NIAS BARAT, kaldera.id – Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution bersama para bupati dan wali kota se-Kepulauan Nias menyepakati pembagian wilayah Kepulauan Nias menjadi tiga kawasan pembangunan berbasis potensi unggulan daerah. Langkah tersebut disiapkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Nias.
Kebijakan itu disampaikan Bobby Nasution saat kegiatan Sapa Daerah (SADA) di RPJ Beach, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Bobby, pembagian tersebut tidak berlaku untuk pembangunan dasar seperti infrastruktur, pendidikan dan kesehatan. Pemerintah Provinsi Sumut tetap memastikan pembangunan sektor dasar dilakukan secara merata di seluruh wilayah Kepulauan Nias.
“Kalau pembangunan dasar seperti jalan, sekolah dan kesehatan, itu tidak ada perbedaan. Tetapi untuk pembangunan berkelanjutan atau pembangunan non-dasar, kami bersama para kepala daerah sudah membagi Kepulauan Nias menjadi tiga bagian,” kata Bobby didampingi Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu.
Ia menjelaskan, pembagian tersebut terdiri atas kawasan produksi atau daerah penghasil, kawasan ekonomi dan aksesibilitas, serta kawasan pariwisata.
Dalam pembagian yang telah disepakati bersama para kepala daerah, Kabupaten Nias Barat masuk dalam kawasan produksi.
“Kebetulan Nias Barat dalam pembagian itu masuk daerah produksi atau daerah penghasil, bukan kawasan pariwisata,” ujarnya.
Meski demikian, Bobby menegaskan keputusan tersebut bukan berarti mengabaikan potensi wisata yang dimiliki Nias Barat. Menurutnya, pengembangan sektor pariwisata harus dilakukan secara bertahap agar hasilnya lebih optimal dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Ia mencontohkan perkembangan pariwisata di Bali yang tidak dibangun secara serentak di seluruh wilayah. Kawasan wisata berkembang dari satu destinasi unggulan sebelum meluas ke daerah lainnya.
“Kalau kita belajar dari Bali, dulu berkembang dari Pantai Kuta, kemudian meluas ke Nusa Dua, Canggu dan kawasan lainnya. Pariwisata tidak langsung dibangun semuanya, tetapi bertahap,” katanya.
Bobby mengatakan strategi serupa akan diterapkan di Kepulauan Nias. Daerah yang telah memiliki daya tarik wisata kuat akan diperkuat terlebih dahulu sebelum pengembangan dilakukan ke wilayah lain.
Menurutnya, pendekatan tersebut lebih realistis mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.
“Kita semua punya keterbatasan anggaran. Nias Barat punya keterbatasan, Nias Selatan juga demikian, provinsi dan pusat juga terbatas. Karena itu pembangunan harus fokus agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Bobby menilai keberhasilan satu daerah mengembangkan sektor unggulan akan memberikan dampak positif terhadap daerah lain di Kepulauan Nias.
Ia mencontohkan Nias Selatan yang saat ini telah dikenal luas sebagai destinasi wisata internasional. Keberhasilan tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk mendorong pengembangan sektor pariwisata di daerah lain secara bertahap.
“Kalau satu daerah sudah berhasil dan dikenal dunia, dampaknya akan menular ke daerah lain. Karena itu kita dorong secara bertahap sampai seluruh daerah di Kepulauan Nias berkembang sesuai potensi masing-masing,” kata Bobby.
Menurut Bobby, menjadikan seluruh wilayah di Kepulauan Nias sebagai destinasi wisata secara bersamaan bukan langkah yang tepat karena berisiko membuat pembangunan tidak fokus dan manfaatnya tidak maksimal bagi masyarakat.
“Kalau semua mau jadi pariwisata secara bersamaan, itu tidak mungkin. Kita harus mulai dari daerah yang paling siap dan memiliki keunggulan, kemudian berkembang ke daerah lainnya,” pungkasnya. (Reza)