Inggris-Kroasia, Duel Luka Lama di Dallas

redaksi
17 Jun 2026 16:39
3 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – Delapan tahun telah berlalu sejak Kroasia memupus mimpi Inggris menuju final Piala Dunia 2018. Namun kenangan itu belum benar-benar hilang. Ketika kedua tim kembali bertemu pada laga pembuka Grup L Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Kamis (18/6/2026) WIB, aroma rivalitas lama dipastikan kembali terasa.

Bagi Inggris, pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiga poin pertama. Ini adalah kesempatan membuka turnamen dengan kemenangan sekaligus menunjukkan bahwa generasi yang kini ditangani Thomas Tuchel siap melangkah lebih jauh dibanding pendahulunya. Sementara bagi Kroasia, laga ini menjadi panggung untuk membuktikan bahwa mereka masih layak diperhitungkan meski sebagian besar generasi emasnya telah memasuki penghujung karier.

Inggris datang ke Amerika Serikat dengan status salah satu favorit juara. Rekor sempurna di fase kualifikasi dan kedalaman skuad yang dimiliki membuat The Three Lions lebih diunggulkan dibanding lawannya. Harry Kane tetap menjadi ujung tombak, didukung kreativitas Jude Bellingham, Declan Rice, Bukayo Saka, serta Anthony Gordon yang diperkirakan mengisi sektor sayap.

Di kubu Kroasia, pelatih Zlatko Dalic masih mengandalkan pengalaman Luka Modric dan Mateo Kovacic sebagai pengatur ritme permainan. Meski tak lagi secepat beberapa tahun lalu, Kroasia tetap memiliki kemampuan mengendalikan tempo dan membuat lawan frustrasi melalui penguasaan bola yang rapi. Ivan Perisic juga masih menjadi salah satu sumber ancaman dari lini depan.

Secara taktik, pertandingan diperkirakan berlangsung menarik. Tuchel cenderung menginginkan Inggris bermain agresif sejak awal dengan tekanan tinggi dan transisi cepat ke area pertahanan lawan. Pola ini terlihat sepanjang persiapan menuju turnamen dan diyakini akan kembali menjadi senjata utama Inggris di Dallas.

Sebaliknya, Kroasia kemungkinan tidak akan terpancing bermain terbuka. Dalic diperkirakan memilih pendekatan yang lebih sabar dengan membangun serangan dari lini tengah dan memanfaatkan pengalaman Modric serta Kovacic untuk mengontrol jalannya pertandingan. Jika berhasil memperlambat tempo, Kroasia memiliki peluang membuat Inggris kehilangan ritme permainan.

Dalam catatan pertemuan di turnamen besar, duel kedua negara kerap berlangsung ketat. Kroasia mengalahkan Inggris 2-1 setelah perpanjangan waktu pada semifinal Piala Dunia 2018. Namun Inggris membalas kekalahan tersebut dengan kemenangan 1-0 pada fase grup Euro 2020 melalui gol Raheem Sterling. Fakta itu menunjukkan tidak ada dominasi mutlak dari salah satu pihak dalam beberapa tahun terakhir.

Meski Kroasia memiliki pengalaman dan mental bertanding yang kuat, Inggris tetap berada di posisi lebih menguntungkan. Kedalaman skuad, kecepatan lini depan, dan kualitas individu yang merata membuat mereka memiliki lebih banyak cara untuk memenangkan pertandingan.

Jika Kroasia mampu membawa laga berjalan lambat dan taktis, peluang kejutan masih terbuka. Namun apabila Inggris berhasil mencetak gol lebih dulu, pertandingan berpotensi berjalan sesuai skenario yang diinginkan Tuchel.

Dallas akan menjadi panggung ujian pertama bagi dua tim yang sama-sama memiliki ambisi besar.

Satu tim ingin menghapus luka masa lalu, sementara tim lainnya berusaha membuktikan bahwa pengalaman belum kehilangan nilainya. (Reza)