IlustrasiOleh: Purjatian Azhar
Ada pemandangan yang semakin lazim dijumpai di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumatera Utara). Ketika sidang seminar hasil atau seminar proposal telah selesai, mahasiswa tidak lagi langsung pulang atau berkumpul sederhana bersama keluarga. Mereka justru keluar dari ruang sidang menuju halaman kampus yang telah dipenuhi teman-teman sejawat, balon warna-warni, papan bunga mini, buket uang, selempang bertuliskan “Congratulations”, confetti, hingga sesi dokumentasi profesional.
Bahkan tidak sedikit yang mengenakan mahkota, membawa boneka jumbo dan berbagai macam bentuk bingkisan.
Fenomena tersebut kemudian dikenal dengan istilah Semhastulation (Seminar Hasil Celebration) dan Semprotulation (Seminar Proposal Celebration). Kedua istilah ini merupakan hasil kreativitas linguistik generasi Z yang menggabungkan istilah akademik dengan kata congratulation, sehingga menghasilkan identitas budaya baru yang khas di lingkungan mahasiswa.
Fenomena ini menarik bukan semata karena bentuk perayaannya, melainkan karena memperlihatkan bagaimana ruang akademik kini telah bertransformasi menjadi ruang sosial yang sarat simbol, representasi, dan pertunjukan identitas. Dalam perspektif sosiologi, Semhastulation dan Semprotulation bukan sekadar pesta kecil mahasiswa, tetapi merupakan gejala perubahan budaya generasi digital yang layak dibaca secara lebih mendalam.
Generasi Z lahir dalam dunia yang sejak awal telah terhubung dengan internet. Mereka tumbuh bersama media sosial, kamera digital, TikTok, Instagram, dan berbagai platform yang menjadikan pengalaman pribadi sebagai konsumsi publik. Dalam masyarakat sebelumnya, pencapaian akademik lebih banyak dimaknai sebagai keberhasilan individual yang dirayakan secara terbatas dalam lingkungan keluarga. Kini, keberhasilan akademik berubah menjadi sebuah pengalaman kolektif yang harus didokumentasikan, dipublikasikan, dan dibagikan kepada jaringan sosial.
Konsep experience economy menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak hanya mengonsumsi barang, tetapi juga mengonsumsi pengalaman. Seminar hasil bukan lagi dipahami sebagai ujian akademik semata, melainkan menjadi momen emosional yang layak diperingati sebagaimana wisuda, ulang tahun, bahkan lamaran. Bagi Gen-Z, pengalaman tidak dianggap benar-benar terjadi apabila tidak memiliki dokumentasi digital. Foto, video, reels, dan unggahan media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman itu sendiri.
Dramaturgi Kehidupan Mahasiswa
Fenomena ini sangat relevan dibaca melalui teori dramaturgi Erving Goffman. Goffman memandang kehidupan sosial sebagai sebuah panggung teater. Individu adalah aktor yang terus menampilkan citra tertentu di hadapan audiens. Dalam konteks Semhastulation, mahasiswa sedang berada pada front stage. Mereka mengenakan pakaian terbaik, memegang buket bunga, berfoto bersama dosen pembimbing, keluarga, dan teman-teman. Semua elemen visual disusun sedemikian rupa agar menghasilkan kesan keberhasilan, kerja keras, dan kebahagiaan.
Sementara itu, proses panjang penyusunan skripsi yang penuh revisi, stres, konflik dengan pembimbing, hingga tekanan psikologis merupakan bagian dari back stage yang jarang diperlihatkan kepada publik. Media sosial memperkuat dramaturgi tersebut. Instagram dan TikTok menjadi panggung baru tempat identitas akademik dipertunjukkan. Mahasiswa tidak hanya ingin lulus, tetapi juga ingin terlihat sedang sukses.
Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya mengejar modal ekonomi, tetapi juga modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. Semhastulation menghasilkan modal simbolik yang cukup besar. Buket bunga mewah, dokumentasi profesional, banyaknya teman yang hadir, hingga unggahan yang memperoleh ribuan likes merupakan simbol pengakuan sosial. Dalam konteks ini, keberhasilan seminar bukan lagi sekadar kelulusan akademik, tetapi juga menjadi investasi simbolik yang memperkuat posisi seseorang dalam jaringan pertemanan maupun komunitas digital.
Tidak mengherankan apabila muncul kompetisi yang tidak disadari. Mahasiswa mulai membandingkan dekorasi, jumlah hadiah, konsep foto, bahkan lokasi perayaan. Modal simbolik kemudian berubah menjadi arena persaingan status sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya menjadi arena produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga arena reproduksi prestise sosial.
Sementara itu Jean Baudrillard menjelaskan bahwa masyarakat postmodern lebih banyak mengonsumsi simbol daripada fungsi. Buket bunga sebenarnya bukan kebutuhan akademik. Balon tidak menentukan kualitas skripsi. Dokumentasi profesional tidak memengaruhi nilai seminar. Namun semua itu memiliki nilai simbolik yang tinggi. Mahasiswa membeli bukan karena membutuhkan barang tersebut, melainkan karena membutuhkan makna sosial yang melekat pada barang tersebut. Buket bunga menjadi simbol apresiasi. Selempang menjadi simbol pencapaian. Dokumentasi menjadi simbol eksistensi. Inilah yang disebut Baudrillard sebagai sign value, yaitu nilai yang lahir bukan dari fungsi barang, tetapi dari makna sosial yang dikandungnya.
Dari perspektif sosiologi agama, terutama pemikiran Émile Durkheim, setiap masyarakat selalu menciptakan ritual untuk memperkuat solidaritas sosial. Meskipun Semhastulation bukan ritual keagamaan, ia memiliki fungsi sosial yang hampir serupa. Teman-teman berkumpul, mereka memberikan hadiah, mengucapkan doa, berfoto Bersama, mengabadikan momen. Semua aktivitas tersebut memperkuat rasa kebersamaan (collective effervescence). Mahasiswa merasa menjadi bagian dari komunitas yang saling mendukung. Dengan demikian, Semhastulation dapat dipahami sebagai ritual sekuler yang berfungsi membangun solidaritas di kalangan mahasiswa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial merupakan aktor utama dalam penyebaran fenomena ini. Instagram, TikTok, Facebook, hingga WhatsApp menjadikan satu perayaan cepat ditiru oleh mahasiswa dari kampus lain. Dalam perspektif teori difusi inovasi Everett Rogers, praktik Semhastulation menyebar melalui proses imitasi sosial. Mahasiswa melihat unggahan senior, kemudian meniru lalu memodifikasi. Selanjutnya menjadi budaya baru.
Media sosial mempercepat proses institusionalisasi budaya tersebut. Apa yang awalnya hanya dilakukan segelintir mahasiswa kini menjadi ekspektasi sosial yang hampir dianggap “normal”. Akibatnya, mahasiswa yang tidak merayakan seminar sering kali merasa tertinggal atau bahkan dianggap kurang mendapatkan dukungan sosial.
Fenomena ini tentu memiliki dua sisi. Di satu sisi, Semhastulation merupakan bentuk penghargaan terhadap perjuangan akademik yang panjang. Penyusunan skripsi sering kali menjadi proses yang melelahkan secara emosional. Dukungan teman dan keluarga dapat meningkatkan motivasi serta memperkuat kesehatan mental mahasiswa. Namun di sisi lain, budaya ini juga melahirkan tekanan sosial baru. Mahasiswa yang berasal dari keluarga sederhana dapat merasa terbebani untuk mengadakan perayaan serupa. Ada kecenderungan munculnya budaya konsumtif.
Tidak sedikit mahasiswa rela mengeluarkan biaya besar hanya demi memenuhi standar visual media sosial.
Dalam perspektif Robert K. Merton, kondisi ini dapat dipahami sebagai bentuk tekanan struktural (strain), ketika individu terdorong memenuhi ekspektasi sosial meskipun sumber daya yang dimiliki terbatas. Akibatnya, makna akademik berpotensi bergeser menjadi kompetisi simbolik.
Fenomena Semhastulation juga menunjukkan terjadinya perubahan makna prestasi akademik. Pada masa lalu, ukuran keberhasilan mahasiswa adalah kualitas penelitian, kemampuan berpikir kritis, dan kontribusi ilmiah. Kini, keberhasilan sering kali juga diukur melalui representasi visual di media sosial. Pertanyaan yang muncul bukan lagi “bagaimana kualitas skripsimu?”, melainkan “berapa buket bunga yang kamu terima?” atau “siapa yang datang memberi kejutan?”.
Transformasi ini memperlihatkan bahwa masyarakat digital semakin menempatkan citra sebagai bagian penting dari realitas sosial. Bukan berarti substansi akademik hilang, tetapi ia mulai berjalan berdampingan dengan budaya representasi visual.
Sebagai fenomena sosial, Semhastulation dan Semprotulation tidak seharusnya dipandang hanya sebagai budaya yang harus dipuji ataupun dicela. Sosiologi mengajarkan bahwa setiap praktik sosial lahir dari konteks zamannya. Dalam masyarakat digital, kebutuhan akan pengakuan, dokumentasi, dan berbagi pengalaman merupakan bagian dari logika sosial yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Karena itu, yang perlu dijaga bukanlah menghilangkan budaya perayaan, melainkan memastikan bahwa perayaan tidak menggeser esensi akademik. Seminar hasil dan seminar proposal tetap merupakan forum ilmiah yang menguji kualitas argumentasi, metodologi, dan kontribusi penelitian. Perayaan seharusnya menjadi ekspresi rasa syukur setelah proses intelektual yang panjang, bukan tujuan utama yang lebih penting daripada pencapaian ilmiah itu sendiri.
Pada akhirnya, Semhastulation dan Semprotulation adalah cermin perubahan budaya mahasiswa Gen-Z. Ia memperlihatkan bagaimana kampus tidak lagi hanya menjadi ruang produksi pengetahuan, tetapi juga ruang produksi identitas, simbol, dan budaya digital. Dari seminar menuju panggung sosial, mahasiswa sedang membangun narasi tentang siapa diri mereka di hadapan komunitasnya. Tantangan bagi perguruan tinggi adalah mengarahkan narasi tersebut agar tetap berpijak pada nilai-nilai akademik, kesederhanaan, dan integritas ilmiah. Dengan demikian, budaya baru ini dapat menjadi energi positif yang memperkuat solidaritas dan apresiasi terhadap proses belajar, tanpa kehilangan ruh utama pendidikan tinggi sebagai wahana pembentukan insan intelektual yang kritis, berkarakter, dan bertanggung jawab.
Penulis adalah dosen Sosiologi Agama UIN Sumatera Utara Medan