Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya
MEDAN, kaldera.id – Produksi bawang merah di Sumatera Utara baru mampu memenuhi sekitar 63,8% kebutuhan daerah. Sementara bawang putih dan kedelai masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Kondisi ini menjadi salah satu pekerjaan rumah sektor pertanian Sumut dalam mengejar swasembada pangan.
Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya meminta Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengambil peran lebih besar dalam meningkatkan produksi pangan sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.
Hal itu disampaikan Surya saat Musyawarah Daerah dan Pelantikan DPC HKTI se-Sumatera Utara periode 2026–2031 di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Medan, Rabu (9/9/2026).
Surya mengatakan HKTI tidak hanya dibutuhkan sebagai wadah organisasi petani, tetapi juga harus menjadi mitra pemerintah dalam menyelesaikan persoalan pertanian di lapangan.
“HKTI harus terus hadir sebagai rumah besar petani, menjadi wadah yang memperkuat kapasitas, memperluas kesempatan, menyuarakan aspirasi, serta menjadi mitra pemerintah dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan pertanian,” kata Surya.
Menurut Surya, sektor pertanian memiliki posisi strategis bagi perekonomian Sumut. Kontribusinya mencapai 25,88% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumut dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 2,42 juta tenaga kerja atau sekitar 35,43% dari total tenaga kerja.
Berdasarkan prakiraan Kerangka Sampel Area periode Januari-September 2026, luas panen padi Sumut diperkirakan mencapai 372.938 hektare dengan produksi sekitar 1,96 juta ton gabah kering giling. Produktivitas rata-rata mencapai 5,26 ton per hektare.
Untuk jagung, produksi periode Januari-Juli 2026 mencapai sekitar 949 ribu ton. Jumlah tersebut melampaui kebutuhan daerah yang berada di kisaran 875 ribu ton sehingga Sumut mencatat surplus lebih dari 74 ribu ton.
Sumut juga masih menjadi salah satu sentra perkebunan nasional. Produksi kelapa sawit mencapai sekitar 7,95 juta ton, karet 310 ribu ton, kelapa 102 ribu ton, kopi arabika 77,7 ribu ton, kopi robusta 10,3 ribu ton, kakao 37,3 ribu ton, dan aren sekitar 8 ribu ton.
Namun, capaian tersebut belum membuat seluruh kebutuhan pangan Sumut dapat dipenuhi dari produksi sendiri. Surya menyebut produksi bawang merah baru mencukupi 63,8% kebutuhan daerah, sedangkan bawang putih dan kedelai masih mengandalkan pasokan dari luar daerah.
Karena itu, Surya mendorong HKTI menggerakkan peningkatan produksi komoditas pangan melalui inovasi, perluasan budidaya, penguatan kelembagaan petani, dan pemanfaatan teknologi pertanian.
Di sisi lain, Sekjen DPN HKTI Abdul Kadir Karding mengatakan regenerasi petani menjadi persoalan yang tidak kalah penting. Mayoritas petani saat ini sudah berusia senior sehingga perlu disiapkan generasi penerus.
“Kalau kita tidak merencanakan dengan baik, ke depan tidak ada lagi yang bekerja di sektor pertanian. Karena itu, harus disiapkan kader petani muda, petani milenial, termasuk melalui magang agribisnis pertanian,” katanya.
Karding juga meminta HKTI memperkuat organisasi petani melalui pendataan dan tata kelola organisasi. Penguatan tersebut harus dilakukan mulai tingkat kabupaten/kota, kecamatan, ranting hingga kelompok tani.
Ketua Harian DPN HKTI Mulyono Machmir mengatakan kekuatan organisasi berada pada struktur paling bawah, yakni kelompok tani. Karena itu, penguatan HKTI harus dimulai dari tingkat akar rumput hingga desa.
Sementara itu, Ketua DPD HKTI Sumut Gus Irawan Pasaribu mengatakan sektor pertanian harus ditempatkan sebagai sektor superprioritas karena berperan besar terhadap perekonomian daerah dan menjadi sumber penghidupan masyarakat di sejumlah kabupaten.
Gus Irawan menegaskan HKTI Sumut siap berkolaborasi dengan Pemprov Sumut dan pemerintah kabupaten/kota, termasuk mendorong hilirisasi komoditas unggulan seperti kakao, kelapa, dan kopi.
Dalam kegiatan tersebut, Abdul Kadir Karding melantik Gus Irawan Pasaribu sebagai Ketua DPD HKTI Sumut periode 2026–2031, Muhammad Syah sebagai sekretaris, dan Kamsir Aritonang sebagai bendahara. (Reza)