Kaldera.id
  • BERANDA
  • BERITA TERKINI
  • Bisnis
  • BERITA VIRAL
  • SUPORTER
  • EDUKASI
  • TRAVELING
  • OPINI
  • Advertorial
  • KABAR DAERAH
Kamis, 20 Agu 2026
Mustika Deli Jadi Etalase Baru Produk UMKM Medan
Bank Sumut Dorong Digitalisasi BRT Mebidang dengan Smartcash
Dorong Shift Kerja 24 Jam, Kadin Sumut Sebut BRT Mebidang Dongkrak Produktivitas Industri dan Pertumbuhan Ekonomi
Rico Waas Apresiasi Pameran Foto “Prahara Pulau Emas”
Angin Puting Beliung Rusak 150 Rumah dan SD Negeri di Medan Johor
Pemkab Deli Serdang Arahkan CSR 2026-2027 untuk Bedah Rumah dan Program Prioritas
DPRD Bandung Pelajari Strategi PAD dan QRESTO di Medan
Edwin Sugesti Minta Pemko Medan Data Kerugian Korban Puting Beliung
Banggar DPRD Medan Minta 35 Persen Anggaran Pembangunan untuk Medan Utara
Bobby Luncurkan BRT Mebidang, Target Integrasi 2027
Mustika Deli Jadi Etalase Baru Produk UMKM Medan
Bank Sumut Dorong Digitalisasi BRT Mebidang dengan Smartcash
Dorong Shift Kerja 24 Jam, Kadin Sumut Sebut BRT Mebidang Dongkrak Produktivitas Industri dan Pertumbuhan Ekonomi
Rico Waas Apresiasi Pameran Foto “Prahara Pulau Emas”
Angin Puting Beliung Rusak 150 Rumah dan SD Negeri di Medan Johor
Pemkab Deli Serdang Arahkan CSR 2026-2027 untuk Bedah Rumah dan Program Prioritas
DPRD Bandung Pelajari Strategi PAD dan QRESTO di Medan
Edwin Sugesti Minta Pemko Medan Data Kerugian Korban Puting Beliung
Banggar DPRD Medan Minta 35 Persen Anggaran Pembangunan untuk Medan Utara
Bobby Luncurkan BRT Mebidang, Target Integrasi 2027
New SUMUT.mobile - New Look, New Features | Bank Sumut

Beranda / Medan

Inflasi Dan Islamic Social Finance

redaksi
11 Sep 2023 06:25
Medan Opini 0 696
4 menit membaca
Armin NasutionArmin Nasution

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – SABTU (9/9/2023), saya berkesempatan lagi mengikuti focus grup discussion bersama Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Ustad Hidayatullah, Wakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani, akademisi UIN Dr. Faisal Riza serta perwakilan Baznas Serdang Bedagai Ust. Ashari.

Mulia Syahputra Nasution
Baca Juga
Kepentingan Pertumbuhan Pembangunan, Capaian Perolehan PAD Harus Lebih Dimaksimalkan
09 Nov 2022

Acara ini digelar di theme park Pantai Cermin. Diskusinya menarik. Karena dari berbagai sesi yang dihadirkan, di kesempatan tersebut banyak pewakilan ibu-ibu (emak-emak) yang sebenarnya sebagian dari mereka tak mengerti inflasi tapi merasakannya hampir setiap hari.

Kenapa begitu? Karena merekalah yang paling tahu pergerakan harga di pasar saat berbelanja.

HUT RI TAPSEL

Secara umum, di ekonomi konvensional tentu terasa sulit menghubungkan dan melihat korelasi inflasi dengan Islamic Social Finance (ISF). Saya awalnya pun begitu. Bagaimana mungkin inflasi dikaitkan dengan strategi penguatan islamic social finance. Karena kalau disimpelkan istilahnya islamic social finance adalah memberdayakan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) untuk mengendalikan inflasi.

Pemain Makedonia Utara bersuka cita atas hasil kemenangan atas Italia
Baca Juga
Dikalahkan Tim Gurem, Italia Gagal Mentas di Piala Dunia 2022
25 Mar 2022

Namun ternyata mengikuti seri diskusi ini membuat kita punya pemahaman, ternyata ada hubungan kuat antara dua variabel ini. Ustad Hidayatullah runut memaparkan bagaimana hal itu saling mempengaruhi.

Bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi kita di tahun 1980-an dengan PDB (pendapatan nasional) masih di angka Rp1.900 triliun sekarang sudah mencapai Rp19.000 triliun. Artinya ekonomi kita tumbuh luar biasa. Tapi coba lihat juga harga-harga kebutuhan dari harga beras yang Rp50 per kg sekarang sudah Rp14.000.

Menurut Hidayatullah, persoalan inflasi tidak cukup diselesaikan secara konvensional. Karena umat (Islam) punya kemampuan menyelesaikannya dengan penggalangan dana yang bisa dimanfaatkan dalam pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana korelasinya? Efek inflasi salah satunya adalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Dan yang bisa dilakukan tentu mendorong taraf hidup masyarakat agar terhindar dari efek inflasi. Atau akumulasi dana keumatan juga berkontribusi pada penguatan sumber pembiayaan untuk produksi.

Bahkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang berperan aktif mengendalikan inflasi melihat potensi ISF sesuatu yang bisa dikembangkan. Dalam paparan yang disampaikan Suherman Tabrani di FGD Sabtu lalu, mereka mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kemudian juga berupaya memaksimalkan peran ziswaf dalam perekonomian.

Karena ziswaf ini secara langsung bisa misalnya digunakan sebagai suplai sumber pembiayaan di sektor produksi. Usaha-usaha mikro, kecil menengah sampai skala besar bisa menggunakan ziswaf membantu biaya produksi melalui lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Atau bisa juga dorongan dana umat dimanfaatkan dari sisi konsumsi. Misalnya pemberdayaan masyarakat lewat Ziswaf akan meningkatkan daya beli. Ada satu lembaga amil zakat yang menceritakan mereka memberdayakan warga kurang mampu untuk beternak. Dan hasilnya sekarang warga miskin itu bisa ‘move on’ beralih dari mustahik menjadi muzakki (dari penerima zakat menjadi pembayar zakat).

Konteks inilah sebenarnya yang perlu dibangun. Apalagi respon umat terhadap ini cukup antusias. BI menyatakan dalam festival ekonomi syariah beberapa waktu lalu, mereka sukses menyelenggarakan lelang wakaf. Ini baru sebagai pemantik. Karena sebenarnya potensi dana zakat saja di Indonesia mencapai Rp327 triliun dan yang realisasi baru Rp75 triliun. Di Sumut potensi zakat , infaq, sedekah ini bisa mencapai Rp8,8 triliun atau setara APBD Kota Medan misalnya kalau semua terhimpun. Namun yang terkumpul di Sumut baru di angka Rp20 miliar. Potensinya besar tapi banyak hal membuatnya tak maksimal.

Sebab begini, secara aturan secara agama secara kewajiban sudah jelas dalam Al-Quran tentang kewajiban membayar zakat. Tidak ada tawar menawar, bahwa zakat ini harus dibayar. Bukan dibayar sekali setahun saja (zakat fitrah), karena ada potensi lain dari zakat pertanian, zakat profesi, zakat harta dan lain-lain. Ini kadang kita hanya merasa wajib membayar zakat fitrah sekali setahun. Surat A-Taubah 103 misalnya di kalimat awal sudah ditegaskan dengan kalimat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Itu kalimatnya menggunakan kata “ambillah”. Begitu jelasnya kewajiban yang harus ditunaikan.

Tapi kembali lagi berbagai problem dan konotasi kurang pas membuat penghimpunannya belum maksimal. Mulai dari keinginan agar zakat bisa menghapus kewajiban pajak, lembaga amil zakat yang sering kurang dipercaya, serta tingkat kesadaran yang rendah. Begitu banyak problem muncul yang sebenarnya seperti ‘mengingkari’ kewajiban kita. Apapun ceritanya, mau zakat tak mengurangi pajak, kurang percaya pada amil dan lain-lain, inti kalimatnya satu: zakat itu kewajiban.

Bahkan jika saja kita punya konsistensi membayar zakat lalu terkumpul katakan Rp300 triliun betapa kuatnya posisi tawar umat kita di hadapan negara karena setidaknya punya porsi 10 persen dari APBN 2024 yang jumlahnya Rp3 ribu triliun itu.

Bukan itu saja, menurut penelitian seperti yang disampaikan Dr. Faisal Riza, dosen UIN, sesungguhnya rakyat Indonesia ini adalah orang yang paling gemar berdonasi. Maka wajar sebenarnya jika akumulasi potensi terhimpun, berperan mengatasi inflasi.

Simpulan tulisan ini, saya merasa menjadi seperti layaknya pengamat ekonomi syariah. Tapi memang, semoga masih ada harapan agar sistem ribawi (riba itu jiyadah) yang banyak menjadi mudharat dalam perekonomian, bahkan menurut sebagian ibu-ibu menjadi faktor tingginya angka perceraian, bisa diselesaikan dengan pendekatan islamic social finance.

akademisi UIN Dr. Faisal RizaArmin nasutionBaznasBaznas Kota MedanBaznas Serdang Bedagai Ust. AshariFraksi PKS Ustad HidayatullahInflasiislamic social financeWakil Pimpinan BI Sumut Suharman Tabrani
Pos Terkait
Anggaran Infrastruktur Sumut 2026 Tembus Rp1,9 Triliun
Gunung Sinabung 2 Kali Erupsi Rabu Dini Hari, Tinggi Kolom Abu Capai 1,5 Km
Gus Irawan: Harga CPO dan Minyak Mentah Dunia Naik, Beban Subsidi Biosolar Makin Berat
Pratu Rian Hermawan Oknum TNI Pembawa 75 Kg Sabu Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup
Kickboxing Indonesia Siap Bertarung di Kejuaraan Dunia 2021 di Italia
Dinsos Sumut Siapkan 5 Sekolah Rakyat Terintegrasi, Target Beroperasi Tahun Ajaran 2026/2027

Pos Terkait

Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), H. Gus Irawan Pasaribu, secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Formasi Tahun 2024 Tahap 1 dan Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas (SPMT) di Lapangan Parade Kantor Bupati Tapsel, Jalan Prof. Lafran Pane, Sipirok, Kamis (3/7/2025).
1 tahun  lalu
Bupati Tapsel Serahkan SK dan SPMT Kepada 633 PPPK Formasi 2024 Tahap I
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas
5 bulan  lalu
Rico Waas Gaspol Perkuat Sinergi Tripartit, Targetkan Medan Jadi Magnet Investasi dan Lapangan Kerja
3 tahun  lalu
Yamantab Bangun Bank Sampah di Tapteng, Peduli Kelestarian Lingkungan
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution
3 bulan  lalu
Mendagri Apresiasi Sumut Salurkan Hibah Rp260 Miliar untuk Aceh
Anggota Komisi 4 DPRD Medan, Hendra DS menegaskan, pihaknya banyak mendapat laporan adanya dugaan sejumlah bangunan berdiri tanpa izin di kawasan Pelabuhan Belawan.
3 tahun  lalu
Dewan Terima Laporan Ada Bangunan Berdiri Tanpa Izin di Kawasan Pelindo Dengan Alasan Otoritas
Johanes Haratua Hutagalung
10 bulan  lalu
Rico Waas Diingatkan Program Quick Wins Jangan Sekadar Slogan

Trending

01.
5 hari  lalu
Plt Bupati Kukuhkan 46 Paskibraka Langkat, Semoga Jadi Representasi Generasi Muda
02.
6 hari  lalu
Terlibat Genk Motor, Disdik Sumut Kembalikan Siswa SMA dan SMK kepada Orang Tuanya
03.
5 hari  lalu
Bobby Nasution Jenguk Siswi SMKN 1 Berastagi yang Dirawat Intensif, Minta Kasus MBG Jadi Evaluasi Menyeluruh
04.
6 hari  lalu
Bupati Deli Serdang Genjot Inklusi Keuangan dan QRIS
05.
5 hari  lalu
Menhub Dudy Pimpin DPW PAN Sumut Gantikan Bupati Langkat Nonaktif

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kode Etik Jurnalistik
Logo
Hangat, Mendidik, Mengungkap Fakta
© Kaldera.id. Developed by irzasolusi.com
Rico Waas Apresiasi Pameran Foto “Prahara Pulau Emas”
Pemkab Deli Serdang Arahkan CSR 2026-2027 untuk Bedah Rumah dan Program Prioritas
Angin Puting Beliung Rusak 150 Rumah dan SD Negeri di Medan Johor
DPRD Bandung Pelajari Strategi PAD dan QRESTO di Medan
Dorong Shift Kerja 24 Jam, Kadin Sumut Sebut BRT Mebidang Dongkrak Produktivitas Industri dan Pertumbuhan Ekonomi
Home Trending Cari Bagikan Lainnya