Rico Waas Dorong PUD RPH Kembangkan Cold Storage dan Hilirisasi Produk Daging

redaksi
28 Jul 2026 21:31
News 0 1
3 menit membaca

MEDAN, kaldera.id – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mendorong PUD Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Medan mengoptimalkan aset yang dimiliki melalui pengembangan fasilitas cold storage dan hilirisasi produk daging. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kinerja perusahaan daerah agar tidak hanya bergantung pada pendapatan dari jasa pemotongan ternak.

Arahan itu disampaikan Rico saat memimpin Rapat Monitoring dan Evaluasi Triwulan III PUD RPH Kota Medan di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Selasa (28/7/2026).

Rapat tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Medan Wiriya Alrahman, Asisten Umum Laksamana Putra Siregar, pimpinan perangkat daerah terkait, Direktur Utama PUD RPH Irwansyah Gultom, serta jajaran direksi perusahaan.

Dalam arahannya, Rico meminta manajemen PUD RPH lebih agresif mencari peluang usaha dan menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor peternakan maupun pengolahan daging.
“Kalau memang perlu, jemput bola. Datangi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang daging dan tawarkan proposal kerja sama. Kita tidak bisa hanya menunggu peluang datang,” kata Rico.

Meski demikian, ia menegaskan upaya menarik investor harus dibarengi dengan pembenahan internal perusahaan. Menurutnya, tata kelola organisasi, sistem kerja, dan standar operasional harus diperkuat agar calon mitra memiliki kepercayaan untuk berinvestasi.

Rico juga menyoroti pendapatan PUD RPH yang dinilai belum sebanding dengan potensi aset yang dimiliki. Dengan luas lahan sekitar lima hektare, perusahaan dinilai masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat, jumlah pemotongan sapi tertinggi saat ini masih berada di angka 892 ekor per bulan. Angka tersebut dinilai belum cukup untuk mendorong pertumbuhan keuangan perusahaan secara signifikan.

“Kalau ingin perusahaan ini benar-benar sehat, jumlah pemotongan harus meningkat beberapa kali lipat. Dengan kondisi sekarang, perusahaan akan stagnan. Kita tentu tidak ingin RPH berjalan tetapi perlahan-lahan mati,” ujarnya.

Selain meningkatkan volume usaha utama, Rico meminta aset-aset yang belum produktif segera dimanfaatkan. Jika tidak dapat dikelola secara mandiri, aset tersebut dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga sesuai ketentuan yang berlaku.

Salah satu potensi yang didorong untuk dikembangkan adalah kawasan peternakan unggas. Rico meminta lahan yang tersedia segera diukur, dilakukan penilaian aset melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), lalu ditawarkan kepada investor melalui skema kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak.

Tak hanya itu, Rico juga mendorong PUD RPH mulai mengembangkan bisnis hilir dengan menghasilkan produk olahan daging bernilai tambah.

“Hilirisasi harus mulai dipikirkan. Produk turunannya bisa berupa bakso, kornet, maupun olahan daging lainnya. Jadi sumber pendapatan perusahaan semakin beragam,” katanya.

Rico meminta seluruh rencana pengembangan tersebut segera dituangkan dalam proposal bisnis yang komprehensif dan profesional. Proposal itu harus memuat rencana usaha, analisis bisnis, hingga daftar perusahaan potensial yang dapat diajak bekerja sama.

Di akhir rapat, Rico menegaskan evaluasi yang dilakukan bukan untuk mencari kesalahan direksi maupun jajaran perusahaan, melainkan untuk menemukan solusi dan langkah konkret dalam meningkatkan kinerja PUD RPH.
“Kami tidak ingin menyalahkan RPH. Kami ingin RPH menjadi lebih baik. Karena itu setiap evaluasi harus menghasilkan solusi, bukan sekadar menyampaikan data mentah. Pada pertemuan berikutnya saya ingin melihat data yang sudah matang, argumentasi yang kuat, serta progres nyata dari seluruh rencana pengembangan yang telah disepakati,” pungkasnya. (Reza)