Surya saat menutup PKN Tingkat II Angkatan XII Tahun 2026 di Aula Raja Inal Siregar, Jalan Diponegoro No. 30, Medan, Jumat (25/9/2026).
MEDAN, kaldera.id — Wakil Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Surya menegaskan, keberhasilan mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II bukan diukur dari sertifikat kelulusan, melainkan dari perubahan nyata yang mampu diwujudkan para peserta setelah kembali ke instansi masing-masing.
Pesan itu disampaikan Surya saat menutup PKN Tingkat II Angkatan XII Tahun 2026 di Aula Raja Inal Siregar, Jalan Diponegoro No. 30, Medan, Jumat (25/9/2026). Ia meminta para peserta tidak menjadikan pelatihan sebagai sekadar tahapan administratif dalam perjalanan karier birokrasi.
“Keberhasilan PKN Tingkat II tidak diukur dari sertifikat kelulusan yang diterima hari ini, melainkan dari sejauh mana gagasan tersebut benar-benar diimplementasikan dan memberikan dampak yang dirasakan masyarakat,” ujar Surya.
Surya juga menekankan integritas sebagai fondasi utama kepemimpinan di lingkungan pemerintahan. Menurutnya, kemampuan teknis saja tidak cukup untuk memastikan seorang pejabat mampu menjalankan amanah publik dengan baik.
Mengutip pengalamannya saat mengikuti pembekalan kepemimpinan bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Lembaga Administrasi Negara (LAN), Surya menyebut pemahaman teknis pemerintahan hanya menjadi sebagian dari kunci kepemimpinan. Bagian lainnya menyentuh hati nurani atau kalbu.
“Integritas itu jujur, dan jujur itu identik dengan baik, baik dalam perilaku maupun perbuatan yang tidak melanggar ketentuan peraturan. Integritas adalah ukuran yang harus terus kita pertahankan,” tegasnya.
Menurut Surya, kepemimpinan berintegritas menjadi modal penting dalam menjalankan roda pemerintahan. Karena itu, para alumni PKN II diminta membawa pengetahuan, pengalaman dan gagasan yang diperoleh selama pelatihan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan di tempat mereka bertugas.
Pesan serupa disampaikan Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN LAN RI Erna Irawati. Ia menyebut terdapat empat kompetensi penting yang harus dimiliki seorang pemimpin, yakni kemampuan mengelola diri sendiri, mengelola orang lain, mengelola kinerja dan mengelola perubahan.
Di tengah perubahan yang berlangsung cepat, kata Erna, tantangan birokrasi tidak hanya berkaitan dengan transformasi digital. Pemerintah juga dituntut mampu menghadapi berbagai krisis dan perubahan yang tidak selalu dapat diprediksi.
Karena itu, seorang pemimpin harus memiliki kemauan untuk terus belajar.
“Kunci dari perubahan adalah belajar. Pemimpin ketika berhenti belajar, organisasinya tidak akan tumbuh. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang meninggalkan legacy (warisan kebermanfaatan) yang dimulai dari proses transformasi,” tutur Erna.
Erna juga mengingatkan agar proyek perubahan yang telah disusun peserta PKN II tidak berhenti setelah pelatihan berakhir. Gagasan tersebut harus terus dikembangkan agar menghasilkan manfaat bagi organisasi maupun masyarakat.
Sementara itu, Kepala BPSDM Provinsi Sumut Agustinus Panjaitan menyampaikan PKN Tingkat II Angkatan XII mengusung tema “Kepemimpinan Adaptif dalam Transformasi Tata Kelola Penanggulangan Bencana untuk Mewujudkan Resiliensi dan Daya Saing Daerah.”
Pelatihan berlangsung selama lebih dari empat bulan, mulai 20 Mei hingga 25 September 2026. Sebanyak 49 peserta mengikuti pelatihan dari berbagai instansi, termasuk Pemprov Sumut, Kejaksaan Agung RI, pemerintah kabupaten/kota di Sumut serta sejumlah daerah lainnya seperti Kampar dan Pasaman Barat.
“Dari total 49 peserta, sebanyak 48 orang dinyatakan LULUS, sementara satu orang ditunda kelulusannya dikarenakan sakit,” papar Agustinus.
Berbeda dari angkatan sebelumnya yang melaksanakan kunjungan ke lokasi best practice, Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) Angkatan XII dilakukan langsung di wilayah pascabencana Kabupaten Tapanuli Selatan.
Hasil kajian lapangan tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan sejumlah rekomendasi. Di antaranya penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana berbasis data, perlindungan serta perawatan kelompok rentan pascabencana, transformasi kepemimpinan melalui kolaborasi dan kearifan lokal, serta pemulihan pelayanan publik setelah bencana.
Rangkaian PKN Tingkat II Angkatan XII kemudian ditutup dengan pemberian apresiasi kepada lima peserta terbaik dan penyerahan rekomendasi kebijakan atau policy brief kepada pemerintah daerah.
Pesan yang mengemuka dari penutupan tersebut jelas: pelatihan boleh berakhir, tetapi tanggung jawab kepemimpinan justru dimulai ketika para peserta kembali ke meja kerja dan dituntut membuktikan perubahan. (Reza)