PT Inalum (Persero) memperkuat hilirisasi industri aluminium nasional dengan mengintegrasikan pengolahan bahan baku, produksi aluminium, hingga pengembangan produk turunan.
MEDAN, kaldera.id – PT Inalum (Persero) memperkuat hilirisasi industri aluminium nasional dengan mengintegrasikan pengolahan bahan baku, produksi aluminium, hingga pengembangan produk turunan. Perusahaan juga mengandalkan energi listrik dari pembangkit tenaga air untuk menekan jejak karbon produksinya.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Media Mind Inalum yang memasuki tahun kelima dengan tema “Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri”.
Kepala Departemen Manajemen Komunikasi Inalum, Utrich Fanzah, mengatakan proses bisnis perusahaan mencakup rantai pengolahan dari bauksit menjadi alumina, kemudian alumina menjadi aluminium, hingga pengembangan produk turunannya.
“Di sinilah peran Inalum sebagai satu-satunya produsen green aluminium di Indonesia,” kata Utrich.
Menurutnya, konsep tersebut menjadi bagian dari upaya Inalum memperkuat industri aluminium nasional sekaligus menjawab tuntutan industri global terhadap produk dengan jejak karbon lebih rendah.
Dalam pengembangan ekosistem hilirisasi, Inalum kini didukung sejumlah anak usaha dan perusahaan yang berada dalam ekosistem bisnisnya. Borneo Aluminium Indonesia (BAI) mengolah bauksit asal Kalimantan menjadi alumina untuk memasok bahan baku produksi aluminium.
Sementara Inalum Alloy diarahkan pada pengembangan industri sekunder aluminium. Sinergi Mitra Lestari bergerak di bidang logistik, pengelolaan limbah, dan layanan pendukung, sedangkan Indonesia Battery Corporation (IBC) dikembangkan untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.
Kepala Grup Layanan Strategis Inalum, Daniel J.P. Hutahuruk, mengatakan penguatan rantai pasok dalam negeri menjadi bagian penting dari strategi hilirisasi perusahaan.
“Dengan adanya Borneo Aluminium Indonesia, bahan baku utama Inalum kini telah 100 persen terserap dari dalam negeri,” ujarnya.
Dari sisi energi, Inalum mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas terpasang 603 megawatt di Paritohan yang memanfaatkan aliran Sungai Asahan.
Pasokan listrik berbasis energi air tersebut menjadi salah satu keunggulan Inalum karena memberikan sumber energi yang lebih rendah emisi untuk mendukung proses produksi aluminium.
Daniel mengatakan faktor energi menjadi semakin penting di tengah industri global yang mulai memperhitungkan jejak karbon dalam rantai pasok produk.
Di sisi keberlanjutan, Inalum mengklaim telah meraih PROPER Emas selama empat tahun berturut-turut dan mengantongi sertifikasi Aluminium Stewardship Initiative (ASI).
Perusahaan juga menjalankan program konservasi di kawasan tangkapan air Danau Toba, termasuk penanaman pohon sekitar 500 hektare setiap tahun serta pembentukan Masyarakat Peduli Api.
Selain membahas hilirisasi dan keberlanjutan, kegiatan Media Mind juga menjadi ruang Inalum memperkuat hubungan dengan insan pers melalui program In-Jurnal (Inalum Jurnalistik) yang memasuki Chapter 3 pada September 2026. (Reza)