In Memoriam Prof. Syawal Gultom:
Budi Baik Dikenang Jua

redaksi
18 Mei 2026 08:09
12 menit membaca

Oleh Armin Nasution

SEPANJANG April cuaca panas dan kering yang melanda Medan membuat semua orang menghindari paparan langsung panas terik sinar matahari. Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, di ujung April pula, seorang guru, tokoh pendidik, menyematkan duka mendalam bagi Universitas Negeri Medan (Unimed). Ya Prof. Syawal Gultom, M.Pd berpulang tepat Senin (27/4/2026).

Tulisan ini hanya akan mengenang sisi baik sang pembaharu, akademisi dan mantan Rektor Unimed itu. Seperti biasa untuk membuat tulisan seperti ini saya membutuhkan waktu lebih lama dibanding analisis ekonomi. Apalagi bagi saya, Prof. Syawal Gultom bukan saja sebagai atasan di jenjang akademik tapi juga guru atau narasumber dalam pemberitaan. Jadi tulisan ini hanya akan membahas sisi baiknya. Karena kebaikan akan dikenang sepanjang masa (budi baik dikenang jua).

Saya mengenal sosok ini lebih dekat di 2009 ketika akhirnya lulus sebagai dosen Unimed. Ketika penyambutan CPNS terpilih, itulah pertamakalinya saya bertemu Prof. Syawal. Apalagi saat itu saya berkesempatan membacakan sumpah janji PNS mewakili para lulusan dan kemudian doa dibacakan Ali Fikri Hasibuan.

Sebelum pertemuan, saya hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisan yang dikirimkan setiap minggu untuk terbit di Harian Waspada. Ruh tulisannya saat itu membahas sertifikasi guru dan menjadi guru profesional. Beberapa kali di meja redaksi Harian Waspada, Sdr. Muhammad Zeini Zein menyerahkan draft tulisan Prof. Syawal Gultom. “Coba saudara baca dulu tulisan ini kira-kira apa masukan,” kata Zeini Zen kala itu karena memang semua tulisan Prof. Syawal Gultom dikirimkan kepadanya.

Beberapa ada yang saya kasi masukan namun selebihnya menurut saya cukup baik. Prof. Syawal Gultom adalah penulis tetap Harian Waspada saat itu. Muncul di halaman opini sekali seminggu. Tulisannya tidak terlalu kaku layaknya menulis di jurnal. Karena memang tulisan akademisi di jurnal sangat berbeda dengan media. Di jurnal, bahasanya sangat akademis. Maka ketika menulis di media, Prof. Syawal harus menyesuaikan tulisannya agar bisa dimaknai lapisan pembaca mulai dari supir angkot sampai pejabat tinggi negara.

Waktu lain, Pemimpin Umum Harian Waspada dr. Hj. Rayati Syafrin mengajak saya diskusi. Saat itu media yang dirintis sejak 1947 ini ingin membuat seminar tentang ketertarikan milenial terhadap surat kabar. Dia menanyakan apakah memungkinkan Prof. Syawal Gultom saat itu rektor Unimed periode pertama, mau berdampingan dengan Gus Irawan Pasaribu yang menjabat sebagai ketua KONI Sumut. Prof. Syawal akan membedahnya dari sisi minat baca, sementara Gus Irawan Pasaribu akan membahas eksistensi berita-berita olahraga di harian ini sebagai rujukan. Tak butuh waktu lama, kami hubungi Prof. Syawal dan kemudian bersedia.

Tak sampai di situ, ketika Prof. Syawal Gultom sudah menjadi Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Harian Waspada dalam rangkaian HUT tahun berikutnya memberikan anugrah pendidikan kepada guru di pelosok terpencil.

Media ini ingin mengundang Menteri Pendidikan saat itu M. Nuh. Panitia menghubunginya lewat Prof. Syawal Gultom. Tak lama, konform, menteri akan datang. Acara pun berlangsung dan Menteri Pendidikan begitu antusias dengan Harian Waspada yang menghadirkan guru-guru dari desa terpencil. Usai acara, saat makan siang di Restoran Jimbaran, Prof. Syawal Gultom mendatangi saya sambil berbisik: “Luar biasa acara Waspada ini adinda. Hebat,” katanya singkat.

Jadi memang Prof. Syawa Gultom sangat menghargai setiap agenda-agenda pers dan media. Terakhir seingat saya di 2024, Prof. Syawal mendapatkan kehormatan menjadi tokoh sahabat pers dari Serikat Penerbitan Pers (SPS). Panitia menghubungi saya, setelah melakukan screening dan seleksi, terpilihlah Prof. Syawal sebagai salah satu penerima tokoh sahabat pers. Dan karena berasal dari kampus, SPS meminta Prof. Syawal sekaligus sebagai pembicara tentang senjakala media di mata akademisi.

Saat menyerahkan undangan dan pemberitahuan Prof. Syawal terkejut. “Betul ini adinda? Kenapa saya terpilih,” katanya. Saya jelaskan bahwa keputusan itu berdasarkan penilaian kedekatan seorang tokoh dengan pers di Sumut. Prof. Syawal mengucapkan terimakasih khusus kepada SPS yang memilih namanya. Namun saat acara dilangsungkan, rupanya Prof. Syawal harus berangkat ke luar negeri dengan waktu cukup lama. Saya menyampaikan terimakasih, mohon maaf dan salam hormat kepada pengurus SPS karena tidak bisa hadir secara langsung, katanya santun. Sudah kebiasaannya ketika berhubungan dengan media, Prof. Syawal begitu menghargai setiap agenda dan apresiasi yang diberikan.

Pada kesempatan lain Prof. Syawal juga pernah diundang Harian Waspada mengisi sesi motivasi untuk 200 lebih wartawan daerah. Begitulah sosok ini sebenarnya memberikan pemikiran-pemikirannya yang terpublikasi di media. Tentu tulisan ini tidak hanya menggambar satu sisi. Tapi ada dua poin penting yang menjadi inti utama sumbang pemikiran atas kemajuan pendidikan di Indonesia. Pertama adalah pendidikan karakter dan kedua, pendidikan merupakan kunci keberhasilan mengentaskan .

Pendidikan karakter

Prof. Syawal Gultom adalah orang yang sangat gencar mendorong pendidikan karakter sebagai basis keilmuan. Orang pintar tanpa karakter (didalamnya adab dan etika) akan pincang. Karena itu di 2009 pun dia sudah menggagas bahwa Unimed adalah the character building university.

Hakikatnya bahwa semua sivitas akademika Unimed merupakan orang berkarakter. Dia sering mengutip pendapat Thomas Lickona. Seorang psikolog, guru besar di Departemen  Pendidikan Anak Usia Dini di State University of New York College di Cortland.

Definisi konseptual pendidikan karakter adalah sistem penanaman nilai karakter (kesadaran, sikap, dan perilaku) yang mencakup komponen pengetahuan, kesadaran, dan tindakan. Mengarah pada pencapaian pembentukan akhlak mulia.

Menurut Thomas Lickona pendidikan karakter yang baik harus melibatkan knowing the good (mengetahui kebaikan/kognitif), desiring the good (mencintai kebaikan/emosi), dan acting the good (bertindak sesuai kebaikan/perilaku). Pendekatannya melibatkan pendekatan komprehensif, tidak hanya pengajaran nilai (kognitif), tetapi juga pembiasaan, keteladanan, dan penciptaan lingkungan yang kondusif dengan menanamkan nilai-nilai seperti religius, nasionalis, integritas, mandiri, dan gotong royong.

Dalam satu sesi paparannya tentang pendidikan karakter, Prof. Syawal Gultom di hadapan audiens memunculkan pertanyaan yang sebenarnya ringan tapi tak satupun mampu menjawab. Pertanyaannya begini: Dalam kehidupan kita sekarang siapakah sosok yang bisa kita jadikan teladan?

Sebegitu banyak audiens tak satupun yang bisa menjawab. Bahkan tak ada juga yang menjawabnya presiden, rektor, dekan atau dosen. Karena tak ada yang menjawab Prof. Syawal pun berujar: Itulah buktinya kita krisis keteladanan. Artinya siapapun tidak ada yang bisa dijadikan teladan mulai dari level tertinggi pemerintahan sampai level pengajar di kampus.

Karena itu Prof. Syawal merasa khawatir dengan kondisi kampus yang ikut krisis keteladanan. “Siapa yang mau dicontoh di kampus ini? Dosen? Dosen pun sering tak hadir di kelas, atau datang terlambat,” katanya disambut senyum kecut audiens. Padahal, menurutnya, keteladanan hal penting sebagai bagian dari pendidikan karakter. Karena harus ada figur yang bisa ditiru sebagai acuan. Menurutnya, pendidikan karakter tidak bisa diajarkan. Tapi harus ditiru, ditularkan. Tidak mungkin mahasiswa datang lebih cepat, kalau dosen-nya sering terlambat, begitu katanya.

Sampai kapanpun, bahkan ditengah gelombang digitalisasi, pendidikan karakter tetap menjadi bagian penting. Karakter bagian dari adab. Sehingga adab tetap di atas ilmu. Sebanyak apapun orang pintar, tapi jika tanpa karaker akan pincang. Salah satu bentuk karakter paling menonjol dari negara maju seperti Finlandia adalah kejujuran.

Menurut Prof. Syawal Gultom, negara tersebut mendorong kejujuran sebagai kunci utama pembangunan. Hingga kemudian dalam lima tahun mereka menjadi negara maju. Di sana ada orang yang memotivasi untuk bersama-sama menjadi jujur kemudian membentuk komunitas. Setelahnya hidup bertetangga untuk sama-sama jadi orang jujur. Di sekolah pun kejujuran paling penting. Indonesia bisa menjadi maju kalau semua generasinya terutama mahasiswa mengutamakan kejujuran.

Prof. Syawal Gultom menceritakan dia pernah mengawas ujian selevel SMA di Malaysia dan satupun tidak ada yang nyontek. Bahkan dia sampai ditegur pihak sekolah karena siswa di Malaysia tak perlu diawasi. Mereka jujur. Betul memang, semua mengerjakan ujian tanpa bantuan siapapun. Maka satu kata kuncinya kejujuran merupakan modal utama bernegara sehingga hadir generasi yang berkarakter.

Generasi berkarakter kelak akan menjadi pemimpin. Karena karakter dan kepemimpinan sangat dekat. Seseorang tak bisa memimpin jika tak punya karakter. Lalu apa yang salah dalam pendidikan karakter? Prof. Syawal menjawab jangan pernah seorang pemimpin menyuruh kalau dia tidak mengerjakan dan mencontohkan. Tidak akan ada generasi jujur kalau pemimpinnya tidak jujur.

Maka hingga kini pemikiran-pemikiran Prof. Syawal tentang karakter akan terus hidup. Walau seringkali sepertinya kita mudah mengucapkan, membahas dan mendiskusikannya, ternyata sangat sulit diaplikasikan. Untuk menguji apakah karakter sudah punya dasar, tanya saja ke orang di sebelah atau di samping kita, siapa teladannya saat ini?

Mengentaskan kemiskinan

Selain karakter, Prof. Syawal Gultom juga mengemukakan pemikirannya tentang pengentasan kemiskinan dan memajukan negara. Menurutnya, pengentasakan kemiskinan dimulai dari ruang kelas pendidikan dasar. Dari situlah pendidikan berproses.

Untuk menjadikan negara ini maju, kualitas pendidikan harus ditingkatkan dari ruang kelas. Kalau kemudian di sekolah dasar hanya mengandalkan pola tradisional, tidak akan ada kemajuan terhadap pendidikan. Konsep ini pula yang dituangkan Prof. Syawal dalam bukunya membangun negeri dari sekolah. Rantai kemiskinan hanya akan putus ketika pendidikan terus meningkat.

Pemikiran Syawal Gultom tentang kemiskinan berangkat dari keyakinan bahwa akar utama ketertinggalan bangsa bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi rendahnya kualitas manusia akibat pendidikan yang belum bermutu. Karena itu, dia tegaskan upaya mengatasi kemiskinan sejatinya dimulai dari ruang kelas sekolah melalui peningkatan mutu pendidikan.

Dia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi tak akan berkualitas jika pendidikan rendah, sehingga masyarakat tetap sulit keluar dari lingkaran kemiskinan karena tak memiliki kompetensi, inovasi, dan daya saing.

Dalam pandangannya, pendidikan adalah instrumen utama mobilitas sosial dan pemerataan kesejahteraan. Prof. Syawal pun selalu menekankan mutu pendidikan tidak cukup diukur dari keberadaan sekolah, tetapi dari kualitas proses belajar di ruang kelas. Karena itu, peningkatan mutu guru, kurikulum, sarana-prasarana, budaya sekolah, dan kepemimpinan pendidikan menjadi faktor sangat penting. Guru dipandang sebagai agen transformasi yang menentukan lahirnya generasi unggul dan produktif.

Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan manusia yang berpikir kritis dan inovatif, memiliki keterampilan kerja, berkarakter dan berintegritas, serta beradaptasi dengan perkembangan global.

Jika kualitas manusia meningkat, maka produktivitas ekonomi juga meningkat, pengangguran menurun, dan kemiskinan dapat ditekan. Karena itulah dia berulang kali menegaskan “bangun negeri dari sekolah” bukan sekadar slogan pendidikan, melainkan strategi pembangunan nasional jangka panjang. Secara umum, pemerintah sudah menyahuti keinginan ini dengan mengalokasikan 20 persen APBN untuk sektor pendidikan.

Hanya saja dalam beberapa tahun terakhir realisasi anggaran pendidikan ternyata tidak benar-benar mencapai 20% dari total realisasi. Data menunjukkan 2022 realisasi sekitar 15,46%, 2023 sekitar 16,4%, 2024 sekitar 17%. Artinya, meskipun di dokumen APBN angka pendidikan ditulis 20%, pada praktik pelaksanaannya penyerapan dan realisasi aktual masih berada di bawah target konstitusional.

Kondisi ini terjadi karena realisasi APBN bersifat dinamis. Jika belanja kementerian, belanja modal, atau program tertentu tidak terserap penuh, maka persentase realisasi pendidikan otomatis ikut berubah. Dalam berbagai pidato, Prof. Syawal turut menggambarkan bagaimana negara-negara maju memperlakukan sektor pendidikan.

Menurut dia, negara maju umumnya memperlakukan pendidikan bukan sekadar sektor sosial, tetapi sebagai investasi strategis pembangunan manusia dan kekuatan ekonomi jangka panjang. Mereka memandang pendidikan sebagai fondasi utama produktivitas, inovasi, stabilitas sosial, dan daya saing nasional. Karena itu, kebijakan pendidikan di negara maju biasanya dirancang sangat terintegrasi dengan pembangunan ekonomi, teknologi, riset, dan kualitas hidup masyarakat.

Beberapa negara yang sering dijadikannya rujukan adalah Finlandia, Korea Selatan, Singapura, Jerman, dan Jepang karena memiliki pola kebijakan pendidikan yang relatif mirip, meskipun pendekatannya berbeda. Negara maju tidak melihat anggaran pendidikan sebagai beban fiskal, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk menghasilkan tenaga kerja berkualitas.

Korea Selatan misalnya, pasca perang Korea tahun 1950-an merupakan negara miskin. Namun pemerintahnya melakukan investasi besar-besaran pada pendidikan dasar, sains, dan teknologi. Hasilnya, dalam beberapa dekade Korea berubah menjadi negara industri dan teknologi dunia. Kemudian Finlandia adalah negara yang maju di sektor pendidikan. Negara ini sangat ketat dalam rekrutmen guru dengan kualitas pembelajaran serta literasi kuat. Sementara Jerman mengajarkan bahwa mereka berhasil karena pendidikan vokasi terhubung langsung dengan dunia industri melalui dual system. Ini yang sering ditampilkan Prof. Syawal Gultom di beberapa kesempatan terakhir membahas tentang outcome base education.

Intinya bagaimana kampus menyiasati kebutuhan dunia kerja dengan lulusan. Sehingga sarjana yang keluar kampus bisa memenuhi kebutuhan industri. Beberapa tahun terakhir Prof. Syawal Gultom sangat aktif mendorong penerapan OBE dan di saat-saat terakhirnya masih berupaya menyiapkan proses akreditasi Unimed selanjutnya.

Akan kemana Unimed?

Hingga berpulangnya Prof. Syawal, namanya tetaplah dikenang sebagai sosok yang turut membesarkan kampus sebesar Universitas Negeri Medan. Kalau sekarang kita tanya stake holder di luar siapa yang mereka kenal di Unimed, jawabannya masih tetap akan menyebut nama Prof. Syawal (alm). Kalau tak percaya silakan bertanya di luar. Aksesnya luas, dikenal dan punya jejak hingga ke kementerian. Lalu akan kemana Unimed setelah Prof. Syawal berpulang? Saya kira kini beberapa nama mulai muncul walau tampak ‘masih malu-malu’ dan sedang mempersiapkan perahu masing-masing. Tak perlu saya sebut, tak perlu saya tulis di sini, karena masih akan berproses. Hanya saja Unimed butuh leadership. Butuh kepemimpinan kuat, butuh figur yang bisa bekerja di luar tak hanya populer di dalam kampus.

Kampus ini harus bergerak lebih kencang sehingga tak kalah dengan kampus lain apalagi kalau sampai kalah dengan univesitas swasta di Sumut. Saya teringat ucapan Prof. Syawal saat membahas OBE. Dia bilang begini: Jangan Unimed ini hanya tinggal sejarah. Nanti kita hanya bangga bercerita ke cucu dan cicit kita bahwa pernah mengajar di Unimed. Tapi kelak kampusnya sudah tak ada. Maka diperlukan langkah komprehensif mendorong kemajuan kampus.

Lalu ketika tulisan ini muncul tentu akan ada yang bertanya sedekat apa saya dengan Prof. Syawal? Secara institusi dia merupakan rektor, pimpinan universitas dan terakhir Ketua Senat Universitas. Hierarkinya Prof. Syawal pimpinan. Di media, dia adalah salah satu narasumber utama saya. Tidak ada kedekatan yang istimewa. Tapi kami sering diskusi tapi tidak tentang jabatan, tidak juga tentang kepentingan. Saya hanya banyak menggali cara berfikirnya.

Leadership-nya kuat. Itu sebabnya hingga di akhir hayatnya, yang orang ingat tentang Unimed masih Prof. Syawal Gultom dibanding yang lain, padahal sudah lama dia tak lagi jadi rektor. Beberapa masa kami aktif komunikasi via WA, tulisannhya tentang pemikiran juga pendidikan banyak dipujinya ketika publish, karena dia faham menulis sebagai akademisi dan di media sangat berbeda.

Tapi begini, sekali lagi lihat judul tulisan ini. Budi baik dikenang jua. Bahwa Prof. Syawal pasti banyak sekali meninggalkan kebaikan termasuk untuk Unimed. Tentu saja kepemimpinan tetap berisiko disukai dan tidak disukai. Hal lumrah bagi setiap orang, karena tak ada gading yang tak retak. Tapi dengan caranya, saya harus respek ke sosok profesor ini dari pemikirannya. Selalu saya sampaikan ke kawan-kawan: saya menghormati orang pintar dan punya pemikiran. Walau bagaimanapun cara memimpin tapi dengan ilmu dan kepintaran, saya tetap respek. Berbeda misalnya ada yang memimpin, sudah lah tak punya ilmu, sok pintar, caranya memimpin berantakan dan mengadudomba. Banyak yang seperti ini dan membuat kita kehilangan respek. Di penutup tulisan ini semoga Prof. Syawal Gultom (alm) dilapangkan kuburnya diampuni dosanya dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Kepada keluarga salam maaf dan semoga diberi ketabahan. Kita kehilangan salah satu figur terbaik. Allohumagfirlahu, warhamhu, wa’a fihi, wa’fu anhu. Selamat jalan Prof. Jumpa lagi di keabadian.