
SELAMA ini kita sering membayangkan intelektual sebagai orang yang melahirkan teori besar, tampil dalam perdebatan politik, menulis kritik kekuasaan, atau menjadi suara moral di ruang publik.
Bayangan ini penting, tetapi tidak mencakup seluruh bentuk kerja intelektual. Ada pula jenis intelektual yang bekerja lebih senyap. Ia mencari dokumen yang hampir hilang, mencatat ingatan orang-orang tua sebelum mereka meninggal, membandingkan nama dan tanggal.
Selain itu, Ia menyusun katalog dan menyalin manuskrip. Kemudian, Ia menghubungkan arsip keluarga dengan sumber kolonial, dan memastikan bahwa generasi sesudahnya masih memiliki bahan untuk berpikir.
Dalam catatan biografi awal setidaknya Lukman Sinar telah menulis 21 buku, 108 tulisan dalam bidang seni dan kebudayaan Melayu, 215 makalah seminar, serta 194 artikel dalam jurnal ilmiah, dan artikel kolumnis Harian Waspada dan Analisa Medan.
Luckman Sinar dapat ditempatkan dalam jenis ini: seorang intelektual penjaga. Seorang intelektual penjaga tidak harus menciptakan teori yang menggemparkan dunia. Sumbangannya terletak pada kemampuannya menjaga agar suatu masyarakat tidak kehilangan bahan untuk memahami dirinya.
Ia bekerja bukan hanya untuk pembaca pada zamannya, tetapi juga untuk orang-orang yang belum lahir. Kerja semacam ini sering tidak terlihat heroik. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan, serta kesediaan menghadapi pekerjaan kecil yang berulang: membaca, mencatat, menyimpan, memeriksa, membandingkan, dan memperbaiki.
Justru dari pekerjaan yang tidak spektakuler itulah bangunan pengetahuan berdiri. Para peneliti yang datang kemudian mungkin menghasilkan analisis yang lebih kritis, metode yang lebih mutakhir, dan teori yang lebih canggih. Mereka dapat melakukannya karena ada seseorang yang sebelumnya menyelamatkan bahan, menunjukkan nama, membuka akses, dan menyusun jalan masuk. Intelektual yang menghasilkan gagasan baru bergantung pada orang yang menjaga kemungkinan lahirnya gagasan.
Menghormati Luckman Sinar tidak berarti menjadikannya tokoh yang tidak boleh dikritik. Setiap proyek penyelamatan sejarah selalu mengandung pilihan. Apa yang dicatat dan apa yang ditinggalkan? Siapa yang ditempatkan di pusat cerita dan siapa yang tetap berada di pinggiran?
Perspektif kesultanan tentu memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk membaca masyarakat perkebunan, kaum tani, perempuan, buruh migran, serta kelompok-kelompok non-Melayu yang juga membentuk Sumatera Timur.
Genealogi cenderung lebih mudah mengingat raja dan bangsawan daripada rakyat biasa. Arsip istana lebih banyak mencatat perjanjian, suksesi, dan hubungan elite daripada kehidupan perempuan di rumah, penderitaan buruh kebun, atau pengalaman orang-orang yang tidak memiliki tulisan.
Karena itu, warisan Luckman Sinar harus diperlakukan sebagai pintu, bukan sebagai dinding. Karya-karyanya membuka suatu lapangan pengetahuan, tetapi tidak menutup kemungkinan munculnya pembacaan lain. Bahkan, penghormatan terbaik terhadap seorang sejarawan adalah melanjutkan pekerjaannya dengan pertanyaan yang lebih luas.
Kita perlu mempertemukan sejarah kesultanan dengan sejarah perkebunan. Genealogi bangsawan dengan mobilitas masyarakat biasa. Adat dengan perubahan kelas sosial. Kemelayuan dengan keragaman etnis Sumatera Timur. Ingatan korban revolusi dengan aspirasi kelompok-kelompok yang dahulu menentang ketimpangan feodal. Dengan begitu, sejarah tidak menjadi alat untuk menukar satu kesunyian dengan kesunyian yang lain.
Luckman Sinar sendiri penting bukan karena seluruh tafsirnya harus diterima sebagai kata akhir. Ia penting karena telah menciptakan kondisi agar perdebatan mengenai masa lalu Melayu dapat dilakukan dengan bahan yang lebih memadai. Proyeknya membuktikan bahwa pengetahuan tidak otomatis menjadi memori kolektif. Buku harus dibaca, arsip harus dibuka, sejarah harus diajarkan, dan warisan harus diperdebatkan agar tetap hidup.
Pada hari kelahirannya, pertanyaan kita bukan hanya bagaimana mengenang Luckman Sinar. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: bagaimana keadaan warisan intelektualnya sekarang? Apakah seluruh bukunya masih dapat ditemukan? Apakah karya-karyanya telah disusun dalam bibliografi yang lengkap? Apakah arsip, surat, catatan harian, foto, manuskrip, rekaman, dan kliping yang dikumpulkannya telah dikatalogkan? Apakah generasi baru dapat mengaksesnya? Apakah ada pusat studi yang secara sistematis melanjutkan pekerjaan yang telah dimulainya?
Sebuah masyarakat sering merasa telah menghormati intelektualnya setelah menamai gedung, membuat seminar, memasang foto, atau mengadakan peringatan tahunan. Semua itu tidak salah. Penghormatan simbolis dapat berjalan bersamaan dengan kematian perlahan warisan intelektual. Kita dapat memuliakan nama seorang tokoh sambil membiarkan bukunya tidak dicetak lagi. Kita dapat mengadakan perayaan budaya sambil membiarkan manuskrip berjamur. Kita dapat menyebutnya sejarawan besar sambil tidak pernah membangun katalog karyanya. Kita dapat memasang potretnya di ruang pertemuan sambil tidak menyiapkan satu pun peneliti muda yang mampu melanjutkan keahliannya.
Di sinilah peringatan ulang tahun memeroleh makna yang lebih substantif. Mengenang Luckman Sinar seharusnya menjadi momentum untuk mengubah warisan personal menjadi infrastruktur publik. Koleksi perlu diselamatkan dan dikatalogkan. Buku-buku langka perlu diterbitkan kembali secara kritis. Karya-karyanya perlu didigitalisasi dengan tetap memperhatikan hak keluarga dan konteks sumber. Wawancara, ceramah, dan catatan yang belum terbit perlu diinventarisasi. Perguruan tinggi perlu menjadikannya bukan hanya objek skripsi, tetapi pintu masuk bagi pengembangan sejarah intelektual, studi arsip, sejarah kota, adat, bahasa, dan masyarakat Melayu Sumatera Timur.
Sebab suatu warisan tidak benar-benar hidup hanya karena masih dimiliki. Ia hidup ketika dapat diakses, dipahami, dikritik, dan diwariskan kembali. Luckman Sinar telah mengubah pengalaman kehilangan menjadi disiplin pengetahuan. Warisan Serdang memberinya bahan, revolusi memberinya keterdesakan, literasi memberinya alat, dan arsip memberinya bukti, serta, jaringan sosial memberinya ruang untuk mengedarkan pengetahuan.
Dari pertemuan semua itulah lahir seorang intelektual yang memindahkan kemelayuan dari ingatan yang rentan menuju bentuk pengetahuan yang dapat diwariskan.
Pada akhirnya, “Tak Melayu Hilang di Dunia” tidak boleh dipahami sebagai keyakinan bahwa sebuah kebudayaan akan bertahan dengan sendirinya. Tidak ada identitas yang kebal terhadap kelupaan. Tidak ada arsip yang selamat tanpa perawatan. Tidak ada sejarah yang terus hidup tanpa pembaca.
Semboyan itu lebih tepat dibaca sebagai panggilan untuk bekerja. Luckman Sinar telah mengambil bagian dalam pekerjaan itu sepanjang hidupnya. Tugas generasi sesudahnya bukan hanya mengenang orang yang menjaga jejak, tetapi memastikan bahwa jejak yang telah dijaganya tidak kembali kehilangan suara.(*/habis)
*Associate Professor di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
**Associate Professor di ISTAC-IIUM Malaysia