Kemenangan Tim nasional sepak bola Maroko atas Tim nasional sepak bola Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar hasil pertandingan sepak bola biasa.Oleh: Purjatian Azhar
MEDAN, kaldeta.id – Kemenangan Tim nasional sepak bola Maroko atas Tim nasional sepak bola Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar hasil pertandingan sepak bola biasa. Kemenangan tersebut memiliki dimensi historis, sosiologis, dan simbolik yang jauh lebih luas daripada sekadar skor di atas lapangan hijau. Maroko berhasil mengalahkan salah satu kandidat kuat juara dunia, sebuah negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai kekuatan sepak bola modern Eropa dengan tradisi taktik, akademi, dan infrastruktur yang mapan. Dalam perspektif sosiologi olahraga, kemenangan ini dapat dibaca sebagai bentuk “pergeseran simbolik pusat dominasi” dari negara-negara hegemonik menuju negara-negara yang selama ini berada di pinggiran struktur kekuasaan sepak bola global.
Secara historis, sepak bola dunia memang lama dikuasai oleh negara-negara Eropa dan Amerika Latin. Dominasi tersebut melahirkan apa yang dalam teori Antonio Gramsci disebut sebagai hegemoni budaya. Negara-negara kuat tidak hanya mendominasi melalui kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga melalui legitimasi budaya yang membuat dunia menganggap mereka sebagai “pusat peradaban sepak bola.” Brasil, Jerman, Argentina, Italia, Prancis, hingga Belanda diposisikan sebagai representasi modernitas sepak bola, sedangkan negara-negara Afrika dan Asia sering dipandang sebagai pelengkap turnamen semata.
Namun, kemenangan Maroko menunjukkan bahwa struktur tersebut mulai mengalami retakan. Dalam istilah Pierre Bourdieu, Maroko berhasil mengakumulasi “modal simbolik” yang besar melalui prestasi olahraga. Modal simbolik ini tidak hanya meningkatkan citra negara di mata dunia, tetapi juga mengubah cara masyarakat global memandang negara-negara Muslim dan Afrika. Maroko tidak lagi dilihat sebagai “tim kejutan,” melainkan sebagai entitas sepak bola yang mampu menantang dan mengalahkan pusat dominasi lama.
Kemenangan ini menjadi semakin penting karena lawan yang dihadapi adalah Belanda. Dalam sejarah sepak bola modern, Belanda dikenal sebagai salah satu laboratorium taktik paling berpengaruh di dunia. Konsep “Total Football” yang lahir dari negeri tersebut telah mengubah wajah sepak bola global sejak era Johan Cruyff. Belanda juga dikenal sebagai negara dengan sistem pembinaan pemain muda yang sangat maju. Oleh sebab itu, ketika Maroko berhasil menyingkirkan Belanda, kemenangan tersebut secara simbolik menjadi bentuk perlawanan terhadap dominasi tradisional Eropa dalam sepak bola internasional.
Dari sudut pandang sosiologi konflik ala Ralf Dahrendorf, pertandingan ini dapat dipahami sebagai benturan antara kelompok dominan dan kelompok subordinat dalam struktur global olahraga. Negara-negara Eropa selama ini menikmati privilese ekonomi, teknologi olahraga, hingga akses terhadap kompetisi elite dunia. Sebaliknya, banyak negara Afrika dan Muslim menghadapi keterbatasan fasilitas, stereotip media, hingga marginalisasi dalam panggung global. Karena itu, kemenangan Maroko menghadirkan semacam “counter narrative” terhadap asumsi lama bahwa sepak bola berkualitas hanya lahir dari Barat.
Di sisi lain, kemenangan Maroko juga mempunyai resonansi emosional yang sangat kuat bagi masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kedekatan kultural dan emosional dengan Maroko. Kedekatan ini bukan berarti hubungan politik formal semata, melainkan kesamaan identitas simbolik sebagai masyarakat mayoritas Muslim yang sering menghadapi stereotip global. Ketika Maroko menang, banyak masyarakat Indonesia merasa bahwa kemenangan tersebut bukan hanya kemenangan sebuah negara Afrika Utara, tetapi kemenangan representasi dunia Islam secara lebih luas.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori solidaritas mekanik Émile Durkheim. Dalam solidaritas mekanik, masyarakat membangun ikatan berdasarkan kesamaan identitas, nilai, dan keyakinan kolektif. Identitas Islam menjadi salah satu perekat emosional yang membuat masyarakat Indonesia merasa dekat dengan perjuangan Maroko. Dukungan terhadap Maroko tidak lahir semata-mata karena kualitas permainan mereka, tetapi juga karena adanya rasa “kesamaan nasib simbolik” di tengah dominasi budaya Barat dalam olahraga internasional.
Media sosial memperkuat fenomena tersebut. Dalam era digital, kemenangan olahraga tidak lagi berhenti di stadion, melainkan berubah menjadi narasi global yang diproduksi dan direproduksi melalui internet. Dalam perspektif Manuel Castells tentang “network society,” kemenangan Maroko menjadi viral karena masyarakat dunia Islam membangun ruang solidaritas virtual yang melampaui batas negara.
Dukungan kepada Maroko tersebar melalui unggahan, video, meme, dan diskusi daring yang membentuk identitas kolektif baru. Maroko tidak lagi hanya mewakili warga negaranya sendiri, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi masyarakat Muslim global.
Selain itu, keberhasilan Maroko juga membuktikan bahwa identitas keislaman tidak bertentangan dengan modernitas dan profesionalisme olahraga. Selama bertahun-tahun, masyarakat Muslim sering digambarkan dalam media global melalui narasi konflik, keterbelakangan, dan ekstremisme. Edward Said dalam teori orientalisme menjelaskan bagaimana dunia Timur sering dikonstruksi secara negatif oleh Barat. Dalam konteks tersebut, kemenangan Maroko menghadirkan citra alternatif tentang dunia Islam: disiplin, modern, kompetitif, dan mampu bersaing di level tertinggi dunia.
Hal ini sangat relevan bagi Indonesia. Sebagai negara Muslim besar yang masih berjuang meningkatkan kualitas sepak bola nasional, keberhasilan Maroko menjadi inspirasi bahwa identitas Islam tidak menghalangi kemajuan olahraga. Justru, nilai-nilai kolektivitas, disiplin, solidaritas, dan spiritualitas dapat menjadi modal sosial yang kuat dalam membangun prestasi. Dalam teori modal sosial Robert Putnam, jaringan solidaritas dan kepercayaan sosial memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan kolektif. Maroko memperlihatkan bagaimana semangat kebangsaan dan identitas religius dapat berjalan beriringan dalam membentuk mentalitas juara.
Lebih jauh lagi, kemenangan Maroko juga mengandung dimensi postkolonial yang penting. Maroko pernah mengalami kolonialisme Prancis dan Spanyol, sementara Belanda merupakan salah satu simbol kekuatan kolonial Eropa. Walaupun pertandingan sepak bola tidak bisa disederhanakan sebagai perang politik, memori historis kolonial tetap hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat. Karena itu, kemenangan Maroko secara simbolik dapat dibaca sebagai bentuk “dekolonisasi psikologis,” yakni keberhasilan negara bekas jajahan menantang superioritas negara-negara Eropa di panggung dunia.
Dalam teori postkolonial Frantz Fanon, masyarakat terjajah sering mengalami inferioritas akibat dominasi budaya kolonial. Prestasi olahraga internasional dapat menjadi sarana untuk merebut kembali harga diri kolektif. Ketika Maroko mengalahkan Belanda, yang muncul bukan hanya kegembiraan olahraga, tetapi juga rasa bangga bahwa negara Afrika dan Muslim mampu berdiri sejajar dengan kekuatan dunia. Perasaan semacam ini juga dirasakan oleh banyak masyarakat Indonesia yang memiliki pengalaman sejarah kolonialisme panjang.
Namun demikian, kemenangan Maroko seharusnya tidak hanya dipahami secara emosional atau romantik identitas semata. Yang lebih penting adalah bagaimana keberhasilan tersebut dibangun melalui sistem yang serius: pembinaan usia muda, diaspora pemain berkualitas, manajemen federasi yang profesional, dan investasi jangka panjang dalam olahraga. Dalam perspektif sosiologi modernisasi, keberhasilan sebuah bangsa tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses institusionalisasi yang panjang dan terencana.
Maroko menunjukkan bahwa negara Muslim mampu membangun sistem olahraga modern tanpa harus kehilangan identitas budaya dan religiusnya. Ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Selama ini, sepak bola Indonesia sering terjebak dalam euforia sesaat tanpa pembangunan struktur yang kuat. Padahal, kemenangan besar selalu lahir dari kombinasi antara visi jangka panjang, tata kelola profesional, dan dukungan sosial yang sehat.
Akhirnya, kemenangan Maroko atas Belanda adalah peristiwa yang melampaui sepak bola itu sendiri. Ia adalah simbol perubahan lanskap global, simbol kebangkitan negara-negara pinggiran, sekaligus simbol harapan bagi masyarakat Muslim dunia. Bagi Indonesia, kemenangan itu menghadirkan refleksi bahwa identitas Islam bukan penghalang untuk maju dan bersaing di panggung internasional. Sebaliknya, ketika identitas tersebut dipadukan dengan modernitas, profesionalisme, dan solidaritas sosial yang kuat, ia dapat menjadi energi besar untuk membangun prestasi kolektif.
Maroko telah menunjukkan kepada dunia bahwa sepak bola bukan hanya tentang siapa yang paling kaya atau paling lama berkuasa. Sepak bola juga tentang keberanian meruntuhkan hegemoni, membangun harga diri kolektif, dan membuktikan bahwa negara-negara yang selama ini dipandang sebelah mata mampu berdiri sejajar dengan kekuatan global. Dalam gema kemenangan itu, banyak masyarakat Indonesia melihat bukan hanya kemenangan Maroko, tetapi juga cermin harapan bagi dunia Islam yang ingin dihormati melalui prestasi, bukan stereotip.
Penulis adalah Dosen Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara dan Penikmat Sepak Bola