Argentina Waspadai Kejutan Sensasional Tanjung Verde

redaksi
3 Jul 2026 13:56
3 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – Juara bertahan Argentina menghadapi ujian menarik saat berjumpa kuda hitam Tanjung Verde pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Hard Rock Stadium, Miami, Sabtu (4/7/2026) WIB. Di atas kertas Albiceleste jauh lebih diunggulkan, namun perjalanan sensasional Tanjung Verde membuat laga ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Argentina melaju ke fase gugur dengan status juara Grup J setelah menyapu bersih tiga pertandingan. Tim asuhan Lionel Scaloni menaklukkan Aljazair 3-0, Austria 2-0, dan Jordania 3-1. Sebaliknya, Tanjung Verde mencuri perhatian dunia setelah lolos sebagai runner-up Grup H tanpa terkalahkan. Negara debutan tersebut menahan imbang Spanyol 0-0, Uruguay 1-1, dan Arab Saudi 0-0.

Pertandingan ini akan menjadi pertemuan pertama dalam sejarah antara kedua negara di level senior. Meski belum pernah bertemu, duel ini menghadirkan kontras yang menarik antara salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia melawan tim debutan yang menjadi kejutan terbesar turnamen.

Pelatih Argentina Lionel Scaloni diperkirakan kembali menurunkan komposisi terbaik setelah melakukan rotasi pada laga terakhir fase grup. Lionel Messi yang sudah mengoleksi enam gol di turnamen ini dipastikan kembali menjadi pusat permainan Argentina. Scaloni juga menegaskan timnya tidak meremehkan Tanjung Verde yang terbukti mampu menyulitkan tim-tim besar.

Argentina kemungkinan bermain dengan pola 4-3-3 atau 4-4-2 fleksibel. Emiliano Martinez akan mengawal gawang, didukung Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martinez, dan Nicolas Tagliafico di lini belakang. Rodrigo De Paul, Enzo Fernandez, serta Alexis Mac Allister menjadi motor lini tengah. Sementara Messi, Lautaro Martinez, dan Thiago Almada diperkirakan mengisi lini depan.

Kekuatan utama Argentina berada pada keseimbangan permainan di semua lini. Mereka memiliki organisasi pertahanan yang solid, kreativitas tinggi di lini tengah, serta efektivitas serangan yang dipimpin Messi dan Lautaro. Selain itu, pengalaman bermain di laga-laga besar menjadi modal berharga bagi juara dunia 2022 tersebut.

Namun, Argentina tetap memiliki celah. Ketergantungan terhadap Messi masih cukup besar mengingat enam dari delapan gol Argentina di turnamen ini lahir dari kaki sang kapten. Jika Tanjung Verde mampu membatasi ruang geraknya, kreativitas Albiceleste bisa sedikit berkurang.

Di kubu Tanjung Verde, pelatih Bubista dipastikan tidak akan mengubah identitas permainan timnya. Ia menegaskan anak asuhnya tetap bermain berani, disiplin, dan terorganisasi meski menghadapi juara bertahan dunia.

Tanjung Verde diperkirakan menggunakan formasi 4-3-3 yang bisa berubah menjadi 4-5-1 saat bertahan. Kiper veteran Vozinha tetap menjadi andalan setelah tampil gemilang sepanjang fase grup. Lini belakang kemungkinan dihuni Stopira, Roberto Lopes, Dylan Tavares, dan Steven Moreira. Di sektor tengah terdapat Kevin Lenini, Jamiro Monteiro, dan Deroy Duarte. Sementara lini depan akan mengandalkan Garry Rodrigues, Bebe, serta Ryan Mendes.

Kelebihan terbesar Tanjung Verde adalah organisasi pertahanan yang sangat disiplin. Mereka mampu meredam serangan Spanyol dan membuat Uruguay frustrasi. Selain itu, transisi cepat melalui Ryan Mendes dan Garry Rodrigues menjadi senjata berbahaya saat melakukan serangan balik.

Meski demikian, kelemahan mereka juga cukup jelas. Produktivitas gol masih rendah dan tekanan menghadapi pemain-pemain kelas dunia seperti Messi, Lautaro, hingga Mac Allister bisa menjadi ujian terbesar dalam sejarah sepak bola negara kepulauan Afrika tersebut. Selain itu, mereka diperkirakan akan lebih banyak bertahan sehingga berisiko kehilangan penguasaan bola sepanjang pertandingan.

Scaloni bahkan secara khusus mengingatkan publik agar tidak memandang remeh Tanjung Verde. Menurutnya, tim tersebut layak berada di fase gugur setelah menunjukkan disiplin luar biasa dan beberapa kali hampir mengalahkan lawan-lawan yang lebih kuat.

Di atas kertas Argentina tetap favorit kuat untuk lolos ke babak 16 besar. Namun Tanjung Verde sudah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penggembira. Jika mampu mempertahankan disiplin dan memanfaatkan serangan balik secara efektif, bukan tidak mungkin kejutan terbesar Piala Dunia 2026 kembali tercipta di Miami. (Reza)