Site icon Kaldera.id

Kampus Lockdown Mahasiswa Gagal Skripsi hingga Mau Lompat di Plaza

Kampus Lockdown Mahasiswa Gagal Skripsi hingga Mau Lompat di Plaza

Kampus Lockdown Mahasiswa Gagal Skripsi hingga Mau Lompat di Plaza

MEDAN, kaldera.id – Universitas negeri yang ada di Medan seperti USU, UIN dan Unimed sudah mengeluarkan edaran untuk menghentikan perkuliahan (lockdown) tatap muka dan menggantinya dengan sistem daring (dalam jaringan).

Keputusan itu juga berimbas pada pelaksanaan seminar proposal dan ujian skripsi (meja hijau). Awalnya pelaksanaan seminar proposal dan meja hijau sempat diputuskan tetap dilanjutkan dengan hanya menghadirkan dosen penguji dan mahasiswa yang bersangkutan.

Tapi kemudian keputusan ini pun dianulir dan semua sempro (seminar proposal) serta meja hijau distop menunggu batas waktu yang belum ditentukan.

Menyikapi hal itu kaldera.id pun mewawancarai beberapa mahasiswa dari berbagai kampus yang gagal sempro dan meja hijau. Untuk menjaga sekresi (kerahasiaan) mahasiswa yang diwawancarai kaldera.id sengaja menutupi identitasnya.

Seorang mahasiswa yang sedang mengusulkan judul ke dosen pembimbingnya di salah satu kampus PTN, kepada kaldera.id, Rabu (18/3/2020), mengatakan kebijakan itu dengan berat hati harus diterimanya.

“Ada rasa frustrasi pak. Bagaimana tidak ini saya sudah kumpulkan 10 jurnal terakreditasi internasional. Tapi dosen pembimbing tak lagi ke kampus.

Harusnya saya paling tidak bisa mengejar wisuda setelah Lebaran. Tapi bagaimana lagi ya harus diterima. Tapi saya tetap mencoba menghubungi dosen pembimbing,” jelasnya.

Hingga kemarin dia memang tetap melakukan komunikasi dengan dosen pembimbing skripsi (PS) untuk memastikan judul agar disetujui. Setelah itu nanti ketika bisa bertemu tinggal meminta tanda tangan persetujuan.

Universitas Negeri Lockdown Perkuliahan

Hal lain diungkapkan mahasiswi bermarga Hasibuan yang harusnya seminar proposal (sempro) bulan ini. Proposalnya sudah diperbaiki. Kemudian coretan dalam proposal dari dosen pembimbing juga sudah diedit. “Tapi dosennya tak ke kampus lagi.

Sedih bukan main. Saya sampai nangis tak berhenti. Karena sudah janji dengan orang tua akan menyelesaikan secepatnya. Apalagi kalau tak siap tahun ini saya akan masuk tahun ke enam,” tuturnya.

Sambil membawa map plastik bergaris biru yang di dalamnya berisi proposal, sebenarnya dia sudah mengancang – ancang agar bisa sempro bulan ini.

Kemudian akan maju meja hijau dua bulan lagi. Setidaknya waktu tamatnya pas di lima tahun. Namun lockdown kampus membuat prposalnya terganjal.

“Saya sama beberapa teman sedang sibuk-sibuknya mengejar sempro. Biar bisa cepat tamat. Terus uang kuliah tak bayar lagi. Kalau begini kan kami serasa tidak punya kepastian kapan bisa sempro dan tamat,” tuturnya.

Begitupun dia berharap dalam tangis dan doa-doanya semoga sempro dan ujian skripsinya bisa dijalankan. “Andaipun terlambat maunya ada kompensasi dari kampus terkait biaya dan uang kuliah.

Harapannya begitu. Tapi saya sekarang pasrah. Menangis berhari-hari pun akhirnya tak juga membuka pintu ruang seminar proposal di kampus,” ungkapnya.

Rasanya Mau Lompat dari Atas Plaza

Pendapat lebih ekstrim disampaikan salah satu mahasiswi yang juga kuliah di PTN. Dia malah sudah dapat jadwal untuk seminar proposal dan dosen pembanding pun sudah setuju. “Aku stres kalau begini.

Rasanya pengen juga lompat dari lantai paling atas plaza gitu. Sama kayak yang lompat tempo hari,” katanya dengan wajah terlihat kuyu, stress dan tertekan.

Rupanya setelah diwawancara lebih dalam dia sudah berjanji akan menyelesaikan kuliah dengan orang tua dan keluarga. “Kami bukan keluarga yang punya kemampuan berlebih.

Andaikan tak tamat tahun ini entah bagaimana lagi menutupi uang kuliah. Untuk tamat saja pun nanti mulai dari seminar proposal sampai skripsi banyak biaya,” ungkapnya.

“Kalau begini memang bagus aku loncat Pak. Stres aku sudah kalau begini. Apalagi baru hari ini aku dapat kepastian semua sempro dan ujian skripsi ditunda,” katanya dengan wajah tegang kepada kaldera.id, Rabu.

Kekecewaan akibat gagal menyelesaikan kuliah ini juga diungkapkan salah satu mahasiswa yang berasal dari Nias. “Kalau sudah begini bagus pulang kampung dululah lihat orang tua. Belum tentu kapan ini bisa dimulai lagi,” katanya.

Sebab di Medan pun dia merasa hanya jadi beban dan menunggu dalam ketidakpastian. “Sekarang informasi kan sudah cepat kita dapat. Nanti kalau sudah dibuka lagi bisa cepat balik Medan. Kami ada grup mahasiswa di WhatsApp,” katanya.

Pulang kampung ke Tapsel pun dilakukan salah satu mahasiswa yang sudah selesai sempro di kampusnya. “Ini saya pulang kampung. Sempro sudah selesai minggu lalu. Mau lanjutkan penelitian tapi situasi belum pasti. Kalau nanti sudah seperti biasa saya balik lagi,” tuturnya.

Untuk ke Tapsel dia pun memilih pulang dengan taksi armada L-300 yang membuat perjalannya lebih cepat sampai. Hanya saja dari semua harapan mereka sudah pasti waktu tamat tidak sesuai jadwal. Bahkan akan masuk ke semester baru. Jika begitu, otomatis uang kuliah harus dibayar lagi.

Namun karena ini force majeure harapan mereka sama agar dapat keringanan pembayaran uang kuliah dan dispensasi atas keterlambatan tersebut. (tim)

Exit mobile version