Rico Waas: Ulama Jangan Dijadikan Objek Kepentingan Sesaat

redaksi
17 Jun 2026 19:57
Medan News 0 1
3 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan pentingnya menjalin hubungan yang erat dan berkelanjutan dengan ulama.

Menurutnya, ulama tidak boleh dijadikan objek kepentingan sesaat yang hanya dicari ketika pemerintah menghadapi persoalan tertentu.

Hal itu disampaikan Rico Waas saat menjamu makan siang bersama tim Haflah Khas Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan, Selasa (16/6/2026).

“Ulama jangan kita jadikan sebuah objek tertentu, digunakan hanya pada saat-saat tertentu. Misalnya ketika terpojok pada satu hal, lalu hanya diharapkan karena butuh saran pada waktu tertentu,” kata Rico Waas.

Dalam suasana yang berlangsung hangat dan bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Rico menilai kehadiran ulama sangat penting sebagai penuntun moral dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Ia mengakui setiap pemimpin, baik kepala daerah maupun pejabat pemerintahan lainnya, merupakan manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan.

Karena itu, pendampingan ulama dibutuhkan agar arah kebijakan dan pelayanan kepada masyarakat tetap berada di jalur yang benar.

“Pimpinan ini bisa lurus kalau didampingi oleh ulama. Manusia bisa jatuh kapan saja, bisa salah kapan saja, khilaf kapan saja,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rico juga mengajak seluruh pihak menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum refleksi diri. Menurutnya, seorang pemimpin sejatinya adalah pelayan masyarakat, bukan sosok yang harus dihormati secara berlebihan.

“Menjadi pimpinan ini apa sebenarnya? Bos kah? Orang yang menyuruh-nyuruh kah? Di tahun baru ini mari kita refleksikan diri. Pimpinan itu menurut saya adalah pelayan masyarakat, bukan untuk dielu-elukan,” tegasnya.

Rico juga menekankan pentingnya membangun pemerintahan yang inklusif dan terbuka terhadap seluruh lapisan masyarakat.

Menurutnya, sekat-sekat eksklusivitas harus dihilangkan agar pemerintah semakin dekat dengan warga.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan yang diberikan Wali Kota Medan kepada MUI selama ini.
Menurut Hasan, hubungan harmonis yang terjalin antara Pemerintah Kota Medan dan MUI memberikan semangat baru bagi para pengurus dalam menjalankan tugas keumatan.

“Ini bukan perasaan saya sendiri, Pak Wali. Oleh karena itu sekali lagi terima kasih. Takzim kami kepada Pak Wali. Apalagi hari ini setelah doa bersama, kami juga diajak makan bersama. Alhamdulillah,” ujar Hasan.

Hasan menjelaskan MUI memiliki tiga fungsi utama, yakni Khidmatul Ummah atau melayani umat, Himayatul Ummah atau melindungi umat, serta Shodiqul Hukumah sebagai mitra pemerintah.
Ia menegaskan MUI tidak berada pada posisi berseberangan dengan pemerintah, melainkan hadir untuk memberikan masukan, bimbingan, dan arahan demi terciptanya kehidupan sosial, keagamaan, dan pemerintahan yang harmonis.

“MUI tidak akan pernah berseberangan dengan pemerintah. Peran kami adalah memberikan masukan, tausiah, bimbingan, dan arahan agar kehidupan keberagamaan, sosial, dan pemerintahan dapat berjalan bersama dengan umat. Dalam hal ini MUI hadir sebagai mediator,” pungkasnya. (Reza)