Menjadi Indonesia, Bukan Sekedar Mengaku Indonesia
oleh : Kevin Andhika Chaniago

redaksi
6 Okt 2026 11:43
Medan Opini 0 34
3 menit membaca

oleh : Kevin Andhika Chaniago

MEDAN, Kaldera.id – Indonesia tidak kekurangan generasi muda yang cerdas. Yang perlu kita pertanyakan adalah, apakah kecerdasan itu diikuti terhadap kepedulian bangsa?

Pertanyaan tersebut saya renungkan ketidak mendapat kesempatan mengisi materi Keindonesiaan dalam kegiatan Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) HMI Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan.

Dihadapan para calon kader muda, saya mencoba mengajak peserta melihat keindonesiaan dari sudut pandang yang lebih luas. Keindonesiaan bukan sekedar identitas yang melekat karena kita lahir dan hidup di Indonesia. Keindonesiaan adalah sikap, kesadaran dan tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam kehidupan bangsa.

Menjadi orang indonesia tidak berhenti memiliki kewarganegaraan, menggunakan bahasa indonesia, mengenal Pancasila, atau menghafal perjuangan bangsa. Semua itu merupakan bagian dari identitas kebangsaan. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan sebagai bagian dari Indonesia?

Disinilah persoalan Apatisme menjadi penting untuk dibicarakan.

Kita sering melihat persoalan sosial, ketidakadilan, korupsi, maupun berbagai masalah di sekitar kita, tetapi memilih diam karena menganggapnya bukan urusan pribadi. Padahal, menjadi warga negara bukan hanya tentang menikmati hak, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Kita boleh kecewa terhadap pemerintah. Kita boleh mengkritik kebijakan negara. Kota bahkan boleh berbeda pandangan dengan orang lain. Tetapi jangan sampai kekecewaan berubah menjadi ketidakpedulian.

Kritik bukan berarti membenci Indonesia. Kritik dapat menjadi bentuk kecintaan ketika lahir dari kepedulian dan disertai tanggung jawab.

Bagi saya, inilah salah satu makna penting dari keindonesiaan. Mencintai bangsa bukan berarti selalu membenarkan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Justru karena merasa memiliki, kita harus berani melihat persoalan, mempertanyakan ketidakadilan, dan ikut mencari jalan keluar.

Sebagai mahasiswa, kita harus memiliki ruang yang besar untuk mengambil peran. Kampus dan organisasi mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi tempat mendapatkan gelar atau menjalankan program kerja. Keduanya harus menjadi ruang untuk belajar membaca persoalan masyakarat, berpikir kritis, berdiskusi, serta membangun keberanian untuk menawarkan solusi.

Pengalaman menyampaikan materi keindonesiaan dalam acara maperca tersebut kembali mengingatkan saya bahwa kaderisasi bukan hanya tentang mencetak anggota organisasi. Lebih dari itu, kaderisasi harus melahirkan manusia yang memiliki kesadaran sosial dan kebangsaan. Sebab Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang peduli.

Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat untuk berkontribusi. Kita tidak harus menjadi tokoh nasional untuk memperbaiki keadaan. Kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana. Yaitu, berani menyampaikan kebenaran, menghargai perbedaan, menjaga integritas, membantu masyarakat, dan tidak memilih diam ketika melihat ketidakadilan.

Karena itu, mari memulai memaknai keindonesiaan melalui tindakan nyata. Mulailah dengan peduli terhadap persoalan di sekitar kita. Gunakan media sosial bukan hanya untuk menyebarkan keluhan, tetapi juga untuk menyebarkan informasi yang benar dan gagasan yang membangun. Berani berdiskusi tanpa merendahkan perbedaan. Berani mengkritik dengan data, bukan sekedar emosi. Ikut dalam kegiatan sosial, organisasi, maupun ruang-ruang publik yang memungkinkan kita untuk memberi kontribusi.

Dan yang paling sederhana, jangan membiasakan diri berkata, “itu bukan urusan saya”, ketika melihat persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.

Pada akhirnya, keindonesiaan bukan sekedar tentang siapa kita, tetapi tentang bagaimana kita bersikap sebagai bagian dari Indonesia.
Mencintai Indonesia berarti menutup mata terhadap kekurangannya. Mencintai Indonesia berarti berani melihat kekurangannya, mengkritiknya dan memiliki keberanian untuk ikut memperbaikinya.

Jangan menjadi generasi yang hanya mewarisi identitas sebagai orang Indonesia.

Mari menjadi generasi yang ikut menjaga, mengkritisi, dan memperbaiki Indonesia, mulai dari lingkungan dan tindakan kita sendiri.