Sedekah Sampah, 248 Siswa Bantu 12 Anak Yatim Sekolah

redaksi
3 Nov 2026 10:40
Medan News 0 6
2 menit membaca

 

BATUBARA, kaldera.id – Botol plastik, kaleng, dan kardus bekas yang dikumpulkan siswa MIS Al Mukhlisin, Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, tidak sekadar menjadi barang buangan. Sampah tersebut dihimpun dan dijual untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah 12 anak yatim dari keluarga kurang mampu.

Program bertajuk “Sedekah Sampah Bantu Anak Yatim Sekolah” ini melibatkan 248 siswa dari total 406 peserta didik MIS Al Mukhlisin. Mereka mengumpulkan sampah anorganik yang hasil penjualannya akan digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah, seperti tas, seragam, dan sepatu bagi teman-teman mereka yang membutuhkan.

Program ini digagas Bank Sampah Berseri, kelompok binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), bersama MIS Al Mukhlisin.

Sampah dikumpulkan melalui tempat penampungan yang disediakan di setiap kelas. Petugas Bank Sampah Berseri melakukan penimbangan setiap Rabu dan Sabtu sebelum sampah dibawa ke bank sampah untuk dijual.



Pengumpulan sampah ditargetkan mencapai 35 kilogram setiap bulan. Hasil penjualannya tidak dicatat sebagai tabungan masing-masing siswa, tetapi dihimpun sebagai sedekah untuk membantu kebutuhan pendidikan anak yatim.

Pembina Bank Sampah Berseri, Dedi Syahputra, mengatakan program tersebut ingin menanamkan pemahaman kepada anak-anak bahwa berbagi tidak harus selalu menggunakan uang.

“Sedekah sampah ini harapannya untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak bahwa sedekah itu tidak harus uang. Mereka bisa membantu sesama kawannya dan bertanggung jawab dengan sampahnya,” ujar Dedi.

Kepala MIS Al Mukhlisin, Devi Apriani, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengatakan berapa pun hasil penjualan sampah nantinya akan dimanfaatkan untuk membeli perlengkapan sekolah bagi siswa yatim yang menjadi penerima bantuan.

“Berapapun yang kami dapat dari bank sampah, nanti juga kami belikan tas sekolah atau sepatu, yang bermanfaat untuk anak-anak itu,” kata Devi.

Kepala Departemen Pemberdayaan Masyarakat INALUM, Ali Hasian, mengapresiasi program tersebut karena menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan bantuan sosial yang manfaatnya langsung dirasakan anak-anak.

Menurutnya, kegiatan ini mengajarkan siswa bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai masih dapat dimanfaatkan untuk membantu orang lain.

Bank Sampah Berseri sendiri mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkular. Selain mengumpulkan dan menjual sampah anorganik, kelompok binaan INALUM tersebut juga menjalankan kegiatan produktif, seperti hidroponik, peternakan ayam petelur, budidaya maggot, dan perikanan.

Sistem pengelolaan tersebut sebelumnya mendapat apresiasi dari Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, karena menghubungkan sejumlah kegiatan produktif dalam satu sistem yang saling mendukung.

Melalui program Sedekah Sampah, manfaat pengelolaan lingkungan kini diperluas hingga ke bidang pendidikan. Sampah yang dikumpulkan siswa menjadi sarana belajar memilah limbah sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap teman yang membutuhkan.  (Reza)