Inggris v Argentina, Memori Azteca 1986 Kembali Menyala

redaksi
14 Jul 2026 13:41
3 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – Semifinal Piala Dunia 2026 mempertemukan dua kekuatan besar sepak bola dunia, Inggris dan Argentina, di Stadion Atlanta, Kamis (16/7/2026).

Laga ini bukan sekadar perebutan tiket final, tetapi juga pertemuan dua negara yang memiliki sejarah panjang dan rivalitas kuat di panggung sepak bola dunia.

Argentina datang dengan status juara bertahan dan salah satu tim paling konsisten sepanjang turnamen.

Sementara Inggris tampil meyakinkan di bawah pelatih baru Thomas Tuchel yang berhasil membawa The Three Lions tampil lebih disiplin dan efektif dibandingkan beberapa turnamen sebelumnya.
Sepanjang Piala Dunia 2026, Argentina menunjukkan mental juara yang sulit ditandingi. Tim asuhan Lionel Scaloni lolos ke semifinal setelah menyingkirkan Swiss 3-1 melalui perpanjangan waktu.

Sebelumnya, Albiceleste juga mampu melewati laga-laga sulit berkat organisasi permainan yang matang dan pengalaman para pemain senior.

Di lini belakang, Argentina masih mengandalkan duet Cristian Romero dan Lisandro Martinez yang tampil solid mengawal pertahanan.

Emiliano Martinez juga kembali menjadi faktor penting berkat kemampuan membaca situasi dan kepiawaiannya dalam laga-laga krusial.

Lini tengah Argentina menjadi salah satu kekuatan utama. Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister dan Rodrigo De Paul mampu menjaga keseimbangan permainan antara menyerang dan bertahan. Ketiganya menjadi motor pengatur tempo permainan sekaligus penyokong serangan.

Di lini depan, Lionel Messi tetap menjadi pusat kreativitas tim meski telah berusia 39 tahun. Kapten Argentina itu didukung Julian Alvarez dan Lautaro Martinez yang tampil tajam sepanjang turnamen.

Inggris datang dengan wajah berbeda sejak ditangani Thomas Tuchel. Pelatih asal Jerman tersebut berhasil membuat permainan Inggris lebih fleksibel dan agresif saat menyerang tanpa kehilangan keseimbangan ketika bertahan.

Lini belakang Inggris diperkuat Jordan Pickford di bawah mistar gawang dengan barisan bek yang dihuni John Stones, Marc Guehi, Ezri Konsa, Djed Spence dan N O’ Reilly yang mampu tampil disiplin sepanjang turnamen.

Di sektor tengah, Inggris memiliki kombinasi tenaga, kreativitas dan mobilitas. Declan Rice menjadi jangkar utama, sementara Jude Bellingham dan Elliot Anderson bertugas menghubungkan lini tengah dengan lini depan. Bukayo Saka dan Anthony Gordon menjadi ancaman dari sisi sayap berkat kecepatan serta kemampuan menusuk ke kotak penalti lawan.

Di lini depan, Harry Kane tetap menjadi andalan utama sebagai pencetak gol. Kapten Inggris tersebut mendapat dukungan Noni Madueke yang tampil impresif sepanjang turnamen melalui akselerasi dan kemampuan duel satu lawan satu.
Secara statistik, Argentina masih sedikit lebih unggul dalam sejarah pertemuan Piala Dunia. Dari lima pertemuan sebelumnya, Argentina meraih tiga kemenangan, Inggris satu kemenangan dan satu laga berakhir imbang.
Pertemuan paling dikenang terjadi pada Piala Dunia 1986 ketika Diego Maradona mencetak gol kontroversial “Tangan Tuhan” serta gol solo yang dianggap sebagai salah satu gol terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia. Inggris kemudian membalas dengan menyingkirkan Argentina melalui adu penalti pada babak 16 besar Piala Dunia 1998.
Secara permainan, duel semifinal ini diperkirakan akan berlangsung ketat. Argentina unggul dalam pengalaman, chemistry pemain dan kemampuan mengontrol tempo pertandingan. Sementara Inggris memiliki keunggulan dari sisi fisik, kedalaman skuad dan fleksibilitas taktik racikan Thomas Tuchel.
Pertandingan ini juga berpotensi menjadi panggung terakhir Lionel Messi di Piala Dunia. Di sisi lain, Inggris bertekad mengakhiri penantian panjang sejak terakhir kali menjadi juara dunia pada 1966.

Dengan kualitas yang dimiliki kedua tim, laga di Atlanta diprediksi menjadi salah satu semifinal terbaik Piala Dunia 2026 dan sangat mungkin ditentukan oleh detail-detail kecil, efektivitas penyelesaian akhir, serta kecerdikan taktik dari dua pelatih yang sama-sama berpengalaman di level tertinggi sepak bola dunia. (Reza)