpisah sepanjang Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat.

“Penanaman bakau di kawasan mangrove ini sangat penting karena lebih dari 90 persen mata pencaharian penduduk bersumber dari tambak udang. Ekosistem mangrove sangat dibutuhkan karena dapat meningkatkan kualitas air untuk mengairi tambak udang,” jelasnya.

Restorasi ini dilakukan terhadap lahan-lahan kritis di muara Sungai Bluru yang melintasi Desa Pasar Rawa. Muara Sungai Bluru sendiri dikenal sebagai lokasi tempat berkembangnya ekosistem mangrove.

Habib mengatakan, selama tiga tahun terakhir, Yakopi bersama masyarakat Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, yang tergabung dalam Kelompok Tani Hijau (KTH) Maju Bersama melakukan penanaman pohon bakau di area seluas 23 hektare. Adapun pohon bakau yang ditanam adalah jenis jenis Rhizophora stylosa.

“Penanaman pohon bakau ini ternyata mendorong hadirnya tanaman lain yakni Avicennia spp atau yang dikenal pohon api-api dan Sonneratia (Pedada). Kehadiran ketiga tanaman ini mendukung keberadaan ekosistem hutan mangrove dikawasan tersebut,” ujar Habib.

Eling Tuhono, Direktur Yakopi juga menyampaikan, dalam jangka panjang Yakopi menargetkan dapat melakukan restorasi dan konservasi terhadap lahan mangrove di provinsi Sumatera Utara, Aceh, Riau dan Kepulauan Riau sebagai upaya untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

“Program ini fokus pada dua hal utama: perlindungan terhadap kawasan mangrove yang masih utuh, dan pemulihan area yang telah rusak atau terdegradasi, dengan melibatkan masyarakat sebagai pengelola langsung,” jelasnya.

Ekosistem mangrove sendiri berperan penting sebagai habitat ikan dan kepiting, khususnya untuk bertelur. Di samping itu, hutan mangrove juga menjadi lokasi tinggal bagi aneka burung.

 

Bernilai ekonomi tinggi

Lalu kenapa Yakopi dan warga Pasar Rawa berikhtiar kuat untuk menjaga kelestarian mangrove? Menggali jawaban atas pertanyaan ini cukup menarik. Tapi cukup diwakilkan oleh Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Penghijauan Maju Bersama, Kasto Wahyudi (46).
Warga Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Saat diwawancarai Jumat lalu sebelum sholat Jumat, dia menceritakan kondisi mangrove dan nipah di desanya. Ada nada penyesalan meluncur dari pengakuannya. Dia mengatakan warga setempat akhirnya menyesal karena gara-gara ulah mereka dulunya, warga desa banyak yang kehilangan mata pencaharian karena ekosistem pesisis menjadi rusak.

Kepada wartawan, Wahyudi mengaku dulu sering ikut menebang hutan mangrove untuk keperluan bisnis. Bagian batang dan akar pohon mangrove ditebang untuk dijadikan bahan arang.

“Dulu hutannya (mangrove) rusak karena ditebangi oleh masyarakat sendiri, dibuat jadi bahan baku arang. Hutannya sudah rusak sekali, kejadian di tahun 2004,” kata Wahyudi di saung KTH Penghijauan Maju Bersama, Desa Pasar Rawa.

Menurut dia, masyarakat setempat selalu gagal saat membudidaya ikan, kepiting dan udang tambak. Alasannya biota itu tak mampu bertahan di perairan tersebut, karena hutan mangrove yang berfungsi sebagai penyerap kandungan racun berkurang drastis.

Dia menceritakan masyarakat yang bertambak gagal semua, karena ketidaktahuan atas hutan yang hancur membuat biota tidak bisa berkembang, ucap Wahyudi.

Lantaran hutan seluas 178 hektar itu semakin menipis, warga setempat kemudian menanam mangrove kembali secara bertahap sejak 2005. Namun tujuan menanam mangrove bukan dijadikan sebagai habitat ikan, tapi untuk ditebang kembali sebagai bahan arang.

“Niatnya dulu memang dulu mau ditebang pilih, karena kami tidak tahu ini programnya untuk apa, dan dulu di sini pemanfaatan mangrove sebagai arang, termasuk saya ikut dulu,” ungkap Wahyudi.

Setelah mangrove tumbuh besar pada 2015, ekosistem di perairan payau tersebut perlahan pulih. Warga mulai menyadari bahwa mangrove berperan penting sebagai habitat ikan, mencegah intrusi air dan abrasi, penyerap karbon dioksida serta lainnya.

“Ternyata menanam dengan menebang itu sangat beda jauh, menebang hanya butuh waktu hitungan jam tetapi menanam dan tumbuh perlu waktu 10 tahun. Kami berubah pikiran ternyata sayang sebenarnya untuk ditebang lagi,” katanya.

Sekarang, kata dia, hutannya besar dan bagus, tidak ada penebangan lagi. “Setelah izin keluar, kami beserta masyarakat kami membuat keputusan usaha dapur arang semuanya ditutup,” tegasnya.

Untuk memperkuat komitmen ini, Wahyudi bersama warga desa membuat kesepakatan baru berupa sanksi. Para penebang mangrove yang ditangkap, harus membayar denda ganti rugi.

“Kalau nanti ada yang nebang mereka akan kami tangkap dan denda, besaran dendanya itu kami buat yaitu saat menebang satu batang pohon maka dia menggantikan 1.000 batang bibit mangrove,” tuturnya.

Karena pelestarian mangrove mulai menampakkan hasil warga kemudian beralih pekerjaan. Mereka yang awalnya menebang mangrove untuk dijadikan arang, kini memanfaatkan kehadirannya tanpa harus merusak tanaman.

“Saat hutan sudah besar, rupanya sudah banyak biotanya seperti ikan, udang, kepiting. Kami kemudian sepakat membuat rumah-rumah ikan,” ucapnya.

Keberadaan hutan mangrove yang kini dilestarikan mengubah perekonomian masyarakat setempat. Dalam sehari, masyarakat bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp100.000-Rp200.000 dari budidaya ikan.

“Pendapatan kami saat ini lumayan besar pak, kalau dulu kan mata pencaharian kami dari arang kisaran Rp 50.000-Rp 70.000, tapi kalau sekarang bisa Rp 100.000 sampai Rp 200.000 per hari,” pungkasnya.

Yakopi dan warga sekitar kemudian memiliki komitmen kuat untuk melestarikan mangrove, menanami kembali, menjaga dan patroli ke pesisir laut untuk melestarikannya. Kelanggengan ekologis inilah kemudian yang kelak menghidupkan perekonomian warga pesisir.

Berkeliling sekira 1 jam lebih di atas boat, tim Yakopi dan tim media tetap saja melihat sepanjang mata memandang yang tampak hanya mangrove dan nipah. Tapi lamat-lamat kemudian di belakang mangrove dan nipah itu terlihat luasan hutan sawit.

Di atas boat, baik tim Yakopi maupun media hanya menjadikan ini bahan diskusi. Sangat sulit menjawab soal kelayakan hutan sawit berbaur dengan mangrove yang secara ekologis wajib dipelihara. Tapi tentu dengan inisiatif dan perjuangan warga sekitar kelak mangrove dan nipah ini akan menggeser lahan sawit itu dengan semua stakeholder sepakat untuk menjaga lingkungan. (armin nasution)