Tomáš Souček
MEDAN, kaldera.id – Ketika Meksiko dan Korea Selatan bersaing memperebutkan tiket pertama Grup A ke fase gugur, Afrika Selatan dan Republik Ceko justru menghadapi situasi yang jauh lebih genting. Pertemuan kedua tim di Stadion Atlanta, Kamis (18/6/2026) waktu setempat, menjadi laga yang bisa menentukan hidup-mati langkah mereka di Piala Dunia 2026.
Kedua tim sama-sama datang dengan luka dari pertandingan pertama. Afrika Selatan tumbang 0-2 dari Meksiko, sedangkan Republik Ceko harus mengakui keunggulan Korea Selatan setelah kalah 1-2. Hasil tersebut membuat keduanya belum mengoleksi poin dan terdampar di papan bawah klasemen Grup A.
Situasi semakin rumit karena pada pertandingan lain, Meksiko dan Korea Selatan yang sama-sama mengantongi tiga poin akan lebih dulu bertemu di Stadion Guadalajara, Jumat (19/6/2026). Pemenang laga itu berpeluang besar memastikan satu tempat di fase gugur, sehingga tekanan terhadap Afrika Selatan dan Republik Ceko semakin besar.
Bagi pelatih Afrika Selatan, Hugo Broos, pertandingan ini menjadi ujian untuk membangkitkan efektivitas timnya. Saat menghadapi Meksiko, Bafana Bafana mampu bertahan cukup disiplin, namun minim kreativitas di sepertiga akhir lapangan. Broos diperkirakan tetap mengandalkan organisasi permainan yang rapi dengan memanfaatkan kecepatan pemain sayap saat melakukan transisi menyerang.
Kiper Ronwen Williams kembali menjadi sosok penting di bawah mistar. Sementara Oswin Appollis dan Evidence Makgopa diharapkan mampu memberi ancaman lebih besar dibanding saat laga pertama.
Di kubu lawan, pelatih Republik Ceko Miroslav Koubek diperkirakan tidak akan banyak mengubah identitas permainan timnya. Ceko tetap mengandalkan kekuatan fisik, duel udara, serta efektivitas bola mati yang menjadi ciri khas mereka dalam beberapa tahun terakhir.
Kapten Tomáš Souček akan menjadi pengatur keseimbangan lini tengah, sementara Patrik Schick tetap menjadi tumpuan utama di lini depan. Ketajaman Schick menjadi salah satu alasan mengapa Republik Ceko masih sedikit lebih diunggulkan dibanding lawannya.
Secara permainan, duel ini berpotensi berlangsung lebih terbuka dibanding laga pertama kedua tim. Hasil imbang tidak banyak membantu posisi mereka di klasemen, sehingga baik Afrika Selatan maupun Republik Ceko diperkirakan akan bermain lebih berani.
Republik Ceko kemungkinan mengambil inisiatif menyerang lebih dulu melalui penguasaan bola dan umpan langsung ke area pertahanan lawan. Sebaliknya, Afrika Selatan akan mencoba memanfaatkan ruang melalui serangan balik cepat yang menjadi salah satu kekuatan mereka.
Meski demikian, pengalaman bermain di level tertinggi dan kedalaman skuad membuat Republik Ceko berada sedikit di atas Afrika Selatan. Jika mampu mengendalikan lini tengah melalui Souček dan memaksimalkan peluang yang datang kepada Schick, tim Eropa itu memiliki kans lebih besar untuk meraih kemenangan pertama.
Menariknya, kedua negara hampir tidak memiliki sejarah panjang dalam pertemuan internasional. Salah satu pertemuan resmi yang tercatat terjadi pada ajang Piala Konfederasi 1997 dan berakhir imbang 2-2. Karena itu, duel di Atlanta akan menjadi babak baru rivalitas yang jarang tersaji di panggung dunia.
Sementara itu, sorotan Grup A juga akan tertuju ke Stadion Guadalajara. Meksiko dan Korea Selatan sama-sama datang dengan modal kemenangan pada laga pembuka. Meksiko mengalahkan Afrika Selatan 2-0, sedangkan Korea Selatan menundukkan Republik Ceko 2-1.
Laga tersebut diprediksi berlangsung ketat karena pemenangnya berpeluang besar mengamankan tiket ke babak gugur lebih cepat. Meksiko diperkirakan mengandalkan penguasaan bola dan agresivitas lini depan, sementara Korea Selatan akan bertumpu pada permainan cepat dan disiplin organisasi tim yang menjadi kekuatan mereka sepanjang beberapa tahun terakhir.
Bagi Afrika Selatan dan Republik Ceko, hasil pertandingan di Guadalajara bisa menjadi kabar baik atau justru memperberat tekanan. Namun satu hal yang pasti, siapa pun yang kalah di Atlanta akan berada di ambang eliminasi. (Reza)