Permainan Tradisional Kembali Ramai di Deli Serdang, Bupati Dorong Jadi Agenda Tahunan Daerah

redaksi
9 Agu 2026 09:15
Medan News 0 1
3 menit membaca

 

DELISERDANG, kaldera.id – Permainan tradisional yang mulai ditinggalkan di tengah maraknya penggunaan gawai kembali mendapat ruang di Deli Serdang.

Pemerintah Kabupaten Deli Serdang mendorong pelestarian permainan rakyat sebagai sarana mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan, saat menghadiri Pekan Budaya Permainan Tradisional di Alun-Alun Kecamatan Percut Sei Tuan, Desa Saentis, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 8-9 Agustus 2026, itu menghadirkan berbagai permainan tradisional seperti tarik tambang, terompah, pecah piring dan sejumlah permainan rakyat lainnya yang diikuti anak-anak dan masyarakat.

Asri Ludin menilai tingginya antusiasme peserta menunjukkan permainan tradisional masih memiliki daya tarik kuat di tengah perkembangan teknologi digital.

“Di siang terik ini ternyata tidak menyurutkan kegembiraan anak-anak kita. Saya bangga karena anak-anak Tanjung Rejo mampu menggerakkan kegiatan sebesar ini untuk menghidupkan kembali permainan tradisional,” katanya.

Melihat tingginya partisipasi masyarakat, Asri membuka peluang menjadikan kegiatan tersebut sebagai agenda budaya tahunan yang mendapat dukungan anggaran pemerintah daerah.

Menurutnya, permainan tradisional tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media pendidikan karakter yang menanamkan nilai kebersamaan, sportivitas dan kecintaan terhadap budaya daerah.

“Kalau antusiasmenya terus besar, akan kita kaji untuk masuk dalam APBD. Saya berharap kegiatan ini bisa menjadi ikon budaya Deli Serdang dan rutin digelar setiap tahun,” ujarnya.

Asri juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang memengaruhi pola interaksi anak-anak.

“Budaya bangsa harus tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri meskipun perkembangan teknologi dari luar terus masuk,” ucapnya.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Sumatera Utara. Pamong Budaya Ahli Pertama BPK Wilayah II Sumut, Windra Adi Purba, mengatakan permainan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

Menurut Windra, perkembangan teknologi telah membuat banyak permainan tradisional mulai ditinggalkan generasi muda.

“Ini merupakan bagian dari upaya pelestarian kebudayaan. Saat ini permainan tradisional semakin jarang dimainkan dan mulai dilupakan,” katanya.

Ia menjelaskan Pekan Budaya Permainan Tradisional mendapat dukungan Dana Indonesiana melalui Yayasan Laskar Pelangi Tanjung Rejo sebagai penerima program stimulus pelestarian budaya.

Windra juga menyebut Deli Serdang memiliki potensi budaya yang besar untuk terus dikembangkan, termasuk keberadaan 168 cagar budaya yang tersebar di berbagai wilayah.

Sementara itu, Ketua Yayasan Laskar Pelangi Tanjung Rejo, Siddik Zailani, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai upaya menghidupkan kembali permainan tradisional sekaligus mengajak anak-anak lebih aktif berinteraksi di ruang terbuka daripada menghabiskan waktu dengan gawai.

Menurutnya, pelestarian permainan tradisional menjadi penting karena selain memperkenalkan budaya lokal, juga mampu membangun interaksi sosial dan kerja sama di kalangan anak-anak.

Pekan Budaya Permainan Tradisional di Percut Sei Tuan diharapkan menjadi momentum mengembalikan permainan rakyat sebagai bagian dari kehidupan generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya lokal di tengah era digital. (Reza)