Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, menjajaki kerja sama pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dengan Finlandia.
MEDAN, kaldera.id – Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, menjajaki kerja sama pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dengan Finlandia. Kerja sama tersebut diharapkan dapat menjadi solusi pengelolaan sampah sekaligus memperkuat pasokan listrik di berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil di Sumatera Utara.
Rencana kerja sama itu dibahas saat Bobby menerima audiensi Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, Pekka Kaihilahti, di ruang kerjanya di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan.
Dalam pertemuan tersebut, Bobby menyampaikan bahwa kebutuhan fasilitas PSEL di Sumut semakin mendesak seiring meningkatnya volume sampah dan kebutuhan energi di berbagai daerah. Menurutnya, teknologi pengolahan sampah menjadi listrik dapat memberikan manfaat ganda, yakni mengurangi beban lingkungan sekaligus menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Saat ini, proyek PSEL berkapasitas 15 megawatt (MW) yang akan melayani Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang sedang dalam proses pembangunan. Pemerintah Provinsi Sumut berharap model serupa dapat diterapkan di daerah lain dengan kapasitas yang disesuaikan kebutuhan wilayah.
“Oleh karena itu, kami berharap mungkin Finlandia bisa mensupport program untuk membangun PSEL ini. Kami harap bisa bekerja sama dengan skala yang sama atau lebih kecil di beberapa wilayah,” kata Bobby.
Menurutnya, pengembangan PSEL menjadi salah satu langkah strategis dalam menjawab persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan di berbagai daerah. Selain menghasilkan listrik, teknologi tersebut juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA).
Selain membahas pengelolaan sampah, Bobby turut menawarkan peluang investasi di sektor hilirisasi industri. Ia menilai Sumatera Utara memiliki posisi strategis karena berada di jalur perdagangan internasional Selat Malaka serta didukung ketersediaan sumber daya alam yang melimpah.
Salah satu komoditas yang ditawarkan adalah kelapa sawit. Menurut Bobby, potensi pengembangan industri turunan sawit di Sumut masih sangat besar dan terbuka bagi investor asing.
“Kami sangat terbuka tentang pengolahan kelapa sawit. Ini salah satu sektor yang paling berpotensi di Sumut,” ujarnya.
Sementara itu, Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, Pekka Kaihilahti, menyatakan negaranya siap mendukung pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik di Sumut, baik dalam skala besar maupun kecil.
Menurut Pekka, Finlandia memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan sampah modern. Berkat penerapan teknologi tersebut, saat ini hanya sekitar satu persen sampah di Finlandia yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Ia menjelaskan bahwa Finlandia telah mengembangkan sistem modular pengolahan limbah menjadi energi listrik yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan daerah. Teknologi itu dinilai cocok untuk wilayah terpencil karena mampu beroperasi dalam kapasitas yang lebih kecil.
“Finlandia siap berbagi pengalaman, mulai dari teknologi pengolahan sampah, sistem penyortiran, hingga edukasi kepada masyarakat,” kata Pekka.
Menurutnya, karakter geografis Finlandia yang memiliki banyak wilayah terpencar dan kepulauan membuat teknologi tersebut relevan diterapkan di Indonesia, termasuk di Sumatera Utara.
Turut mendampingi Gubernur Sumut dalam audiensi tersebut Wakil Gubernur Sumut, Surya, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. (Reza)