Rp229 Miliar Tak Cukup, Bobby Siapkan Skema Baru Bangun Infrastruktur Nelayan Nias Selatan

redaksi
30 Okt 2026 19:11
Medan News 0 7
2 menit membaca

 

GUNUNGSITOLI, kaldera.id – Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menyiapkan skema pembiayaan alternatif di luar APBD untuk membangun fasilitas penunjang nelayan di Nias Selatan. Keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan terhentinya pembangunan pabrik es, tempat pelelangan ikan (TPI), hingga pengadaan kapal nelayan.

Bobby mengungkapkan, usulan tambahan anggaran Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut mencapai Rp229 miliar. Namun, penyesuaian anggaran menuntut pemerintah mencari sumber pembiayaan lain, termasuk menggandeng pihak swasta dan perbankan.

“Kalau anggaran kita disesuaikan, harus ada ide kreatif. Jangan kalau uangnya dipotong, berarti kerjanya dipotong. Kita dorong pembangunan fasilitas bisa bekerja sama dengan pihak swasta,” tegas Bobby saat menerima kelompok nelayan, pembudidaya, dan Bupati Nias Selatan Sokhiatulö Laia di Gunungsitoli, Jumat (30/10/2026).

Salah satu opsi yang disiapkan adalah pembiayaan melalui kredit perbankan dengan kemungkinan subsidi bunga dari pemerintah. Dengan skema ini, pembangunan fasilitas perikanan tidak harus sepenuhnya bergantung pada APBD.



“Misalnya pembuatan pabrik es, tidak semuanya harus pakai APBD. Bisa dikerjasamakan dengan pihak swasta atau dikelola kelompok nelayan. Yang ditanggung pemerintah mungkin bunganya, sehingga usaha pabrik es betul-betul berjalan secara optimal,” ujarnya.

Bobby juga meminta kebutuhan nelayan dipetakan berdasarkan skala prioritas. Mulai dari alat tangkap, air bersih, listrik, pabrik es hingga akses pasar, terutama untuk masyarakat di kawasan kepulauan seperti Pulau Telo.

Program Kampung Nelayan Merah Putih yang dicanangkan Presiden di Telukdalam dan Pulau Telo, menurut Bobby, juga harus disertai program penyangga agar pembangunan fisik benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Pembangunan satu program tidak bisa berdiri sendiri tanpa program penyangga. Cita-cita Bapak Presiden bukan hanya membangun fisiknya, tetapi nelayan benar-benar mendapatkan manfaatnya secara berkesinambungan,” katanya.

Menanggapi permintaan masyarakat agar datang langsung ke Pulau Telo, Bobby meminta pemerintah daerah dan dinas terkait terlebih dahulu mematangkan data serta program bantuan. Ia ingin kunjungan tersebut disertai solusi konkret, bukan sekadar janji.

“Saya ke sana programnya harus jelas dulu. Supaya pas saya datang, kita tidak hanya bawa janji, tapi membawa program dan solusi nyata untuk nelayan,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Nias Selatan Sokhiatulö Laia memaparkan besarnya potensi kelautan dan perikanan daerahnya, mulai dari ikan, rumput laut, kerang hingga ratusan ribu bibit lobster. Wilayah kepulauan Nias Selatan juga memiliki 53 titik ombak potensial untuk pengembangan pariwisata.

Namun, keterbatasan fasilitas dan alat tangkap membuat potensi tersebut belum optimal. Dari 7.116 nelayan di wilayah Teluk, sebagian besar masih menggunakan sampan dayung untuk melaut.

Persoalan pemasaran juga menjadi kendala serius. Sekitar 60 ton rumput laut bahkan tidak dipanen pada bulan lalu karena tidak tersedia pembeli.  (Reza)