Logan CostaMEDAN, kaldera.id – Nama Tanjung Verde mungkin belum sepopuler Spanyol atau Uruguay di Piala Dunia 2026. Namun, negara kepulauan kecil di Afrika Barat itu berpotensi menjadi salah satu kuda hitam yang mengganggu peta persaingan Grup H.
Pasukan asuhan Pedro Leitão Brito atau yang lebih dikenal dengan nama Bubista akan menjalani debut bersejarah di putaran final Piala Dunia setelah berhasil lolos untuk pertama kalinya sepanjang sejarah sepak bola negara tersebut.
Tanjung Verde tergabung di Grup H bersama raksasa Eropa Spanyol, kekuatan tradisional Amerika Selatan Uruguay, dan wakil Asia Arab Saudi.
Meski berstatus debutan, Tanjung Verde bukan tim yang bisa dipandang sebelah mata. Mereka datang ke Amerika Utara dengan modal performa konsisten dalam beberapa tahun terakhir serta keberhasilan menyingkirkan sejumlah negara kuat Afrika saat babak kualifikasi. Bahkan mereka mampu finis di atas Kamerun dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2026.
Kekuatan utama Tanjung Verde berada pada komposisi pemain diaspora yang tersebar di berbagai liga Eropa. Hampir seluruh pemain inti mereka berkarier di Portugal, Prancis, Belanda, Inggris, hingga Belgia. Kondisi itu membuat kualitas individu pemain Tanjung Verde jauh lebih baik dibandingkan negara debutan pada umumnya.
Di bawah mistar gawang, Bubista memiliki pilihan berpengalaman seperti Vozinha, Marcio Rosa, dan CJ dos Santos. Sementara di lini belakang terdapat nama Logan Costa yang diproyeksikan menjadi pemimpin pertahanan bersama Steven Moreira, Roberto “Pico” Lopes, Stopira, Wagner Pina, dan Joao Paulo.
Logan Costa diperkirakan menjadi figur paling penting dalam perjalanan Tanjung Verde di turnamen ini.
Bek yang merumput bersama Villareal ini memiliki postur ideal dan kuat dalam duel udara tersebut akan menjadi benteng utama saat menghadapi lini serang Spanyol maupun Uruguay yang dikenal tajam.
Secara permainan, Tanjung Verde mengandalkan organisasi pertahanan yang disiplin, transisi cepat, dan kekuatan fisik. Mereka bukan tipe tim yang mendominasi penguasaan bola, tetapi sangat berbahaya saat melakukan serangan balik.
Model permainan seperti ini beberapa kali merepotkan tim-tim unggulan Afrika maupun Eropa dalam laga internasional.
Namun tantangan mereka di Grup H tidak ringan. Spanyol datang sebagai salah satu favorit juara dunia, sedangkan Uruguay memiliki tradisi panjang dan pengalaman tampil di turnamen besar. Secara kualitas dan kedalaman skuad, kedua negara tersebut masih berada di atas Tanjung Verde.
Peluang paling realistis bagi Tanjung Verde adalah memburu kemenangan saat menghadapi Arab Saudi. Jika mampu mencuri poin dari salah satu laga melawan Spanyol atau Uruguay, peluang lolos melalui jalur peringkat ketiga terbaik terbuka lebar mengingat format baru Piala Dunia 2026 memberikan kesempatan lebih besar kepada tim nonunggulan.
Meski tidak dijagokan lolos jauh, Tanjung Verde berpotensi menjadi tim yang membuat kejutan. Mereka memiliki mentalitas kuat, skuad yang kompak, dan tidak dibebani target tinggi. Faktor itu sering menjadi senjata berbahaya dalam turnamen pendek seperti Piala Dunia.
Prediksi paling realistis, Tanjung Verde mampu bersaing hingga laga terakhir fase grup dan berpeluang finis di posisi ketiga. Namun bila pertahanan mereka tampil solid dan Logan Costa mampu memimpin lini belakang dengan baik, bukan tidak mungkin debutan Afrika ini menghadirkan salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia 2026. (Reza)