Nama Tafoo’lo Nehe mungkin tidak setenar atlet nasional atau tokoh politik. Namun wajahnya pernah dikenal jutaan orang Indonesia karena terpampang di uang kertas pecahan Rp1.000 emisi 1992 saat melakukan atraksi lompat batu khas Nias.
NIAS SELATAN, kaldera.id – Nama Tafoo’lo Nehe mungkin tidak setenar atlet nasional atau tokoh politik. Namun wajahnya pernah dikenal jutaan orang Indonesia karena terpampang di uang kertas pecahan Rp1.000 emisi 1992 saat melakukan atraksi lompat batu khas Nias.
Kini, di usia 58 tahun, pria asal Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara itu tetap menjalani hidup sederhana. Tidak ada royalti yang diterimanya karena fotonya digunakan pada uang kertas. Namun bagi Tafoo’lo, kebanggaan terbesar bukanlah soal materi.
“Yang penting saya bangga bisa membawa nama Nias Selatan, Sumatera Utara dan Desa Bawomataluo dikenal masyarakat luas,” ujarnya.
Di dunia lompat batu, Tafoo’lo bukan sosok biasa. Ia masih memegang rekor lompatan tertinggi dengan ketinggian 2,80 meter, jauh di atas standar batu lompat di Desa Bawomataluo yang berkisar 2,10 meter.
Prestasi itu bukan diperoleh dalam semalam. Tafoo’lo pernah menjuarai kompetisi lompat batu antar desa selama lima tahun berturut-turut. Ia terus aktif sebagai pelompat hingga akhirnya berhenti pada 2005.
Meski tak lagi melompati batu setinggi hampir tiga meter, kecintaannya terhadap tradisi leluhur tidak pernah padam. Saat ini ia memilih menjadi pelatih bagi anak-anak dan generasi muda yang ingin mempelajari fahombo.
Setiap hari, Tafoo’lo membagi waktunya antara melatih anak-anak dan bertani. Kehidupan sederhana itu dijalaninya dengan penuh ketulusan.
“Sekarang saya lebih banyak mengajar anak-anak supaya tradisi ini tetap hidup,” katanya.
Menolak Tawaran Menjadi Polisi dan ASN
Pada masa jayanya, Tafoo’lo pernah tampil dalam berbagai kegiatan promosi pariwisata nasional. Ia tampil dalam program Indonesia Visit Year di Jakarta pada 1990 dan juga memperagakan lompat batu di Bali.
Popularitasnya saat itu bahkan membawanya pada berbagai tawaran pekerjaan. Ia pernah ditawari menjadi anggota kepolisian, aparatur sipil negara (ASN), hingga bekerja di perusahaan swasta.
Namun semua tawaran itu ditolaknya.
Ia memilih tetap tinggal di kampung halaman dan berkontribusi untuk daerah melalui pelestarian budaya dan pariwisata.
“Saya memilih fokus membangun daerah lewat pariwisata,” ujarnya.
Pilihan tersebut tidak pernah disesalinya. Kini, empat anaknya juga ikut meneruskan kecintaan terhadap budaya Nias.
Meluruskan Mitos Lompat Batu
Di balik popularitas fahombo, Tafoo’lo mengaku masih sering mendengar anggapan keliru bahwa lompat batu merupakan syarat bagi pria Nias untuk menikah.
Menurutnya, cerita itu hanyalah mitos yang berkembang di luar masyarakat Nias.
Ia menjelaskan, tradisi lompat batu sebenarnya lahir pada masa lalu ketika perang antar kampung masih sering terjadi. Saat itu setiap desa memiliki benteng pertahanan berupa pagar bambu yang tinggi.
Pemuda yang mampu melompati batu setinggi hampir tiga meter dianggap telah memiliki kemampuan fisik untuk ikut berperang.
“Jadi bukan untuk syarat menikah. Kalau tidak bisa lompat batu berari tidak menikah,” jelasnya sambil tersenyum.
Bukan Soal Kuat, Tapi Soal Teknik
Banyak orang mengira hanya mereka yang bertubuh tinggi dan memiliki tenaga besar yang mampu melakukan fahombo.
Menurut Tafoo’lo, anggapan itu juga tidak sepenuhnya benar.
Kunci utama lompat batu justru terletak pada teknik.
Seorang pelompat harus memahami cara mengambil ancang-ancang, menentukan posisi tubuh, mengatur momentum saat melompat, hingga menempatkan pijakan kaki tepat di ujung batu tumpuan sebelum melakukan lompatan.
“Teknik yang paling penting. Cara mengambil posisi, melompat, dan pijakan kaki harus tepat,” katanya.
Puluhan tahun berlalu sejak wajahnya menghiasi uang kertas Rp1.000. Namun bagi masyarakat Nias, Tafoo’lo Nehe bukan sekadar sosok dalam lembaran uang yang kini sudah tidak beredar.
Ia adalah penjaga tradisi, pemegang rekor, sekaligus guru yang terus memastikan warisan fahombo tetap hidup dari generasi ke generasi. (Reza)