Ketua PW ISMI Sumut Prof. Nispul Khoiri bersama narasumber Seri Diskusi PW ISMI Sumut, Kamis (23/7/2026).(HO/kaldera)MEDAN, kaldera.id – Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PW ISMI) Sumatera Utara menegaskan komitmennya menjadikan organisasi sebagai pusat pengembangan peradaban Melayu yang mampu menjawab tantangan zaman. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Diskusi Publik bertajuk “Konstruksi Peta Jalan Masa Depan Kesarjanaan Melayu Indonesia” di Madani Hotel Medan, Kamis (23/7/2026), yang digelar sebagai rangkaian pelantikan PW ISMI Sumut pada 25 Juli 2026.
Forum ilmiah yang menghadirkan para guru besar, akademisi, dan tokoh Melayu ini menjadi langkah awal penyusunan Peta Jalan Kesarjanaan Melayu Indonesia, sebuah dokumen strategis yang diarahkan untuk memperkuat kontribusi intelektual Melayu dalam pembangunan nasional sekaligus mengembalikan tradisi keilmuan Melayu sebagai fondasi peradaban.
Ketua PW ISMI Sumatera Utara, Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.Ag, didampingi Sekretaris Ismail Marzuki, menegaskan bahwa ISMI tidak ingin hanya dikenal sebagai organisasi profesi para sarjana, tetapi berkembang menjadi pusat pemikiran (think tank) yang melahirkan gagasan, riset, dan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah.
“Peradaban Melayu sejak dahulu dibangun oleh tradisi ilmu, adab, dan kepemimpinan. Semangat itulah yang ingin dihidupkan kembali melalui ISMI agar mampu memberi kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Menurut Prof. Nispul, di tengah perubahan global dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, organisasi berbasis keilmuan dituntut menjadi produsen pengetahuan yang mampu menawarkan solusi atas persoalan bangsa.
Karena itu, ISMI mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam bidang kebijakan publik, pemberdayaan sumber daya manusia, penguatan kerukunan sosial, serta transformasi masyarakat berbasis nilai-nilai Melayu.
Salah satu agenda besar yang diperkenalkan dalam forum tersebut adalah Digitalisasi Melayu, yaitu upaya mentransformasikan warisan budaya, sejarah, sastra, bahasa, adat istiadat, serta nilai-nilai luhur Melayu ke dalam ekosistem digital. Langkah ini dinilai penting agar kekayaan intelektual Melayu tidak hanya terpelihara, tetapi juga dapat diakses, dipelajari, dan dikembangkan oleh generasi muda.
Prof. Nispul menegaskan bahwa teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), harus dimanfaatkan sebagai sarana memperluas penyebaran nilai-nilai Melayu, bukan sekadar menjadi alat komunikasi modern.
Selain penguatan literasi digital, ISMI juga menggagas pengembangan wakaf produktif sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat. Melalui pengelolaan yang profesional, wakaf diharapkan mampu mendukung pendidikan, riset, pengembangan sumber daya manusia, dan pembangunan berkelanjutan sebagai bagian dari pembangunan peradaban Melayu yang berdaya saing.
Diskusi publik menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka, yakni Guru Besar Ekonomi Islam UIN Sumatera Utara Prof. Dr. Muhammad Yafiz, M.A., Guru Besar Linguistik Universitas Sumatera Utara Prof. Dra. T. Silvana Sinar, Ph.D., Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Medan Prof. Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S., pakar komunikasi digital Dr. Fakhrur Rozi, M.I.Kom., Sekretaris Jenderal DPP MABIN Dr. Syarifuddin Syba, M.H., dengan moderator Bendahara PW ISMI Sumut Assoc. Prof. Dr. Sri Rezeki, S.E., M.M.
Kehadiran para akademisi lintas disiplin tersebut memperkuat gagasan bahwa pembangunan peradaban Melayu tidak cukup dilakukan melalui pelestarian budaya semata, melainkan harus didukung oleh riset, inovasi, penguasaan teknologi, penguatan ekonomi, serta kebijakan publik yang berpihak pada kemajuan masyarakat.
Hasil diskusi akan dirumuskan menjadi rekomendasi strategis sebagai dasar penyusunan Peta Jalan Kesarjanaan Melayu Indonesia. Dokumen ini diharapkan menjadi arah bersama bagi ISMI dalam mengembangkan tradisi keilmuan Melayu, memperkuat kualitas sumber daya manusia, menjaga marwah budaya Melayu, serta memastikan nilai-nilai peradaban Melayu tetap memberi kontribusi bagi Indonesia di masa depan.(reza sahab/red)