Harap-harap Cemas Menuju Singapura di Tengah Wabah Virus Corona (1)

Di MRT menuju Orchad tampak warga Singapura tak ada yg menggunakan masker. (KALDERA/Armin Nasution)
Di MRT menuju Orchad tampak warga Singapura tak ada yg menggunakan masker. (KALDERA/Armin Nasution)

TIKET menuju Singapura sudah lama dibeli. Janji juga harus ditunaikan. Tapi apa daya ternyata sejak Februari 2020 virus corona atau covid-19 yang berasal dari China itu ternyata mengkhawatirkan dunia. Bagaimana tidak, hingga kini di dunia sudah 100 ribu orang terinfeksi dan ada 3.000 kematian.

Menyeramkan dan seperti teror bagi yang akan bepergian. Bahkan di Singapura hingga 8 Maret 2020 sudah tercatat 147 kasus atau tertinggi di Asia Tenggara. Walaupun sudah begitu tinggi, tapi hingga hari ini belum ada korban meninggal di negara tersebut.

Hanya saja Kedutaan Besar RI di Singapura mengonfirmasi sudah ada 3 WNI yang positif terinfeksi. Sungguh ini benar-benar berisiko untuk masuk ke Singapura. Sempat tarik ulur, antara berangkat dan tidak atau hanya cukup sampai di Kuala Lumpur saja karena tiket yang ditebus juga dari Medan (KNO) transit di Kuala Lumpur sampai kemudian jika sesuai jadwal akan sampai di Singapura.

Namun kemudian setelah mengikuti berbagai pertimbangan termasuk bertanya kepada orang Indonesia yang tinggal di Singapura, lalu mencari informasi dari teman yang baru dua hari lalu pulang , ternyata memunculkan keberanian untuk masuk.

Beresiko? Sudah pasti. Apalagi membaca berita di media yang begitu menyeramkan. Begitu pesawat Air Asia yang menerbangkan kami tiba di Kuala Lumpur, Senin (9/3/2020), Pkl 13.00, hasrat untuk tidak pergi ke Singapura masih ada.

Bandara dan Imigrasi Singapura

Sampai kemudian melihat kondisi bandara KLIA-2 yang konon di Kuala Lumpur pun sudah ditemukan beberapa pengidap virus corona. Tapi kok ya bandara ini adem saja. Bahkan yang memakai masker pun bisa dihitung dengan jari. Faktor itu jugalah yang kemudian menguatkan tekad untuk masuk ke Singapura. Sekira Pkl 15.00 waktu setempat, Air Asia dengan nomor penerbangan AK 715 pun bergerak menuju Changi Airport Singapura.

Sesuai jadwal pesawat akan landing di Changi Pkl 16.00. Sebelum turun ada pengumuman penting dari pilot yang mendebarkan. Intinya adalah, diberitahukan kepada penumpang siapapun yang 14 hari terakhir berkunjung ke China maupun Korea Selatan tidak akan diizinkan transit dan masuk ke Singapura.

Atau kalaupun yang kemudian sudah mendapatkan visa tinggal dalam waktu yang lama di Singapura tapi pernah mengunjungi dua negara itu akan dikarantina 14 hari. Bayangan wabah covid 19 itu semakin mengerikan saja di atas pesawat.

Jantung mulai berdegup kencang, darah pun terasa mengalir lebih cepat sampai kemudian pesawat mendarat dengan selamat di Changi, salah satu bandara termegah di dunia. Begitu menjejakkan kaki menuju pintu masuk imigrasi ternyata bayangan di atas pesawat tentang kekhawatiran terhadap virus covid-19 sedikit berubah.

Para penumpang yang turun dari pesawat dan para petugas kelihatan tidak banyak yang menggunakan masker. Bahkan petugas imigrasi di bandara pun tak menggunakan masker. Memang sebelum masuk imigrasi, ada satu alat yang ditunggui beberapa orang berbentuk kamera yang memantau orang dari jauh. Ini tidak seperti alat screening yang digunakan di hotel-hotel berbentuk pistol yang diarahkan ke kening orang untuk mengecek suhu tubuhnya.

Di Changi Airport penumpang melintas dan lalu lalang lewat pemantauan alat tersebut. Jika kemudian ada kecurigaan alat itu yang akan mendeteksi dari jauh. Jadi bukan seperti body heat check yang langsung menempel di badan.

Sampai di petugas imigrasi perasaan mulai sedikit tenang. Kekhawatiran mulai berkurang. Petugas imigrasi bertanya apakah pernah melakukan perjalanan, China, Korea Selatan, dan Eropa dalam 14 hari terakhir. Jika jawabannya tidak, petugas imigrasi akan memberi izin untuk langsung ke pintu keluar.(armin nasution)