Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SUPORTER
  • EDUKASI
  • TRAVELING
  • OPINI
  • Advertorial
  • KABAR DAERAH
Minggu, 21 Jun 2026
Kalah Telak 0-4 dari Jepang, Tunisia Berharap Keajaiban
Miami Jadi Persimpangan Nasib Uruguay dan Tanjung Verde
Hadapan Delegasi PBB, Rico Waas Paparkan Langkah Medan Jadi Kota Hijau Berkelanjutan
Jalan Terjal Belgia dan Mesir, Grup G Memasuki Titik Penentuan
Epic Comeback di Toronto, Jerman Amankan Tiket Fase Gugur
Swedia Tersungkur 1- 5 di Houston, Belanda Kembali Tunjukkan Status Unggulan
Ahmad Doli Tutup Turnamen Voli Bahorok, Amsterdam VC Rebut Gelar Juara
Rico Waas Gerak Cepat, LPJU Mati hingga Ancaman Longsor Langsung Ditindak
Jepang dan Spanyol Diburu Kemenangan, Tunisia – Arab Saudi Siap Bikin Kejutan
Gol Cepat Galarza Hidupkan Asa Paraguay, Turki Kian Terpuruk
Kalah Telak 0-4 dari Jepang, Tunisia Berharap Keajaiban
Miami Jadi Persimpangan Nasib Uruguay dan Tanjung Verde
Hadapan Delegasi PBB, Rico Waas Paparkan Langkah Medan Jadi Kota Hijau Berkelanjutan
Jalan Terjal Belgia dan Mesir, Grup G Memasuki Titik Penentuan
Epic Comeback di Toronto, Jerman Amankan Tiket Fase Gugur
Swedia Tersungkur 1- 5 di Houston, Belanda Kembali Tunjukkan Status Unggulan
Ahmad Doli Tutup Turnamen Voli Bahorok, Amsterdam VC Rebut Gelar Juara
Rico Waas Gerak Cepat, LPJU Mati hingga Ancaman Longsor Langsung Ditindak
Jepang dan Spanyol Diburu Kemenangan, Tunisia – Arab Saudi Siap Bikin Kejutan
Gol Cepat Galarza Hidupkan Asa Paraguay, Turki Kian Terpuruk
New SUMUT.mobile - New Look, New Features | Bank Sumut

Beranda / Medan

Lebih Dalam Melihat Fenomena Inflasi

redaksi
4 Sep 2023 08:54
Medan Opini 0 728
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

 

Oleh Armin Nasution

Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi
Baca Juga
Klarifikasi Gubsu Edy Sering Diisukan “Titip” Nama di Lelang Eselon
25 Feb 2021

TULISAN ini masih merupakan lanjutan topik lalu namun belum akan menyinggung islamic social finance sebagai solusi inflasi. Bahwa benar, dalam ekonomi konvensional ternyata pertumbuhan tinggi akan digerogoti inflasi.

Ekonomi kita terus tumbuh tapi di sisi lain harga barang kebutuhan juga bergerak naik.

​Uang yang kita dapatkan betapa pun banyaknya ternyata tak mampu mengimbangi kenaikan harga. Itu pula yang menunjukkan daya beli uang yang kita miliki semakin lama kian lemah.

Anggota Komisi XI DPR RI Gus Gus Irawan Pasaribu
Baca Juga
Komisi XI Dorong Pemberian KUR Pada Sektor yang Nilai Tukarnya Rendah
27 Okt 2021

Dulu, tahun 1970-an uang Rp100 ribu itu sudah bisa beli banyak kebutuhan. Sekarang Rp1 juta pun daya belinya masih sangat minim.

​Itu sebabnya inflasi adalah bahaya laten dalam pertumbuhan ekonomi. Tapi bukan berarti inflasi tidak diperlukan. Dalam berbagai kajian ekonomi, inflasi yang terkendali juga penting.

Artinya inflasi merupakan cerminan kenaikan daya beli. Yang jadi problem, jika inflasi tak bisa dikendalikan.

​Bagaimana kita melihat potret inflasi ini lebih detil di Sumut, misalnya?Menurut data Bank Indonesia hingga Juli 2023 tingkat inflasi mencapai 0,3 persen, sedangkan angka year on year ada diangka 2,54 persen dan jika dilihat dari bulan Januari-Juli inflasi ada diangka 0,98 persen.

​Sejauh ini angka itu masih terkendali. Kenapa? Karena secara nasional pun target inflasi adalah 3 persen plus minus 1 persen. Artinya angka inflasi harus ada diangka 2-4 persen.

Dengan target inflasi sebesar itu masih make sense jika pertumbuhan ekonomi di atasnya.

Angka inflasi harus berada dibawah angka pertumbuhan ekonomi karena tidak ada artinya jika pertumbuhan ekonomi tinggi lalu inflasi melebihi pertumbuhan itu sendiri.

Tahun ini Bank Indonesia optimis inflasi akan berada diangka 2 persen. Di Sumut, kita masih menghitung inflasi dengan mengukur di lima kota indeks harga konsumen.

Yaitu Medan, Pematang Siantar, Sibolga, Padangsidimpuan dan Gunungsitoli. Sedangkan kabupaten lain menjadi Indeks Pemantau Harga (IPH).

Sumber utama inflasi di Sumut ternyata dipengaruhi oleh komoditas. Kenaikan harga beras sedikit saja itu akan mendorong inflasi tinggi.

Sedangkan komoditas lain yang sangat berpengaruh adalah bawang. Ini merupakan salah satu pendorong inflasi yang sangat volatile.

Lalu hal lain yang sering menyebabkan inflasi tinggi adalah jalur distribusi yang sangat panjang.

Karena seringkali pasok kebutuhan yang harusnya sampai di pasar dengan harga normal tak pernah tercapai.Inipun salah satu problem utama.

Bahkan petani sebagai sumber utama penghasil pangan tak menikmati hasilnya saat harga di pasar tinggi.

Misal, cabai di pasar sudah mencapai Rp100 ribu, tapi karena panjangnya jalur distribusi ternyata di tingkat petani harga cabai bisa ditebus Rp30 ribu sampai Rp45 ribu.

Intinya penyumbang utama inflasi termasuk Sumut dan Indonesia datang dari komoditas pangan. Setiap kali terjadi inflasi tinggi jika ditelusuri lebih jauh akan mengarah kepada kebutuhan pangan.

Selain itu yang harus diwaspadai adalah import inflation. Atau mengimpor inflasi dari luar.

Kita ini masih punya ketergantungan bahan pokok dengan negara lain. Jadi ketika di sana terjadi kenaikan harga otomatis akan langsung berpengaruh ke negara pengimpor.

Hingga tahun ini berbagai lembaga keuangan dunia masih khawatir dengan ancaman inflasi terutama efek dari perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan dan belum tahu kapan selesai.

Jika kemudian negara-negara terkait melakukan pengetatan kebijakan pangan, kemudian stok di pasar berkurang, otomatis negara-negara yang masih ketergantungan dengan impor pangan akan menghadapi kenaikan harga. Imported inflation tetap jadi ancaman.

Upaya untuk mengendalikan inflasi sudah dilakukan dengan berbagai cara. Strategi paling utama saat ini adalah dorongan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah agar melek inflasi.

Dulu gejala inflasi tinggi hanya dikhawatirkan oleh pemerintah pusat dan otoritas moneter. Sekarang berbeda. Semua kepala daerah harus faham inflasi.

Pemerintah mengefektifkan secara maksimal tim pengendalian harga di daerah untuk memantau inflasi yang terjadi.

Itu kemudian yang disebut dengan geranakan nasional pengendalian inflasi pangan. Selain dengan mendorong kerjasama antar daerah untuk memintas jalur distribusi.

Inflasi ini layaknya tekanan darah, jika terlalu tinggi berbahaya dan jika terlalu rendah juga berbahaya.

Sehingga harus benar-benar dijaga agar harga tidak memberatkan konsumen dan masih memberikan keuntungan ke produsen.

Sering pihak yang paling diuntungkan dari inflasi yang bagian tengah (distributor/price maker) bukan petani karena panjangnya jalur distribusi.

Armin nasutionekonomi konvensionalInflasiislamic social finance
Pos Terkait
Zulkarnaen Dorong Dinas SDABMBK Segera Bangun Kolam Retensi Atasi Banjir Parah di Medan Tembung
Korban Tabrakan Maut, Nadila dan Rafika Dimakamkan di Satu Liang Lahat
Komisi 1 DPRD Medan Apresiasi Kinerja Polres Belawan, Serukan Kolaborasi Atasi Masalah Sosial
Rico Waas: Tanpa Media, Pembangunan Medan Tak Akan Diketahui Publik
Sekjen MUI Pusat Tausiyah Kebangsaan di Halal bi halal Gerindra Sumut
Poldasu Tidak Campuri Kongres Luar Biasa Partai Demokrat

Pos Terkait

Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi menegaskan bakal segera melantik kepala daerah terpilih hasil Pilkada Pematangsiantar 2020, meski periodesasi Walikota dan Wakil Walikota Siantar, Hefiansyah Noor-Togar Sitorus baru akan berakhir masa jabatan (AMJ) pada Februari 2022.
4 tahun  lalu
Tak Tunggu AMJ, Gubsu Segera Lantik Walikota Pematangsiantar Terpilih
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 resmi menghapus daftar 14 negara yang sempat dilarang masuk Indonesia karena sebaran varian Omicron
4 tahun  lalu
14 Negara Ini Sempat Dilarang Masuk Ke Indonesia Akibat Penyebaran Omicron
Haris Kelana Damanik
2 tahun  lalu
Keseriusan PT PLN Realisasikan Medan Tanpa Kabel Dipertanyakan
Pemkab Asahan, melalui Satpol PP melakukan penyemprotan desinfektan disejumlah jalan dan beberapa titik lokasi yang menjadi objek kerumunan massa.
6 tahun  lalu
Pusat Pelayanan Di Asahan Disemprot Disinfektan
5 tahun  lalu
Gubsu Kaji Ulang Sekolah Tatap Muka di Maret
Gubsu yang diwakili Sekdaprovsu Arief S Trinugroho (tengah) saat membuka RUPS-LB Bank Sumut didampingi Komut Brata Kesuma (kiri) dan Plt Dirut PT Bank Sumut Hadi Sucipto (kanan), di Kantor Pusat Bank Sumut Jumat (20/1/2023). (kaldera/ist)
3 tahun  lalu
RUPS LB Resmi Berhentikan Rahmat Fadillah, Penjaringan Dirut Dimulai

Trending

01.
5 hari  lalu
Bobby Sentil Batubara Absen di MTQ, Mudah- mudahan Masih Sumut
02.
5 hari  lalu
Messi vs Mahrez, Duel Dua Maestro Buka Grup J Piala Dunia
03.
5 hari  lalu
Bupati Deli Serdang Percepat Izin Perluasan RSU Rahmad Hidayah
04.
6 hari  lalu
Ayari Taklukkan Negeri Leluhurnya, Swedia Pesta Gol 5-1
05.
5 hari  lalu
Perancis v Senegal, Luka 2002 Langsung Terbuka

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Epic Comeback di Toronto, Jerman Amankan Tiket Fase Gugur
Hadapan Delegasi PBB, Rico Waas Paparkan Langkah Medan Jadi Kota Hijau Berkelanjutan
Swedia Tersungkur 1- 5 di Houston, Belanda Kembali Tunjukkan Status Unggulan
Jalan Terjal Belgia dan Mesir, Grup G Memasuki Titik Penentuan
Ahmad Doli Tutup Turnamen Voli Bahorok, Amsterdam VC Rebut Gelar Juara
Home Trending Cari Bagikan Lainnya