Seni Memimpin

redaksi
2 Jun 2026 19:01
Medan Opini 0 11
9 menit membaca

Oleh Armin Nasution

MEDAN, kaldera.id – TERNYATA tulisan pekan lalu berjudul ‘profesor sombong’ menyita perhatian banyak kalangan. Tak hanya di berbagai kampus tapi juga menyeruak ke grup-grup whatsapp dan media sosial. Kagetnya, baru diupload siang, tak sampai 3 jam viewers nya sudah 14.000 orang di berbagai platform.

Lucunya banyak pula komentar mendukung, baik lewat voicecall maupun chat. Saya ikut heran, kenapa kemudian banyak yang setuju dengan tulisan itu.
Sebenarnya tulisan tidak menyinggung siapa-siapa. Tapi kalau ada yang merasa dan bawa perasaan (baper), tentu salah yang merasa. Lantas kenapa bisa viral? Karena tulisannya dipublikasi di media. Karena kalau di jurnal, tulisan seperti itu dilirik publisher pun tidak.

Kekuatan menulis di media sebenarnya karena alur tulisan mudah difahami, renyah, gurih, seperti menyeruput kopi bersama pisang molen. Karakter tulisan di dalamnya kuat. Maklumlah, yang menulis sudah beberapa kali juara lomba karya tulis jurnalistik nasional dan lokal. Bahkan sampai sekarang karena masih menjadi pemimpin redaksi di media online masih sering ikut lomba karya tulis jurnalistik (non sinta dan scopus).

Jadi wajar kalau tulisan ‘profesor sombong’ viral karena mudah difahami. Itu tadi, selain alur logis tulisan yang mengalir, penulisnya pun pernah jadi wartawan terbaik 2001 [seingat saya masih ada piagamnya]. Yang membanggakan dari menulis opini adalah apa yang kita tulis difahami orang, karena banyak juga orang menulis tapi berbelit-belit tak bisa diserap maknanya.

Nah tulisan kali ini tidak ada hubungannya dengan edisi lalu. Karena hanya akan menceritakan sedikit seni memimpin. Kalau kita ke toko buku, akan banyak sekali judul yang berhubungan dengan kepemimpinan. Sementara, tahan dulu niat membeli buku yang halamannya sampai ratusan, cukup ikuti tulisan singkat ini.

Karena penulisnya sudah pernah jadi chief reporter era 2005 di Harian Waspada, pernah jadi redaktur ekonomi, pernah jadi redaktur pelaksana (setingkat di bawah pemimpin redaksi) dan sekarang masih aktif jadi pemimpin redaksi media online dengan sertifikat uji kompetensi dari dewan pers sebagai wartawan utama (pemimpin redaksi). Ditambah beberapa kali jadi koordinator media center dan juga sebagai ghost writer (penulis bayangan). Tentang ghost writer akan saya cerita di edisi lain.

Setelah diterima jadi wartawan magang Harian Waspada 1999, tiga tahun kemudian saya diangkat jadi chief reporter. Tentu tugas berat dan mengejutkan. Bayangkan saat usia kerja masih sangat muda tapi harus memimpin semua reporter yang usia kerjanya sudah ada yang 15 tahun bahkan 20 tahun. Secara umur, mereka jauh lebih senior. Apalagi pos liputan nya ada di kantor pemerintahan, kepolisian, rumah sakit, kampus, pasar dan lain-lain.

Di situlah saya belajar leadership. Bahwa ada senior yang meledak-ledak kalau ditugaskan, marah karena beritanya tidak dimuat, atau boikot tak mau meliput karena berita tak sesuai penugasan, itu hal lumrah. Tantangannya berat. Bagaimana kita yang masih muda harus memimpin senior. Sampai ada yang bilang: baru seumur jagung sudah sok hebat. Yang begitu, tidak harus dijawab dengan debat dan emosi. Cukup tunjukkan kinerja saja.

Ketika seorang reporter ternyata tidak mampu menembus narasumber maka chief reporter harus bisa menembusnya. Ketika deadlock (jalan buntu) kita harus cari jalan. Bukan membawanya mutar-mutar, naik turun, yang ketemu jalan buntu juga. Saat menyiapkan tulisan ini saya masih ingat beberapa kali harus berdebat bahkan terasa diremehkan. Itulah risikonya jadi pemimpin di umur muda. Tapi tak perlu emosi menghadapinya.

Seni memimpin itu salah satunya tak perlu emosi atau marah-marah. Semakin banyak marah dan emosi, itu tandanya kita sedang menutupi kelemahan dan kebodohan kita. Pemimpin yang sering marah-marah tandanya dia sedang menutupi kelemahannya. Perlu dibedakan emosi/marah-marah dengan sikap tegas. Tegas, wibawa, bijaksana, itu sangat diperlukan dalam memimpin. Ini seni yang pertama.

Pernah juga dulu saya ditugaskan harus mewawancarai Kepala Perwakilan BI Medan saat itu masih dijabat Adi Putra Hassan. Mulai dari pagi sampai malam saya tunggu di depan komplek rumahnya. Saya tunggu juga di kantornya tanpa kenal lelah. Karena saya yakin, kalau tak bisa mewawancarainya, redaktur dari kantor pasti bisa menghubunginya. Akhirnya dari usaha keras itu pula saya diberi penghargaan BI Medan, sebagai jurnalis dan media yang aktif memberantas uang palsu yang kala itu jadi concern-nya BI.

Kala lain, ketika jadi chief reporter, usai rapat penugasan saya sering mengajak para reporter berdiskusi ringan di warung kopi pinggir jalan. Membuka komunikasi, menelisik apa masalah personal yang mereka hadapi. Ada empati di situ. Karena mereka akan bercerita tentang kondisi kesehatan, keluarga atau bisa jadi kesulitan keuangan. Walau sekadar cerita namun karena kita mendengar, mereka menjadi respek. Seni memimpin itu salah satunya juga mendengar bawahan.

Karena mendengar mereka sama dengan menyelesaikan satu persoalan. Sisi lain, mereka mendukung personality kita karena ada empati. Ada satu kalimat yang sering saya sampaikan ke mereka bahwa jabatan hanya sementara. Jangan kemudian mereka sakit hati karena kelak ketika sama-sama sudah tak berjabatan malah menanam dendam.

Jangan pula sampai muncul kalimat dari mereka: kutunggu saatnya ketika tak lagi memimpin. Jika kalimat ini muncul, adalah sinyal bahaya paling kuat dalam memimpin. Karena bawahan sudah terlanjur sakit hati dan menunggu momentum pembalasan. Di media saya bekerja dulu, bisa saja kita sudah di pucuk jabatan besoknya tiba-tiba turun jadi reporter biasa. Itu hal lumrah. Maka saat memimpin hindari kata-kata menyakitkan orang karena ketika sudah terlontar tak bisa ditarik lagi.

Jadi prinsip utama saya memimpin tim apapun, jangan sampai orang mengingat kejelekan/mendendam saat kita memimpin walau tak selamanya pemimpin bisa sempurna. Saya paling kuatir ketika sudah tak lagi menjadi chief reporter, orang masih mengingat sisi buruknya karena semua persoalan bisa dibicarakan. Seni memimpin yang lain, saya tak pernah menegur dan mencela berita yang tak rampung di depan orang lain. Saya ajak bicara berdua, kemudian mengevaluasinya. Kalau tidak ada perubahan baru ada peringatan. Jangan mempermalukan seseorang di depan orang ramai. Ini seni yang kedua.

Usai di chief reporter, saya kemudian lama di redaktur ekonomi. Membawahi semua berita wartawan di Medan, Sumut, Aceh yang menulis tentang ekonomi. Selain itu saya juga aktif menulis analisis ekonomi. Setelahnya karir tertinggi di Harian Waspada menjadi redaktur pelaksana. Level paling tinggi, setingkat di bawah pemimpin redaksi.

Tugasnya mengomandoi seluruh wartawan dan seluruh redaktur serta menentukan apa calon berita headline cover halaman satu esok harinya. Di sinilah perdebatan sering terjadi sampai larut malam. Masing-masing redaktur memperebutkan porsi halaman satu. Maka insting, kecerdasan, review dan outlook diperlukan.

Kita juga harus bisa memprediksi media lain, judul apa yang mereka turunkan di halaman satu keesekoan harinya. Jika kita jeli memilih judul, pembaca akan memilih terbitan kita. Seni memimpin lainnya adalah leader harus bisa mengelola sumber daya. Ketika pemimpin tak menguasai semua masalah, maka harus dibantu orang kompeten di bawahnya.

Saya dulu sangat fokus di liputan-liputan ekonomi sehingga pernah diundang IMF-WorldBank sebagai satu-satunya wartawan dari Indonesia yang dibiayai untuk meliput annual meeting mereka di luar Amerika-Eropa. Saat itu annual meeting IMF-WorldBank dilangsungkan di Suntec Singapura. Karena banyak fokus di ekonomi saya harus memberdayakan para koodinator liputan terutama di kepolisian dan rumah sakit. Karena ini sumber utama pemberitaan. Jadi pemimpin harus bisa mengelola sumber daya. Ini seni yang ketiga.

Semua pengalaman itu menjadi pelajaran sangat berharga. Paling penting sebenarnya mengajari cara berteman, cara berinteraksi dan menghargai orang lain. Karena tidak semua orang sama, maka perlakuan antar pribadi tak akan seragam. Pemimpin juga harus mampu membaca potensi yang dibawahnya. Masing-masing orang orang punya kemampuan berbeda.

Lalu amanah memimpin, ternyata berlanjut sampai ke kampus. Menjadi Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi di FE Unimed. Bagi saya, ini dunia sangat baru karena dibesarkan oleh dunia jurnalis kemudian namun harus menjadi akademisi. Apalagi saat itu pemahaman akademik saya jauh dari cukup. Namun harus belajar sedikit demi sedikit.

Tibalah saat paling krusial, yaitu memimpin tim task force akreditasi prodi Ilmu Ekonomi. Tim yang harus mengakselerasi data dan kecukupan borang kinerja pengajaran, penelitian dan pengabdian program studi, tidak hanya dosen, tapi juga mahasiswa, alumni dan pengguna alumni.

Tak perlu banyak saya tuliskan tentang tim task force ini biar jangan ada lagi yang merasa tersinggung. Tapi dari hati paling dalam saya harus mengucapkan terimakasih. Tim yang sangat saya respek. Tim yang senyap, rigid dan faham data. Yang saya paling ingat, walau dikejar-kejar deadline, diminta menyiapkan semuanya, tim ini tidak pernah saling menyalahkan. Semua saling bantu, saling support. Tidak pernah ribut apalagi bikin ribet.

Bahkan menjawab pertanyaan asesor ketika asesmen, ketika saya sudah kelimpungan menjelaskan, beberapa dosen taskforce datang membawa laptopnya sambil bilang: Pak di bagian ini jawabannya.

Puncaknya adalah ketika asesor memberikan rekomendasi untuk kami diskusikan. Mengambil ruang terpisah dengan asesor, setelah membaca rekomendasi, semua mengucap syukur. Di beberapa kesempatan ketika berdiskusi face to face dengan tim saya selalu minta support mereka maksimal. Dan menyampaikan maaf jika dalam penyampaian kata ada yang kurang pas.

Saya juga sampaikan memimpin task force hanya amanah sementara, jangan ingat-ingat ucapan apapun yang tidak pas. Jangan ada benci yang tak terobati dalam hati karena kita akan lebih banyak berinteraksi saat tak berjabatan daripada saat diberi kewenangan. Sekali lagi ilmu memimpin adalah jangan sampai membuat orang sakit hati. Lagi-lagi jangan sampai orang menunggu kita saat sudah tak berjabatan.

Menurut Firsal Dida Mutyara, Ketua Kadin Sumut yang sekarang jadi Komisaris Utama Bank Sumut saat kami diskusi, pemimpin harus meninggalkan legacy. Kesan baik yang layak dikenang dan pencapaian ke level lebih tinggi. Ini seni yang keempat.

Kemudian dalam memimpin hindari terlalu dipengaruhi oleh perasaan. Karena perasaan tidak pernah obyektif. Untuk meluruskan arah dan tujuan organisasi diperlukan logika dan indikator obyektif yang tetap membuat jalan yang ditempuh sesuai arah. Karena kalau yang dikedepankan adalah perasaan saat memiliki jabatan, maka logika pemimpinnya akan mati. Ini seni yang kelima.

Jika pun masih ada yang tersinggung dengan tulisan ini, itu tandanya kita makin sensitif, dan perasa, pertanda umur pun sudah tak lagi muda. Selainnya, untuk menghindari ketersinggungan, belajarlah produk jurnalistik, apa itu berita, indepth news (liputan mendalam), mana artikel opini, apa itu feature (cerita humanis), apalagi investigative reporting.

Benar bahwa media salah satu pilar demokrasi karena tulisan dan pemberitaan bisa menentukan perjalanan karir siapapun, termasuk presiden, gubernur, walikota, rektor, dekan, hingga ketua RT [Ini yang disebut post truth]. Berkali-kali pula saya jadi koordinator tim pemenangan kandidat kepala daerah, menambah pengalaman dalam ‘perang media’ termasuk menyusun agenda setting akan kemana arah tulisan selanjutnya.

Semoga setelah membaca ini kita faham sedikit tentang seni memimpin. Karena kata orang bijak, semua orang punya jatahnya untuk jatuh. Tidak ada posisi yang selalu tinggi karena hidup punya caranya sendiri untuk membuat manusia belajar menunduk.