Armin NasutionDitulis oleh: Armin Nasution
MEDAN, kaldera.id, KABAR baik menghampiri Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unimed awal Juli ini. Program studi Ilmu Ekonomi (IE) akhirnya mendapatkan akreditasi unggul 5 tahun ke depan. Tentu saja merupakan penghargaan besar kepada semua civitas akademika fakultas dan universitas.
Program studi yang lahir 2018 itu langsung dinobatkan sebagai program studi Unggul diantara prodi lain yang ada di Unimed dan diantara prodi lain yang ada di FEB Unimed. Naik dari baik, menjadi Unggul. Kebetulan memang, saya ditunjuk menjadi ketua program studi Ilmu Ekonomi sejak Juni 2022-Mei 2026 (tepat setelah asesmen lapangan selesai). Sejak menjadi Kaprodi, yang paling sering ditanyakan lulusan dan calon mahasiswa adalah predikat akreditasi program studi ini.
Apalagi lulusan yang sedang mencari pekerjaan. Mereka beberapa kali meminta softcopy sertifikat akreditasi. Salah satu urgensi akreditasi adalah memudahkan lulusan mencari pekerjaan. Sepanjang memimpin program studi ini pula, para lulusan merupakan pihak yang konsisten membantu hingga selesai akreditasi. Kesolidan dan keinginan mereka turut memajukan akreditasi program studi terlihat jelas. Setiap kali diminta berpartisipasi, mereka bahkan rela cuti dari pekerjaan saat pelaksanaan asesmen lapangan.
Tentu persiapan akreditasi Prodi IE membutuhkan waktu tidak singkat. Pembentukan tim task force, menyiapkan data, berkomunikasi dengan para dosen, mahasiswa dan semua unsur yang terlibat termasuk pengguna lulusan bukanlah hal ringan. Rapat persiapan menyongsong akreditasi sudah lama dilakukan, dimulai Juli 2025. Karena masa berlaku akreditasi lama hanya sampai Februari 2026.
Waktu itu rapat pertama masih dipimpin ketua Jurusan Ekonomi dan Sekretaris Jurusan melibatkan task force. Pasti di setiap persiapan ada kendala, bahkan ada drama yang kadang diluar perkiraan. Dengan berbagai perjuangan dari semua pihak, elemen dan tim, akhirnya borang akreditasi berhasil disubmit ke Lamemba.
Persoalan tidak sampai di situ. Saat sudah disubmit, ternyata masa berakhir akreditasi lama deadline. Saat yang bersamaan banyak mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB Unimed yang harus diwisuda. Karena itu pula Ketua Program Studi diminta mengurus perpanjangan izin masa akreditasi ke Lamemba. Saya ingat betul proses ini. Ada tanggungjawab besar di dalamnya, kalau perpanjangan akreditasi tak dilakukan, alamat mahasiswa tak bisa diwisuda.
Dengan berbagai pertolongan, bantuan dan koneksi informasi antar kampus akhirnya perpanjangan akreditasi rampung. Sedikit lega karena akhirnya wisudawan bisa menamatkan sarjana Ilmu Ekonomi-nya. Tulisan ini tidak akan menceritakan drama-drama dibalik perpanjangan izin dan asesmen lapangan. Tulisan ini juga tidak menceritakan apalagi menasbihkan siapa paling berjasa mengangkat status akreditasi program studi. Karena setiap capaian adalah prestasi kolektif kolegial. Dan tentu saja setiap kegagalan pun harusnya sama, kolektif kolegial. Bahkan kalau gagal, tentu tanggungjawabnya ada di pimpinan tim.
Bagi seorang ketua Program Studi, proses akreditasi sebenarnya seperti menghadapi vonis hidup mati. Karena di FEB Unimed itu, yang paling berperan dan bertanggungjawab menjalankan akreditasi adalah program studi. Walau sebenarnya kalau dilihat dari teknis dan aturan maka 80 persen tanggungjawabnya ada pada UPPS (Unit Pengelola Program Studi) atau fakultas. Aturan tugas UPPS bisa dilihat pada Peraturan Pemerintah No. 4/2014 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan tinggi dan pengelolaan perguruan tinggi. Lalu ada Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Peraturan BAN-PT No. 3 Tahun 2019. Peraturan ini khusus menetapkan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT 3.0). Dalam pedoman penilaian IAPT 3.0, salah satu indikator penting menentukan nilai akreditasi perguruan tinggi adalah persentase program studi yang telah terakreditasi (khususnya yang berstatus Unggul/A).
Bayangkan kalau hasil akreditasi IE merosot, siapa yang disalahkan? Atau kalau waktu perpanjangan akreditasi lama gagal, siapa yang disalahkan ketika mahasiswa tak bisa ikut wisuda? Namun ketika akhirnya hasil akreditasi ini unggul anggaplah itu prestasi UPPS.
Ketika proses akreditasi IE mulai berjalan sebenarnya banyak yang underestimate. Tim ini datang sebagai medioker, ibarat Maroko atau Mesir di Piala Dunia. Tidak diunggulkan, tapi bisa bikin kejutan. Berbagai proyeksi menyatakan kalaupun akreditasi IE sukses, paling hanya akan unggul 2 tahun. Karena datang sebagai tim papan bawah, tak terlalu diperhitungkan, ternyata memacu semangat yang luar biasa.
Semangat itu muncul karena kalau hasilnya Unggul, akreditasi IE akan terinformasi ke berbagai pihak termasuk di instagram-nya Unimed Official. Bayangkan, semua program studi dari berbagai fakultas se-Unimed sudah lebih dulu bergantian tayang di media sosial itu dengan status Unggul. Prodi IE-lah perwakilan FEB Unimed, buka dasar tayang status akreditasinya ke publik.
Hal ini tentu menjadi motivasi bagi prodi lain di FEB Unimed yang tahun ini dan tahun depan bergantian akreditasi. Karena dari pengalaman akreditasi sebelum ini, tiga program studi yang sudah diakreditasi di periode Dekanat sekarang ternyata turun peringkat. Sebelumnya status mereka Unggul, tapi kini turun status menjadi baik sekali. Tiga prodi turun predikat, bukan angka sedikit sebenarnya jika dibanding keseluruhan jumlah prodi yang ada. Tapi begitulah, kita harus menerima penurunan ini.
Padahal di periode Dekan FE Unimed sebelumnya, seluruh program studi sudah berstatus Unggul kecuali program studi baru. Ternyata kita semua nyaman saja, menerima dan menikmati penurunan status akreditasi tersebut. Tidak tahu juga kita apa konsekuensi yang didapatkan dari penurunan ini. Tapi secara akademik, hasil ini tidak menggembirakan dan perlu dievaluasi.
Era Dekan sebelumnya sudah meletakkan fundamental akademik di FEB Unimed sangat kuat. Ditandai dengan semua akreditasi prodi sudah unggul, ditambah lagi pembukaan program studi baru dengan hadirnya Ilmu Ekonomi, Kewirausahaan dan Bisnis Digital di jenjang S1. Ditambah Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi di jenjang Magister. Kemudian di periode sebelumnya juga izin baru Pendidikan Bisnis (dulunya Pendidikan Tata Niaga) dan Pendidikan Administrasi Perkantoran didapatkan dengan munculnya SK baru. Seluruh program studinya terakreditasi Unggul diluar prodi baru. Sekarang peta berubah karena sudah tiga yang turun status.
Terus Prodi baru apa yang akan hadir di FEB Unimed? Kita tunggu saja, saya yakin pasti ada. Perlu dicatat, apa yang dituliskan di sini adalah fakta. Bukan hoax. Tidak boleh sedikit-sedikit kita menuduh orang menyebar hoax. Padahal yang disampaikan fakta. Jangan pula karena mau menutup fakta yang ada harus menyudutkan orang lain karena tidak mampu menjadi lebih maju. Ibaratnya terlalu banyak kita bicara saat memimpin tapi tidak linier dengan prestasi. Nanti suatu waktu pada tulisan lain, akan saya ajari bagaimana belajar memimpin dari tukang jamu.
Lalu apakah dengan capaian akreditasi Unggul program studi IE kita merupakan prestasi besar? Tidak. Ini hanya indikator kecil dari keberlanjutan program studi. Kenapa? Kita harus melihat dan berkaca ke dunia luar. Kampus-kampus lain sudah mengejar akreditasi internasional. Kampus tetangga kita, beberapa program studinya terakreditasi internasional. Kampus di Jawa yang dulu eks-IKIP pun sudah banyak yang terakreditasi internasional.
Beberapa ketua program studi Ekonomi Pembangunan dan Ilmu Ekonomi di kampus lain sudah memamerkan capaiannya karena berhasil terakreditasi internasonal. Di Fakultas Ekonomi mereka, dan di ruang-ruang program studi, terlihat ada kelas internasional, ada kelas bilingual. Lalu kita bagaimana? Sulit menjawabnya. Tapi harus ada keyakinan dan optimisme semua pihak berorientasi pada kemajuan dan peningkatan capaian akademik. Paling tidak kita bisa mempertahankan capaian yang sudah ada, bukan malah menurun apalagi merosot.