Perancis v Senegal, Luka 2002 Langsung Terbuka

redaksi
16 Jun 2026 15:04
3 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – Tidak banyak pertandingan fase grup Piala Dunia yang sarat emosi dan sejarah seperti duel Prancis melawan Senegal di Grup I Piala Dunia 2026. Saat kedua tim bertemu di Stadion New York-New Jersey, East Rutherford, Rabu (17/6/2026), yang dipertaruhkan bukan hanya tiga poin, tetapi juga kenangan pahit yang masih membekas bagi Les Bleus sejak 24 tahun silam.

Bagi publik Prancis, Senegal adalah nama yang mengingatkan mereka pada salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah sepak bola negaranya. Pada laga pembuka Piala Dunia 2002 di Seoul, juara bertahan Prancis secara mengejutkan tumbang 0-1 dari Senegal melalui gol mendiang Papa Bouba Diop. Kekalahan itu menjadi awal kehancuran Les Bleus yang akhirnya tersingkir di fase grup tanpa mencetak satu gol pun.

Kini sejarah mempertemukan mereka kembali di panggung yang sama. Meski pelatih Prancis Didier Deschamps menegaskan pertandingan ini bukan ajang balas dendam, atmosfer yang mengiringi laga membuat memori 2002 sulit diabaikan. Bahkan media-media Eropa masih menjadikan kemenangan Senegal tersebut sebagai salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia.

“Kami akan menulis cerita yang baru,” kata Deschamps menjelang pertandingan. Namun bagi banyak pendukung Prancis, kemenangan atas Senegal tetap memiliki makna simbolis yang berbeda dibanding laga fase grup biasa.

Di sisi lain, Senegal datang dengan rasa percaya diri tinggi. Pelatih Pape Thiaw merupakan bagian dari skuad Senegal yang menciptakan sensasi pada 2002. Kini ia kembali menghadapi Prancis, tetapi sebagai arsitek tim dari pinggir lapangan. Thiaw menilai sepak bola Afrika telah berkembang jauh dan Senegal tidak lagi dianggap sebagai tim kejutan.

Secara kualitas skuad, Prancis tetap lebih unggul. Les Bleus memiliki deretan pemain elite seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, Adrien Rabiot hingga N’Golo Kante. Dengan materi pemain tersebut, Prancis diperkirakan menguasai jalannya pertandingan melalui dominasi penguasaan bola dan tekanan sejak menit awal.

Deschamps kemungkinan mempertahankan pola permainan menyerang dengan mengandalkan kecepatan Mbappe dan kreativitas lini kedua. Prancis diprediksi akan berusaha mencetak gol cepat agar tidak memberi ruang bagi Senegal untuk membangun kepercayaan diri seperti yang terjadi pada 2002.

Sebaliknya, Senegal berpotensi mengandalkan pendekatan yang lebih pragmatis. Dengan kekuatan fisik, organisasi pertahanan yang solid, serta pengalaman pemain seperti Sadio Mane dan Kalidou Koulibaly, Lions of Teranga kemungkinan menunggu momentum melalui serangan balik cepat dan bola-bola langsung ke depan.

Secara statistik, ini baru menjadi pertemuan kedua kedua negara di Piala Dunia. Pertemuan pertama pada 31 Mei 2002 dimenangkan Senegal dengan skor 1-0. Hingga kini, hasil tersebut masih menjadi satu-satunya catatan resmi pertemuan kedua tim di ajang Piala Dunia.

Meski Senegal memiliki sejarah indah saat menghadapi Prancis, kondisi saat ini berbeda. Kedalaman skuad, kualitas individu, dan pengalaman Prancis di level tertinggi membuat mereka tetap menjadi favorit. Namun bayang-bayang 2002 bisa menjadi tekanan tersendiri jika Les Bleus gagal memanfaatkan peluang pada awal pertandingan.

Laga diperkirakan berlangsung ketat pada babak pertama sebelum kualitas individu pemain Prancis mulai membuat perbedaan pada babak kedua. (Reza)