Dari Pena Tengku Luckman Sinar ke Era Digital: Mewariskan Melayu Lewat Pengetahuan
Seri Diskusi PW ISMI Sumut

redaksi
24 Jul 2026 09:09
3 menit membaca

MEDAN, kaldera.id —Nama Tengku Luckman Sinar Basharshah II hampir selalu disebut ketika berbicara tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Sumatera Utara. Selama puluhan tahun, ia menulis, mendokumentasikan, dan mengarsipkan jejak peradaban Melayu melalui buku, artikel, manuskrip, hingga berbagai kajian sejarah.

Namun, menurut putrinya, Prof. Dra. T. Silvana Sinar, Ph.D., tantangan yang dihadapi masyarakat Melayu hari ini berbeda dengan masa yang dihadapi ayahnya. Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui buku dan penelitian, kini pelestarian budaya harus memasuki ruang digital agar tetap hidup di tengah perubahan teknologi.

Hal itu disampaikan Silvana dalam Diskusi Publik “Konstruksi Peta Jalan Masa Depan Keserjanaan Melayu Indonesia” yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PW ISMI) Sumatera Utara di Medan, Kamis (23/7/2026).

Menurut purna Guru Besar Linguistik Universitas Sumatera Utara itu, media selalu memiliki posisi penting dalam perjalanan budaya Melayu. Pada masa Tengku Luckman Sinar, media cetak menjadi instrumen utama untuk menyebarluaskan pengetahuan. Kini, peran tersebut beralih kepada internet dan media digital.

“Pemberitaan dan informasi tentang Melayu merupakan kunci agar budaya Melayu tetap hidup. Media bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membentuk cara masyarakat memahami, menghargai, dan mewariskan budaya Melayu kepada generasi berikutnya,” kata Silvana.

Silvana menjelaskan bahwa ayahnya bukan sekadar sejarawan, melainkan seorang dokumentalis peradaban Melayu. Selama hidupnya, Tengku Luckman Sinar menghasilkan sedikitnya 21 buku, 108 tulisan tentang seni dan budaya Melayu, 215 makalah seminar, serta hampir 200 artikel ilmiah dan media massa. Ia juga mendirikan Taman Bacaan Masyarakat Tengku Luckman Sinar sebagai pusat penyimpanan pengetahuan Melayu.

Baginya, warisan terbesar sang ayah bukan hanya karya-karya tersebut, tetapi semangat membangun tradisi kesarjanaan Melayu.

“Kesarjanaan Melayu bukan sekadar gelar akademik, tetapi tradisi berpikir, meneliti, menulis, mendokumentasikan, dan mengabdikan ilmu untuk menjaga marwah Melayu,” ujarnya.

Menurut Silvana, memasuki era pasca-Tengku Luckman Sinar, perubahan terbesar terjadi pada saluran penyebaran informasi. Jika dahulu masyarakat bergantung pada buku, surat kabar, radio, dan televisi, kini internet membuka ruang yang jauh lebih luas untuk memperkenalkan budaya Melayu kepada dunia.

Kata dia, perubahan teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Digitalisasi tidak cukup dimaknai sebagai memindahkan buku ke internet. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem pengetahuan Melayu melalui arsip digital, perpustakaan daring, jaringan komunitas, hingga publikasi ilmiah yang mudah diakses masyarakat.

Dalam paparannya, Silvana juga menyoroti peran budayawan Mahyuddin Al Mudra yang dinilainya berhasil melanjutkan semangat Tengku Luckman Sinar melalui pendekatan berbeda. Jika Tengku Luckman membangun fondasi dokumentasi dalam bentuk fisik, Mahyuddin mengembangkan jaringan budaya Melayu melalui internet, digitalisasi manuskrip, perpustakaan daring, dan platform pengetahuan digital.

Menurutnya, kesinambungan itulah yang harus terus dijaga.

“Tradisi dan teknologi tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berjalan berdampingan agar budaya Melayu tetap hidup dan relevan bagi generasi sekarang,” katanya.

Silvana menegaskan bahwa masa depan peradaban Melayu bergantung pada kemampuan membangun narasi di ruang publik. Sejarah, adat, agama, organisasi masyarakat, hingga identitas Melayu harus terus hadir dalam pemberitaan dan ruang digital agar tidak kehilangan tempat di tengah arus globalisasi.

Bagi Silvana, warisan Tengku Luckman Sinar bukan untuk dikenang sebagai monumen masa lalu. Warisan itu justru menjadi titik tolak lahirnya generasi baru sarjana Melayu yang mampu meneruskan tradisi keilmuan dengan memanfaatkan teknologi digital.(reza sahab/red)